Gowes Tanjakan Pesantren yang Ekstrem ke Jonggol Garden Syar’i

Hari pertama di 2019, saya sengaja memilih tantangan pertama di awal tahun yang baru ini dengan gowes menaklukkan tanjakan pesantren yang terkenal ekstrem saat menuju ke Jonggol Garden Syar’i. Berhasil ? hohohoho…silahkan simak kelanjutan cerita saya di bawah ini deh.

Sebagai permulaan baiklah saya perkenalkan dulu apa itu Jonggol Garden Syar’i. Ini adalah spot wisata panjat sosial (hehehe) atau istilah kerennya wisata swa foto  yang cukup terkenal di seputaran Bogor dan Jonggol. Cerita saya yang lebih lengkap saat mengunjungi lokasi ini sebelumnya bisa dilihat di postingan saya di sini.

Nah..untuk diketahui. Jonggol garden ini berada di ketinggian 300 an meter di atas permukaan laut. Karena itulah pengunjung bermotor harus menanjak sekitar 10 km dari pertigaan Jonggol -Cianjur yang dekat dengan  gerbang perumahan Citra Indah. Untuk yang hobi gowes, biasanya lebih senang lewat jalur pedesaaan di belakang Taman Buah Mekar Sari melalui persawahan dekat mata air Sodong yang sangat menyejukkan mata. Nah kenapa saya sebut ada tanjakan ekstrem di sana? Ya karena ada satu jalur pintas bagi pesepeda yang ingin memangkas jarak tempuh dari Sodong hingga ke dekat Jonggol Garden dengan melalui satu pesantren. Yang mana setelah kita melewati pesantren tersebut. Akan disuguhkan pemandangan sawah terasering seperti di Bali sebelum menanjak sejauh 1 km dengan total ketinggian 200m. Jadi kalau diubah menjadi grade persentase elevasi ya sekitar 200m/1000m x 100% , atau sama dengan 20% gradenya. Ekstrem kah ? Bagi saya ya ekstrem banget, lha wong dulu pernah lewat sini bareng goweser lain saat ada event Jonggol Cross Country saja banyak menemui goweser yang berhenti di tengah sambil ngap-ngapan kok. hehehe. Gak percaya ya silahkan dicoba sendiri lah.

Kembali ke cerita saya. Hari itu hari pertama di 2019 saya ingin memulai tahun dengan aktivitas gowes. Harapan saya sih simple saja. Supaya bisa menjadi pembuka tahun dengan diikuti petualangan-petualangan lain yang lebih menyenangkan ke depannya. Jadilah pagi itu saat jam di dinding saya lihat masih di angka enam saya keluarkan Patrol saya menuju keluar perumahan ke arah jalan Rawa Ilat di belakang Taman Buah Mekar Sari. Pagi itu awan  terlihat sedikit gelap menggantung dilangit. Saya tidak banyak berpapasan dengan goweser sepanjang jalan rawa ilat dan Kelapa Nunggal ini. Mungkin sisa kantuk pergantian tahun masih menggelayuti orang-orang di pagi itu. Apalagi pagi itu terlihat kurang cerah, cocoklah untuk menarik kembali selimut di atas kasur yang nyaman.

Persawahan menghijau di jalur ke Sodong

Saat mulai memasuki desa Linggar Mukti , udara persawahan yang segar dengan hijaunya tanaman padi mengisi paru-paru untuk pertama kali di tahun 2019 ini. Sepertinya pilihan untuk gowes sebagai pembuka tahun bukanlah pilihan yang jelek. Saya merasa fresh pagi itu dan semangat terkumpulkan kembali untuk menerima tantangan baru di tahun ini. Dan tantangan pertama yang terdekat adalah melewati tanjakan Sodong yang cukup menguras tenaga. Dulu awal-awal nanjak di sini saya harus berhenti istirahat di tengahnya. Namun karena gowes rutin walau seminggu sekali yang saya lakukan. Tanjakan ini sudah bisa saya lalui mulus saja tanpa istirahat.  Banggakah saya sodara-sodara pembaca ?Tentu saja tidak..apalagi pagi itu saat saya sedang menikmati kayuhan nanjak saya. Tiba-tiba saya di salip oleh seorang goweser.. Kagum dengan tenaga si om tersebut spontan saya tabik berikan salam hormat pada si om yang kebetulan berhenti di atas tanjakan sodong ini. “Keren om..dengkulnya upgrade di mana itu ?” hehehe. dari basa basi tersebut akhirnya saya bisa berkenalan dengan si om dan teman-temannya yang berangkat gowes dari Kelapa Nunggal dekat situ saja. Dan mereka pun membersamai saya turun menuju ke warung Sodong untuk istarahat dan sarapan pagi.

Sekitar 30 menit saya dengan rombongan om Eman dari Kelapa Nunggal beristirahat di warung Sodong itu. Indomie telor dengan suwiran ayam goreng dan tahu terasa sangat lezat di pagi yang agak mendung dan dingin itu. Ditemani segelas susu jahe panas, indah sekali rasanya gowes pertama tahun 2019 ini. Karbo loading kami terasa sudah cukup dengan ditingkahi beberapa obrolan hangat ini itu tentang dunia sepedaan saya pun berlima dengan rombongannya om Eman meluncur naik perbukitan Sodong menuju tanjakan pesantren yang terkenal ekstrem di Jonggol itu.

Kembali ke selera asal. Indomie telor dan tahu.
Goweser mah gini. Salaman dulu sebelum pesen makan

Gowes rolling naik dan turun selama 20 menit hingga ke awal tanjakan pesantren terasa sangat cepat karena saya habiskan dengan ngobrol dengan om Eman yang goweser tangguh ini.  Beliau sudah kaya pengalaman dengan semua tanjakan yang ada di wilayah bogor ini sepertinya. Sepedanya pun Thrill Ravage yang menggunakan sprocket gigi 46 . Anti nuntun di tanjakan lah semestinya. Yang menarik adalah testimoni om Eman ini yang sudah berumur hampir kepala lima, segala keluhan kolesterol, gula yang dia derita sudah menghilang seiring dengan rutinnya dia bersepeda setiap seminggu sekali. Testimoni yang inspiratif buat saya untuk mempertahankan semangat hobi bergowes saya nih jadinya.

Rombongan om Eman dari kelapa nunggal yang kali ini saya bersamai.
Sepeda om Eman dengan Thrill Ravage sprocket 46 nya. Anti nuntun nih.

Kami harus mengakhiri obrolan hangat kami saat teman-teman om Eman sudah tampak menunggu di sebuah belokan menuju gerbang sebuah pesantren di kanan jalan. Tampaknya kita akan segera memasuki tanjakan pesantren yang tersohor ini nih.

Di awal jalan masuk kita melalui kompleks bangunan pesantren yang saat itu terlihat sepi karena masih libur panjang. Kemudian naik ke atas sedikit kita tiba di tengah persawahan teras sering seperti di pulau Bali dengan pemandangan bukit kecil di belakangnya, sungguh indah sekali pemandangan di sini.

Sawah lagi sawah lagi.. Tapi setelah melewati pesantren. Sawahnya ada yang berundak loh.

Tapi itu tak lama, Karena kita kemudian harus mulai menanjak sekitar 1 km hingga beralih ke ketinggian dari 100m ke 300 meter. Hari pertama di 2019 kok sudah menyiksa betis dan jantung nih hadeuuh.  Sepertiga tanjakan aman-aman saja saya lewati, sepertiga kedua dengkul sudah terasa lebih tebal. Berhenti istirahat dulu di dua pertiga tanjakan ini untuk ngelemesin dengkul dan narik nafas dalam-dalam lagi. Yak..setelah cukup istirahat saya pun lanjut gowes nanjak lagi .

Tanjakan pesantren yang saat ini sudah dibeton cor.

Tapi alamak…jantung benar-benar terasa panas dan kayuhan pun terasa melemah saat akan mengakhiri tanjakan ini kira-kira 50 meter sebelum tiba di ujung tanjakan. Akhirnya saya pun menyerah. Eman-eman dengan jantung saya, saya pun menuntun sepeda sedikit saja menuju ke ujung tanjakannya di mana om Eman dan teman-temannya sudah menunggu di sana sejak tadi. Sungguh hebat lah mereka, mungkin sudah sering lewat tanjakan ini jadi dengkul dan jantungnya sangatlah terlatih.

Tak beberapa lama setelah saya sampai, rombongan om Eman pun kemudian turun kembali ke arah Sodong melalui jalan aspal biasa jalur Cibodas Sodong. Mereka harus masuk kerja shift dua katanya. Dan saya pun lanjut mengayuh Patrol saya menuju Jonggol Garden seperti yang saya niatkan sejak awal.

Dari ujung tanjakan pesantren tadi, pertigaan Kantor Desa Cibodas tersisa sekitar 1 km saja dengan kontur yang masih menanjak tipis dan manusiawi. Saya pun berbelok kanan masuk ke jalanan di samping kantor desa cibodas melewati gerbang retribusi dengan melenggang bebas. Alhamdulillah sepeda tidak dipungut retribusi untuk masuk ke gerbang jalan Jonggol Garden. Satu kilometer setelah pertigaan Cibodas ini saya pun tiba di gerbang masuk Jonggol Garden Syar’i.  Alhamdulillah saya lihat jam tangan saya menunjukkan pukul sembilan lewat sembilan menit saat tiba di sini. Artinya 3 jam saya butuhkan sejak dari rumah hingga sampai di Jonggol Garden termasuk dengan istirahat di Sodongnya. Bukan suatu catatan yang cepat sih. Setidaknya ini bisa jadi referensi untuk latihan meninggkatkan kecepatan mengayuh di gowes-gowes mendatang.

Saat libur tahun baru itu setiap pengunjung harus membayar Rp 20 ribu rupiah untuk masuk ke sana, tidak terkecuali untuk yang membawa sepeda. Naik 5 ribu dari tarif biasanya. Tapi tak apalah. Asalkan benar-benar untuk membangun fasilitas rekreasi di sini. Tiket sebesar itu semoga sepadan dengan pemandangan dan fasilitas yang ditawarkan.

Memasuki Jonggol Garden pengunjung pertama kali disuguhkan dengan plang nama Jonggol Garden Syar’i setinggi 5 meteran dengan miniatur menara Eiffel di belakangnya. Paris van Jonggol demikian yang saya bisa tangkap melalui landscape ini . Jika cuaca langitnya bagus, berfoto di bawah miniatur menara Eiffel ini sepertinya akan berkesan dramatis dan cukup untuk menambah koleksi foto-foto instagrammable pengunjung. Dan saya pun tidak lupa mengambil beberapa pose si Patrol di lokasi ini sebagai penanda bahwa saya sudah pernah sampai di sini menggunakan sepeda. Tak sampai setengah jam di sini , saya pun meyudahi kunjungan ke Jonggol Garden kali ini, sebelum pengunjung makin memadati kompleks dan terheran-heran dengan nyasarnya goweser ke kompleks wisata ini.  Perjalanan pulang saya pilih turun melalui jalan aspal melalui warung desi dan terus turun hingga ke pertigaan jalan Jonggol Cileungsi. Kemudian belok ke kiri menuju arah Cileungsi. Sepeda saya kayuh di antara padatnya kendaraan yang lalu lalang di libur tahun baru ini dengan beberapa titik mesti gowes pelan-pelan karena kemacetan. Akhirnya saya pun tiba di rumah saat masih pukul 10.30 pagi dengan total jarak tempuh 39 km tercatat di Strava saya. Benar-benar awal tahun yang penuh semangat dan kayuhan dan semoga selalu bisa konsisten mengayuh di sepanjang tahun.

Sepeda saja sudah sampai Paris. Kamu kapan?

Iklan

5 Comments Add yours

  1. Sekar berkata:

    Haha seruu yaa sesama kaum gowes. Jadi inget kalo nanjak gunung juga begitu. Ketemu orang baru kayak ketemu sodara. Langsung bisa akrab.

    Saya tuh ya, gara-gara dr kecil nggak dibeliin sepeda jadi pas gedenya naik sepeda masih goyang dombret (nggak lancar) haha.

    Pengen banget bisa traveling pake sepeda begitu. Rasanya kok kayak lebih bebas, nggak harus ribet cari dan nunggu kendaraan umum.

    Suka

    1. kayuhanpedal berkata:

      Ayo mbak.. Cepetan invest dananya ke sepeda. Sehatnya dapet, happynya dapet. Hehe.

      Disukai oleh 1 orang

      1. Sekar berkata:

        Bener ini haha. Insyaa Allah lagi nabung

        Suka

  2. Dyah Ayu Pamela berkata:

    Amazeeedd bgt liat pemandangan sawah-sawah. Btw itu knp namanya ada Syar’i segala ya hahha 😁

    Suka

    1. kayuhanpedal berkata:

      Jonggol memang lumbung padinya bogor sih. Tapi kenapa ada tambahan Syar’inya saya juga baru ngeh. Secara waktu buka pertama dulu masih belum ada tambahan itu.

      Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s