Menghabiskan hari di Jogja dari Bukit Klangon Merapi hingga gumuk pasir Parangtritis

Tahu gak sih kalau dari sisi utara hingga ujung selatan jogja terdapat wisata panorama alam yang sungguh indah? Mulai dari Gunung Merapi di utara hingga pantai parangtritis di selatan sudah sejak lama terkenal sebagai ikon wisata jogja.

Libur lebaran 2018 ini keluarga kami berkunjung ke jogja. Bagaimana cara menghabiskan satu hari yang berkesan di jogja? Kami memilih berwisata dari utara hingga selatannya jogja. Tersusunlah daftar itenary ini : Bantul –  bukit klangon Merapi – Tebing breksi – Malioboro – Pantai parangtritis – Bantul.

Kami pilih tiga lokasi wisata tersebut karena belum pernah kami datangi bersama-sama sebagai keluarga. Sebenarnya ada candi Prambanan juga sih yang bisa kami masukkan dalam daftarnya karena masih dalam satu garis tempuh Merapi ke parangtritis. Tapi Prambanan sudah pernah kami kunjungi, tak apalah kami coret dari daftar kali ini.

Berangkat dari kota bantul pukul 7 pagi setelah sarapan di warung soto daging yang enak dekat lampu merah piringan di jalan raya bantul. Dengan dipandu Google map kami menuju Bukit Klangon Merapi melalui ringroad utara lalu menyusuri jalan solo jogja. Sebelum lokasi candi prambanan kami belok ke utara lewat jalan raya pakem kalasan dan setelah itu setir terus lurus saja hingga tiba di bukit klangon Merapi 30 menit kemudian.

Sejak dari ringroad utara, Gunung Merapi sudah terlihat megah menjulang dari kejauhan. Makin terlihat paripurna pemandangannya setelah belok ke Jalan raya pakem kalasan. Lurus memandang ke depan Merapi terlihat ramah menyambut kami dengan permadani sawah-sawah menghijau di kanan kiri jalan.

Merapi di pagi yang cukup cerah.

5 km sebelum lokasi wisata ini, papan petunjuk lokasi sudah semakin sering terlihat. Di sebelah barat jalur ini ternyata ada jalan menuju makam mbah Maridjan dan sebelah timur kita dapat menuju lokasi gardu pandang kali talang. Setiba di gerbang wisata bukit klangon, bayar tiket masuknya murah banget. 2 ribu rupiah per orang dan parkir mobil hanya 5 rb rupiah.

Dari lokasi parkir puncak Gunung Merapi terlihat jelas dan dekat sekali di depan kami.  Jelas saja, karena lokasi ini memang terletak di lerengnya Merapi sih. Jika ingin lihat pemandangan yang lebih luas atau mau swafoto juga bisa naik ke gardu pandang yang sudah dibangun di sini.

Tepat di kaki merapi

Di dekat warung-warung makan saya lihat tiga buah sepeda downhill produksi Luar negeri tergeletak begitu saja. Saya pikir ini bisa disewakan, ternyata miliknya downhiller yang sedang latihan di Klangon Gravity Park.

Sudah lama sebenarnya sayup2 saya tahu kalau klangon lebih dulu terkenal sebagai lokasi trek sepeda downill yang terbaik di jogja jateng. Ternyata sekarang kesampaian untuk mencapainya bersama keluarga. Next time mungkin saya musti bawa sepeda ke sini nih.

Dari gardu pandang klangon ini puncak Merapi benar-benar terasa dekat sekali. Di sisi selatan kita bisa melihat pemandangannya kota jogja terbentang di bawah. Bicara tentang jarak kota jogja ke klangon. Sebenarnya mungkin hanya sekitar 30 km sih. Tapi karena letaknya yang di ketinggian membuat perjalanan ke sini butuh power mesin kendaraan yang mumpuni. Dan takjubnya.. Pagi itu saya bisa menyaksikan 4 orang goweser yang sukses mencapai bukit klangon setelah gowes 2.5 jam dari kota jogja menggunakan Road bike.

Para penikmat tanjakan

Dari Bukit klangon Merapi kami turun kembali ke jogja menuju tebing breksi. Perjalanan turun yang lancar dan cepat. Mobil turun terus dari klangon hingga tahu-tahu mobil kami sudah ada di pinggir pagar kawasan candi Prambanan dan lalu bertemu kembali dengan jalan jogja solo.

Dari lampu merah Prambanan kami melaju ke selatan melalui jalan Raya Piyungan mengikuti petunjuk arah ke tebing breksi. Di jalan ini juga terdapat candi ratu Boko. Kali ini kami skip dulu candi Boko. Kami berbelok ke arah timur menjauh dari jalan piyungan lalu menanjak ke tebing breksi. 5 km menanjak akhirnya kami tiba di lokasi tebing breksi yang terkenal itu. Untuk masuk lokasi kendaraan roda empat dikenai tarif 5 ribu rupiah dan biaya masuk perpenumpang diminta seikhklasnya saja. Iya benar..gak ada tarif masuk yang memaksa di sini. Benar-benar tarif masuk beruansa kekeluargaan njawani.

Breksi yang kokoh. Jika cuaca cerah Merapi akan terlihat di belakangnya
Ngadem sambil kulineran. Makanannya murah dan enak. Menang banyak lah dari Malioboro.

Ada banyak gazebo atau ngadem saja di teras foodcourtnya.

Kami tiba pukul 11 siang di breksi. Mentari sudah mulai terik sehingga kami cepat-cepat mencari tempat yang teduh di teras foodcourtnya. Di sisi bawah foodcourt yang lebih dekat ke tebing ada sih gazebo-gazebo dengan meja dan kursi. Tapi kalau duduk di gazebonya panas matahari siang itu masih terasa juga. Teras foodcourt adalah pilihan terbaik untuk melewati waktu siang itu di tebing breksi. Lha makanannya murah, gado-gado 11 ribu saja, mie rebus 7 ribu, gorengan cuma seribu. Kelapa muda utuh hanya 15 ribu. Benar-benar harga jogja kan?

Selesai menghabiskan makan siang dan menunaikan sholat kami pun beranjak ke destinasi berikutnya. Kami menuju kawasan Malioboro di kota. Tepatnya adalah pasar beringharjo. Tujuannya : cari oleh-oleh khas jogja.

Jalanan arah ke kota tidak terlalu macet saat itu jadi bisa sampai di parkiran pasar beringharjo dekat jalan ketandan lor di bawah satu jam perjalanan. Ibunya anak-anak cari ini cari itu di los pasar lantai satu. Sedangkan aku dan anak-anakku menghabiskan waktu di Malioboro. Di sana senang, di sini senang jadinya.

Malioboro sekarang jadi lebih ramah bagi pejalan kaki. Trotoar luas dengan kursi-kursi dari kayu atau beton dibangun di bawah lampu penerang jalan tipe deco di sepanjang Malioboro. Berkunjunglah saat Menjelang sore dan habiskan petang di sana. Niscaya nuansa jogja yang romantis akan terserap dalam jiwa.

Jalan ketandan. Chinatownnya Malioboro
Malioboro di sore hari. Selalu bikin kangen.

Selewat ashar kami tuntaskan wisata belanja dan mata di Malioboro ini. Saatnya berpindah ke tujuan yang lebih selatan lagi: Gumuk pasir parangkusumo via jalan parangtritis.

Jalan Raya parangtritis ramai lancar saat itu. Dari arah selatan lebih ramai kendaraan besar yang kembali dari pikniknya di parangtritis. Tak ada kemacetan berarti di perjalanan kami. Walau banyak warung sate klatak yang memang banyak ada di imogiri sudah memanggil-manggil perut lapar kami, mobil terus kami pacu hingga tiba di gerbang wisata parangtritis. Uang 50 ribu pun berpindah tangan ditukar dengan 5 karcis masuk untuk kami. 3 km dari gerbang tersebut kami pun belok ke kanan menuju gumuk pasir parangkusumo.

Satu jam menjelang terbenamnya mentari. Posisi sang surya sudah membulat merah merona di sisi barat bukit pasir yang kami datangi.

Tidak terlalu banyak pengunjung saat itu. Papan sand boarding dan jeep berpenggerak 4 roda berjajar rapih begitu saja di dekat lokasi parkir. Anak-anak kami langsung berjalan menjelajah sekitaran gumuk pasir untuk bermain-main pasir tebal berbalut sinar surya petang yang merah terang.

Menikmati sunset di parangkusumo

Di setiap sisi atas gundukan gumuk pasir selalu ada gazebo yang cukup untuk 5 orang. Jika datang siang hari. Gazebo ini mestinya tempat favorite pengunjung untuk beristirahat sembari menyaksikan aksi-aksi sand boarding di lereng bukit pasir ini. Di tengah padang dua buah ayunan terpasang. Tak jauh dari situ juga ada sebuah lingkaran berbentuk love berhiaskan ornamen bunga sebagai pemanis. Sebuah papan besar bercat merah dengan tulisan GUMUK PASIR berdiri sebagai penanda sekaligus pengingat momen-momen foto di padang pasir ini. Setidaknya yang melihat foto-foto kita di padang pasir ini akan tahu kalau kita tidak sedang tersesat atau bukan sedang di gurun pasir Abu Dhabi sana. Karena Indonesia pun punya lokasi menarik yang sama indahnya untuk dikunjungi. Dan satu jepretan foto saat matahari terbenam menyudahi wisata jogja satu hari itu. Mulai dari klangon Merapi di utara hingga gumuk pasir parangtritis di selatan. Dan kami pun pulang kembali ke tempat menginap kami di Bantul. Terima kasih untuk hari yang cerah ya Allah.

4 Comments Add yours

  1. aryantowijaya berkata:

    Klangonnya apik.
    Wktu aku ke sana Desember lalu, mendung. Pucuk merapinya ndak terlihat

    Suka

    1. kayuhanpedal berkata:

      Alam berbaik hati ke kami kali ini. Tahun lalu kami ke Merapi seharian pun gunungnya tak terlihat karena mendung. Enak yo jadi orang jogja never missed this magnificent view.

      Suka

      1. aryantowijaya berkata:

        Iya e.
        Skrg kalau mau begini aku mesti nyepur dlu 8 jam hihihi

        Disukai oleh 1 orang

      2. aryantowijaya berkata:

        Iya.
        Menatap ke utara, lihat Merapi. Meluncur ke selatan, bertemu samudera kidul.

        Jogja emg top markotop

        Disukai oleh 1 orang

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s