Bersepeda Gunung di Bromo Bersama Rodalink Polygon (Bagian 1)

Seperti kata pepatah : Sejauh-jauhnya bang goweser terbang, akhirnya ke pabrik sepeda juga.

Malam itu 7 November sebuah email masuk dari Rodalink. Isinya memberitahukan bahwa nama saya terpilih untuk ikut dalam event Rodalink Polygon Bromo Bike Tour 2018. Mata yang waktu itu sudah meredup seperti lampu 5 watt langsung seperti jadi petromax yang kena pompa deh.

Cepat saya buka attachment emailnya, detail itenary dan schedule tertulis jelas di sana dengan kop resmi Rodalink. Event 3 hari sejak 23 hingga 25 November tersebut tertulis jadwal Factory tour ke pabrik Rodalink, melihat sunrise di puncak Bromo, dan bersepeda  off road ke tutur welang. Wow..percaya gak percaya esok harinya langsung saya telpon Rodalink untuk memastikan bahwa ini bukan email hoax. Dan jawaban Rodalink memastikan memang nama saya terpilih untuk ikut dalam program CSR Rodalink ini.

Alhamdulillah ya Allah. Memang benar kata pepatah. Sejauh-jauhnya bang goweser terbang. Akhirnya ke pabrik sepeda juga. Hihihihi..

Jadi ini boleh dibilang satu project CSR Rodalink Indonesia dan Rodalink Singapura. Kepesertaannya dipilih dari pendaftar yang lebih awal masuk ke Panitia. Tidak ada ramai-ramai dan gebyar iklan untuk menarik partisipan, karena informasi hanya disebar melalui grup komunitas Rodalink lalu menjadi gethok tular di Singapura.

Total rider dari Singapura yang terpilih ada 8 orang termasuk saya. Dari 8 orang itu hanya saya yang bukan warga Singapura. Dan dari 8 peserta tadi kebanyakan adalah Road biker. Tahu sendiri lah Singapura kan memang tidak punya banyak trek MTB. Makanya penghobi Road bike sangat banyak disini. Kebayang kan betapa dag dig dug dan penasarannya mereka untuk melewati trek MTB di bromo yang kata panitianya masih masuk kategori ‘beginner’.

Acara di Indonesianya benar-benar free and easy. Peserta tidak keluar uang sedikitpun selama di Indonesia, kecuali diharuskan membeli tiket pesawat pulang pergi yang sudah ditentukan jadwalnya. Jadi begitulah.. Siapa yang tidak berminat untuk mengikutinya. Dan akhirnya kami berdelapan pun mempersiapkan diri untuk terbang ke Surabaya jumat pagi 23 November lalu setelah sempat satu kali berkumpul bersama dibriefing oleh Rodalink Singapore.

Hari pertama, Jumat 23 November.

Pukul 6 pagi waktu Singapura, Kami 8 rider (saya, Anthony Chong, Kelvin, John Wong, Matthew dan istri , Wei Jen, Rahim, Fathur Rahman) serta dua staff Rodalink Singapura Eric dan Najib. Sudah siap untuk check in di Bandara Changi. Pesawat Scoot paling pagi take off pukul 7.40 tidak  pakai delay seperti kebanyakan airline di Indonesia. Setelah terbang selama 2 jam di langit yang cerah kami pun tiba di Bandara Juanda. Selepas dari Imigrasi Juanda kami disambut oleh om Giovanno dan om Hendri dari Rodalink Indonesia.

Dari Juanda kami langsung diajak ke pabrik Polygon PT. Insera Sena yang berlokasi di Sidoarjo. Mulai dari sini kegiatan mengasyikkan sambung menyambung diatur oleh Rodalink Indonesia. Pertama tiba di pabrik kami langsung disuguhi makan siang prasmanan nasi tumpeng lalu selanjutnya diputarkan teaser promotion video dari Rodalink.

Tumpengan dulu sebelum memulai factory tour
Teaser video untuk membakar semangat ber MTB.

Sejarah Pabrik Polygon dan Rodalink.

Dari penjelasan om Vano, ternyata PT.Insera Sena sebagai pabrikan sepeda sudah 30 tahun  beroperasi di Sidoarjo.  Komposisi awal produksi mereka adalah 90% OEM (mengerjakan merek-merek punya perusahaan lain) dan 10% merek PT. Insera Sena sendiri. Hingga di tahun 2010 komposisi berubah menjadi 60% merek sendiri dan sisanya adalah OEM.

Rodalink sebagai main distributor PT. Insera  Sena pertama kali membuka cabang toko luar negerinya di Malaysia lalu disusul pembukaan cabang Rodalink Singapura di tahun 1997. Makanya sudah cukup lama sebenarnya merek Polygon bercokol di Singapura. Total 33 negara sudah menjadi tujuan export sepeda Polygon, tapi yang melalui toko Rodalink hanyalah Malaysia dan Singapura. Negara lain hanya melalui dealer lokal dan online order. Di tanah air sendiri Polygon sudah dibilang menjadi sepeda sejuta umat saking banyaknya penggemar dan pemilik Polygon. Malah saat saya blog walking, saya menemukan satu blog polygonowner.wordpress.com ini yang kerap memposting kegiatan bersepedanya di seputaran Jabodetabek.

Awalnya hanya lah tumpukan pipa besi semata.

Kembali ke laptop..setelah makan dan istirahat siang. Kami pun di bawa berkeliling ke dalam pabrik sepeda yang mereknya melegenda di Indonesia ini.  Mulai dari input raw material yang berupa pipa alloy hingga terbentuk menjadi sebuah sepeda ditunjukkan dan dijelaskan kepada kami. Kami menyaksikan mulai dari test ketahanan bahan baku alloynya hingga test ketahanan dan ketangkasan sepeda yang dilakukan di bike park depan pabrik yang sengaja dibangun trek lintasan pendek dengan gundukan untuk jumping-jumping  sepeda. Jelas PT. Insera Sena tidak main-main dalam membentuk kualitas sepeda bikinannya.

Cepat dan teliti. Itulah kesan saya pada pekerja Polygon.
Sentuhan final untuk cat dan sticker.
Kamar pengelasan dengan robot.

Kualitas pengelasan sambungan frame sepeda menjadi hal utama dalam sebuah pabrik sepeda. PT. Insera punya dua metode pengelasan, manual dan robotik, ya robot memang sudah mulai digunakan di pabrik ini agar efisiensi produksi bisa meningkat. Tahap pengecatannya dilakukan dengan cara semprot dan oven, semua proses dijelaskan  dengan detail kepada kami. Sesekali beberapa bagian dari pabrik menjadi area off the record yang terlarang untuk merekam dan memfoto karena ada proses pengerjaan merek OEM yang harus dijaga kerahasiaannya oleh PT. Insera, atau juga karena ada model baru high end type seperti Squareone 2019 yang belum launching ke pasar

Sore harinya kegiatan di pabrik Polygon ini ditutup dengan test ride sepeda MTB di bike park yang terletak di samping pabrik. Buat saya ini adalah kali pertama merasakan nikmatnya sepeda double suspension melibas trek off road dengan rintangan beberapa gundukan tinggi. Beberapa dari kami sengaja melewati sesi test ride ini karena ingin menghemat tenaga untuk kegiatan esok harinya.

Test ride di area pabrik

Pukul 5 sore rombongan kami beranjak dari Sidoarjo menuju Hotel Ancala Inn di Tosari Pasuruan tempat kami bermalam sebelum memulai acara esok harinya di Bromo. Tiba di Ancala Inn hampir pukul 8 malam. Hotelnya cukup bersih dengan kamar yang luas. Dari teras restoran di lantai 2 bisa menyaksikan pemandangan sekeliling hotel yang indah oleh temaram lampu.

Pemandangan malam dari Hotel Ancala Inn

Setelah check in lalu santap malam dalam balutan dinginnya Bromo. Kami pun menyelesaikan hari pertama dengan puas, karena didukung oleh cuaca hari itu yang sangatlah cerah.

Kamar saya saat di Ancala Inn
Kamar mandinya bersih dan ada air hangatnya.

Hari Kedua , Sabtu 24 November.

Pukul 3 dini hari semua sudah berkumpul di restoran hotel. Persiapan menghangatkan badan dengan minuman hangat dan seporsi pop mie terasa mencukupi. Jam 3.30 empat jeep membawa kami ke puncak Bromo tepatnya ke puncak dingklik untuk menyaksikan pesona terbitnya mentari pagi.
Puncak Dingklik sunrise point ini ngeri-ngeri sedap sekali lokasinya. Di atas tebing selebar 5 meter yang memanjang dari utara ke selatan, para pemburu sunrise sabar berdiri atau pun duduk jika memungkinkan, menunggu terbitnya mentari dari ufuk timur. Tapi bahaya juga sih menurut saya lokasi ini, jika tak hati-hati atau terlalu ekstrim mengambil angle kamera, kita bisa terperosok ke bawah jurangnya.

Sunrise view

Foto bisa terhapus. Tapi kenangannya akan selalu tersimpan.
Para Pemburu sunrise Bromo
Selfie menjadi kegiatan wajib di sini.

Selesai melihat sunrise, saya menyempatkan diri menyantap bakso panas di puncak Bromo. Pentolan bakso dan asap panas kuahnya sungguh menarik untuk dinikmati sembari menunggu giliran jeep kami turun menuju savana Bromo.

Makanan paling sedap saat kedinginan. Ya bakso.
Perjalanan turun dari puncak Bromo.

Selanjutnya hingga pukul 7 kami menikmati pesona padang pasir Bromo dengan cuaca yang cukup cerah. Kabut saat itu cepat menghilang dan menyisakan beberapa lapis tipis kabut putih yang menggantung pendek. Buat saya ini memberi efek dramatis sekali ke pemandangan padang pasir dengan latar lereng gunung  yang tinggi.

Pukul 8 lebih kami sudah tiba kembali di hotel untuk mempersiapkan aktivitas utama hari itu: Bersepeda gunung dari puncak Bromo hingga Tutur Welang. [bersambung di sini].

Video klip singkat saat melihat sunrise di Bromo.

 

Iklan

One Comment Add yours

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s