Beberapa minggu terakhir di bulan Juni terasa pagi dan malam yang lebih dingin dari biasanya. Beberapa pagi saat memandang keluar pagar rumah pun kabut terlihat menggelayut mesra di atas sawah beberapa puluh meter di depan rumah. Alhamdulillah di dekat rumah memang masih tersisa sepetak persawahan milik warga setempat yang belum sempat terjajah kemajuan kota. Semoga terus terawat sampai anak cucu saya.

Dua minggu setelah masa-masa opordosis lebaran, waktunya untuk bersilaturahmi dengan alam sekitar. Setelah subuh selesai ditunaikan saya siapkan perlengkapan gowes tipis-tipis saya pagi itu. Perlengkapan inti seorang goweser sudah tersiapkan, lampu sepeda sudah terpasang (rencana awal memang akan berangkat sebelum mentari muncul). Di saat terakhir terpikir juga untuk membawa mini tripod, siapa tahu view yang dilewati berharga untuk diabadikan.

Saat jam dinding masih 30 menit selewat pukul 5 sepeda pun menggelinding dari jalan depan rumah. Pagi masih gelap , lampu cateye yang benderang sangat membantu untuk menerangi jalanan sekaligus penanda keberadaan saya bagi lawan dari arah sebaliknya.

Minggu selepas subuh itu di jalan kampung yang mulus udara yang seharusnya benar-benar segar sudah diramaikan oleh beberapa suara knalpot roda dua yang lalu lalang. Tapi lampu mereka justru ikut membantu menerangi jalan yang saya lewati sih.

Di belakang taman buah mekar sari sepeda saya belokkan memasuki kawasan kebun kelapa sawit. Jalanannya masih berupa tanah merah padat dengan tambahan bebatuan kecil rapat di atasnya. Di sini kabut masih tersisa sangat tebal, kendaraan yang lewat tinggal satu -dua saja karena jalanan yang tidak mulus membuat jalan ini sekedar alternatif terakhir buat yang suka adu nyali lewat kebun-kebun sepi.

Gowes asyik tuh ya jauh dari keramaian

Saya belum pernah gowes pagi melewati jalur ini saat kabut masih tebal. Suasana jadi terkesan mistis, tapi yang terlihat oleh mata sangatlah fantastis. Kadang hanya pucuk-pucuk pohon dan puncak menara pemancar BTS saja yang terlihat dibalik kabut ini. Cakep dah..

Mulailah hari dengan pagi mu yang indah

Pagi sudah mulai terang saat itu tapi matahari belum terlihat muncul. Kawasan kebun sawit sudah terlewati, dan sepeda pun kembali memasuki perkampungan. Jalanan yang sudah bersemen mulus membuat bokong ini nyaman di atas sadel. Sepeda pun kembali dapat dipacu maksimal. Keringat mulai deras menetes, nafas yang menderu dan jantung yang kencang berdegup tapi kepala terasa lebih segar. Entah kenapa itu, saya fikir karena darah makin banyak terpompa ke kepala ini dan membawa oksigen dalam selnya sehingga otak menjadi makin fresh, ditambah pagi yang juga fresh ini.

Selepas melewati perkampungan yang rimbun oleh pepohonan dan rumah-rumah berpekarangan luas milik warga. Sepeda meluncur di turunan pendek menuju perbukitan sodong. Saya pun tak bosan-bosannya terkesima saat melewati ini karena mendapati hijaunya persawahan yang diapit oleh dua kampung. Matahari masih rendah, sinarnya yang kemerahan berkilau di atas pucuk-pucuk padi. Perfecto..

Sepeda di tapal batas

Di sini saya menjadi berfikir. Alam yang indah ini diamanahkan oleh Sang Pencipta kepada manusia untuk saling berbagi. Sawah hijau terhampar adalah harmoni alam. Jika sepetak saja keindahan ini oleh ego manusia digantikan menjadi bangunan-bangunan angkuh atas nama kemajuan. Harmoni pun akan goyah. Sawah menjadi bangunan mewah. Yang tadinya ramah di jiwa menjadi asing bagi kita.

Jika saja petani kita mau egois. Mereka bisa bangun itu pagar menjulang mengelilingi sawah-sawah hijau miliknya. Biar keluarga mereka saja yang dapat menikmatinya. Orang lain ? buat apa dipikirkan. Kalau mau sedikit untung mereka akan buat pintu masuk berkarcis untuk dapat menikmati keindahan desa mereka. Dan keindahan alam yang sejatinya untuk semua insan desa dan kota lalu menjadi barang mewah bagi kita warga kota.

Seharusnya kita belajar dari mereka, mampu hidup dari sawah, bukan berarti lalu bergaya hidup mewah. Membeli yang dibutuhkan saja dan menggunakan seperlunya. Akhirnya kelestarian pun terjaga.

Daerah bebas stress. Setuju?

Pagi itu pun saya sudahi dengan gowes secukupnya saja. keringat sudah keluar, pikiran sudah lebih fresh. Pengalaman gowes pagi ini pun terasa cukup dengan gowes tipis-tipis ini. Sepeda pun saya kayuh balik pulang menuju rumah. Siap untuk beraktifitas kembali bersama keluarga. Dan tak sabar menunggu minggu yang baru untuk pengalaman yang baru.