Gowes kuliner malam ke Lau Pa Sat Singapura

“Hungry gowes where?” Istilah kuliner ini sepertinya cocok saya plesetkan untuk membuka cerita gowes kuliner saya jumat malam kemarin. Gowes pp 40 km seusai kerja, meluncur ke pusat kota Singapura untuk sekedar tombo ati melihat para penjual sate di Lau Pa Sat food market.

Bagi wisnus (wisatawan nusantara) yang belum pernah berkunjung ke sini, cobalah datangi saat malam hari. Lau Pa Sat food market berada di Boon Tat Street, jalanan kota yang sibuk di pagi dan siang. Namun saat malam sengaja ditutup dan bertransformasi menjadi pusat jajanan satenya negeri ini. Di siang hari area ini adalah CBD nya Singapura (Central Business District), dan saat malam berubah menjadi SBD (Satay Business District).

Lau Pa Sat yang dalam bahasa Hokkien nya bermakna “Pasar Lama” memang sudah ada sejak Sir Stamford Raffles membangun negeri Singapura 150-an tahun lampau. Sejarah singapura yang ikut di bawa oleh hiruk pikuknya keseharian pedagang di pasar ini membuat lokasi ini ditetapkan sebagai salah satu cagar budaya sekaligus tujuan wisata yang kerap dipromosikan oleh pemerintah setempat.

Jumat itu memang sengaja bike to work ke kantor. Bagian peran serta saya dalam mengurangi polusi bumi secara umum dan mengurangi pengeluaran ongkos saya secara khusus hehehe.

Dari sisi timur Singapura saya mengayuh sepeda yang sudah setia dua tahun menemani di sini. Di mulai dari jalur pedestrian jalan raya yang cukup ramai sore itu, lalu masuk ke East Coast Park. Setelah melewati satu flyover di ujung east coast kayuhan  lalu memasuki Garden By the Bay east entrance dan kemudian menyeberang ke Marina Barrage.

Benar-benar pilihan jalur bersepeda yang nyaman mulai dari ujung timur hingga ke pusat kota Singapura. Kanan kiri taman hijau dan dan pepohonan teduh menemani gowes saya sore itu. Sempat berhenti sejenak di Garden By the Bay entrance untuk menengguk air segar yang mengucur dengan gratis cukup dengan menekan tombol keran minumnya saja. Dahaga hilang kayuhan lalu saya lanjutkan melalui sisi selatan sungai Singapura yang berpemandangan puncak-puncak pohon imitasi di Garden by the bay dan Singapore flyer yang ikonik di sisi seberangnya.

Santai di pinggir sungai

Mampir sejenak untuk menunaikan sholat maghrib di Masjid Maulana Ibrahim yang berada di dekat Merlion Park dan Hotel Fullerton. Kemudian lanjut kembali perjalanan olah raga dan rasa ini menuju tujuan utama gowes malam itu : Lau Pa Sat Food Market.

Lau Pa Sat berada tak jauh dari merlion Park. Kita cukup menyusuri jalan Fullerton yang ada di atasnya, sedikit ke arah barat sekitar satu kilometer. Namun jarak yang dekat itu bukan berarti cepat untuk dicapai, karena banyaknya lampu merah menghadang menjadi kayuhan ini harus sesekali berhenti menanti merah berganti hijau. Akhirnya 15 menit kemudian saya pun sampai di Lau Pa Sat.

Sudah sampai di sini  bukan berarti urusan perut ini cepat mendapatkan solusi. Lau Pa Sat malam itu penuh sekali. Seharusnya memang begitu sih. Pusat jajanan negeri kok sepi lha malah sudah ditutup sejak dari dulu-dulu kan jadinya. Sepeda lalu saya sandarkan dan tak lupa digembok di tiang lampu pinggir jalan.

Jangan lupa gembok sepedanya saat parkir

Mata ini kemudian mulai mencari meja mana yang kosong yang bisa menjadi tempat perut ini berlabuh. Meja-meja persegi warna putih berbaris rapih dari ujung ke ujung jalan Boon Tat Street ini, persis seperti meja-meja di kantin atau pujasera Jakarta. Hanya saja di sini bersuasana al fresco, itu loh tempat makan yang hanya beratapkan langit dan bintang. Tapi di Lau Pa Sat sembari bersantap malam kita dapat menikmati gemerlap lampu gedung-gedung pencakar langit yang menjulang di sekitarnya. Dan setelah sedikit berkeliling akhirnya dapat juga satu meja yang kosong, kemudian petualangan rasa pun dimulai.

Meja yang saya dapat cukup strategis untuk indera cium dan penglihatan malam itu. Dekat dengan gerobak sate dan penjual martabak dan mie India. Saya hitung ada sekitar 10 stand penjual sate berjejer di atas pedestrian jalan. Masing-masing stand mempunyai satu bilik berdinding corak kotak-kotak bermotif warna warni dan bertuliskan nomor standnya. Lampu LED putih terang bersinar dari depan bilik dan atas panggangan sate, membuat asap putih bakaran sate membumbung tebal meliak liuk sebab kibasan kipas yang dipegang oleh pemanggangnya.

Puas menghirup aroma sate yang dibakar dan melihat lalu lalangnya sate-sate di atas piring lebar yang di bawa oleh para pelayan melalui sekitar meja saya, membuat pilihan menu saya malam itu jatuh pada mie goreng India saja. Cepat penyajiannya, nendang kalorinya dan lebih ramah di dompet dan kesehatan jantung, hehehe. Selebihnya biarkan mata kamera ponsel pintar saya saja yang berwisata kuliner di sini.

Santap malam di bawah gemerlap lampu

Sepiring mie goreng habis tak lebih dari sepuluh menit. Benar-benar tak sebanding dengan satu jam lamanya kayuhan saya untuk ke tempat ini. Tapi sebanding lah dengan suasana yang di dapat.  Malam yang sempurna untuk menutup kepenatan pekan ini. Dan kayuhan pulang pun terasa lebih pada wisatanya dibanding olah raganya. karena jalur pulang malam itu melewati patung merlion yang ikonik dengan pemandang malam kota Singapura yang menghipnotis mata dengan gemerlap lampunya.

Gowes malam yang menyenangkan sebagai pengantar tidur malam itu.  Dan semoga kesehatan selalu terlimpah buat para goweser mania dan pembaca blog ini di manapun berada. Amin.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s