Kabupaten Bogor punya puluhan curug. Salah satunya yang ingin saya tuju dengan menggowes nanjak pakai sepeda adalah curug leuwi hejo di kecamatan sukamakmur. Nah..menuju ke curug leuwi hejo bisa dicapai dari arah Sentul city. Ambil jalan menurun yang bertuliskan arah ke rainbow hills. Lalu belok ke kiri melewati polsek babakan madang. Setelah itu lurus hingga pertigaan yang kiri arah ke pasar dan kanan arah ke gunung pancar.  Ambil yang kanan lalu tetap lurus sampai pertigaan karang tengah dan gunung pancar. Belok kiri dan terus ikuti jalan hingga bertemu plang lokasi curug leuwi hejonya.

Tapi rabu di minggu terakhir maret lalu saya tidak memilih jalur tersebut. Dari jalan raya cileungsi arah citeureup, setelah pertigaan pasar citeureup saya malah ambil belokan ke kiri saat ada plang bertuliskan arah sukamakmur jonggol. Penasaran saja sih..seperti apa rute lewat sini menuju curug leuwi hejo, menjadi alasan keputusan impulsive tersebut.

penunjuk arah ke Curug Leuwi Hejo melalui sukamakmur. Jika lurus akan menuju ke circuit sentul dari citeureup.

Selepas pertigaan ini jalanan relatif tidak padat karena bukan jalan utama di citeureup. Jalannannya sudah tercor dengan baik, belum banyak tanjakan-tanjakan. Masih ramah di dengkul lah. Sana sini masih banyak pabrik-pabrik kecil, belum terlihat secuil pun lahan persawahan.

Lima km kemudian bertemu pertigaan lagi. Plangnya sangat jelas. Jonggol Sukamakmur musti belok kanan, dan saya pun mematuhinya.

Penunjuk arah di tiap pertigaan yang selalu setia menepis ragu

Di jalan ini saya sempat melewati gerbang Kebun Wisata Pasir Mukti Bogor. Berhenti sebentar sambil meneguk air melepas dahaga di pagi yang lumayan terik itu. Kata pak satpam yang sempat saya ajak ngobrol, di dalam kebun buah ini selain wisata agro, ada juga wisata outbond nya. Apa saja wahana outboundnya ? Kata si pak Satpam sih ada banyak, sayangnya pak satpam tidak bisa terlalu jelas dalam menerangkan. Tapi nice info pak, saya catat deh untuk menambah daftar tujuan wisata keluarga saya.

Pernah dengar. Ternyata Kebun Wisata Pasir Mukti ada di sini.

Setelah melewati kebun wisata Pasir Mukti pemandangan mulai di dominasi oleh yang segar-segar. Sawah hijau terhampar, Gunung dan bukit mejulang tegar. Sungguh karunia Maha Kuasa kepada mahluknya di bumi ini. Kalau kita tak pandai merawatnya, bagaimana kita meminta kembali Yang Maha Kuasa untuk memberikannya lagi ? Marilah kita mulai dengan yang sepele saja seperti : tidak membuang sampah sembarangan. Tindakan kecil yang bakal membuat lingkangan bersih dan indah.

Lembah nan menghijau di jalur sukamakmur

Tapi, bentang alam nan indah tidak terbentang begitu saja di atas bumi kan..Lembah, bukit, gunung tidak begitu saja terlukis di permukaan alam untuk kita nikmati dengan mata lahir dan mata batin ini. Selalu ada perjuangan untuk menggapai sesuatu yang indah, dalam perjalanan gowes ini..tantangannya ya tanjakan yang bertubi-tubi terhampar juga di sepanjang jalan. Kalau tak suka tanjakan, ya kau tak akan sampai di puncak. Begitu toh..Jadi ya saya nikmati saja kayuhan demi kayuhan di setiap tanjakan.

Karena saya gowes solo, jadinya tidak ada beban untuk mengatur ritme gowes saya untuk menjaga jarak dengan rombongan lain. Gak perlu takut ketinggalan rombongan , gak ada rasa malu karena sering berhenti mengistirahatkan jantung. Semua saya atur sendiri. Kalau dirasa sanggup sampai ujung tanjakan ya gowes saja terus. Kalau jantung sudah berdetak kencang di tengah tanjakan ya berhenti sak penak’e sampai semua kembali normal. Nuntun ? juga bukan hal tabu lah. Yang penting nikmati setiap jengkal langkah kaki dan tiap putaran roda di alam Sukamakmur yang indah ini.  Walau tanjakan demi tanjakan datang menyiksa..jalani saja. Karena semua juga akan indah pada akhirnya.

Lelah yang terbayar lunas oleh pemandangan dari atas sini.

Dan benar saja..setelah sepuluh km saya gowes di jalur sukamantri ini, belum satu pun saya melihat papan petunjuk arah menuju Curug Leuwi Hejo. Padahal tanjakan masih belum ada habis-habisnya. Syukurlah saat saya mengistirahatkan dengkul. Walau sambil terengah-engah, ternyata pertanyaan yang keluar dari bibir ini masih tertangkap dengan baik oleh ibu-ibu yang sedang ngobrol di pinggir jalan.

“Pak..Curug Leuwi Hejo mah tinggal dikit lagi.. nanti di atas ada bengkel motor kecil yang di seberangnya ada gang , bapak belok situ saja biar cepet sampai curugna..”. kata si Ibunya.

Alhamdulillah..sudah hampir sampai. Pada saat itu panas terik dengan cepat tanpa terasa berubah menjadi mendung dan hujan turun dengan derasnya. Saya pun bergegas mengayuh pedal ini mengikuti petunjuk si ibu hingga ketemu bengkel yang dimaksud. Terlihat gang kecil di seberangnya yang hanya cukup untuk 2 motor berpapasan perlahan. Jalanannya agak menurun sejauh 1 km melewati kampung penduduk hingga akhirnya berujung di sebuah jalan aspal besar. Saya berteduh di teras sebuah toko kelontong bersama seorang ibu yang sudah lebih dulu menghentikan motornya di sana. Di antara deru hujan saya tanyakan beliau kemana arah ke curug leuwi hejo. Walau berisik oleh hujan lamat terdengar kata : “Turun saja ikuti jalan aspal ini ke bawah mas..nanti bertemu gerbangnya”. Alhamdulillah artinya sebentar lagi sampai dong. Tapi hujan masih deras mengguyur, saya gunakan saja waktu menunggu hujan reda sambil beristirahat.

Gak lama tak sampai setengah jam hujan derasnya mereda, saya langsung naik di atas sadel sepeda dan turun mengikuti gravitasi. Lumayan curam turunannya..kebayang nanti pulangnya harus menghadapi jalur ini menjadi tanjakan yang curam. Dan gak sampai 2 menit saya sudah tiba di gerbang wisata curug Leuwi Hejo. Di sebelah kanan gerbang ada warung, mampir sebentar untuk pesan teh panas dan indomie telor karena setelah hujan deras dengan posisi di dataran tinggi kebayang kan dinginnya..hehe ini ceritakuu..mana ceritamu.

Gerbang masuk Curug Leuwi Hejo. Ada warung kecil di dekatnya.

Perut kenyang badan kembali hangat, saya pun masuk ke dalam kawasan wisata curug Leuwi Hejo setelah membayar karcis masuk 25 rb rupiah. Kalau direview kemudian dari peta Strava saya, ternyata saya masuk dari gerbang melalui Jalan Raya Kecibadak arah dari sukamakmur. Terlihat gerbang masuk wisata Leuwi Hejonya Nampak berbeda dengan gerbang yang dari arah gunung pancar seperti foto di postingan blogger lain yang telah berkunjung ke leuwi hejo.

Tapi pemandangan yang terhampar selepas gerbang masuk ini sungguh indah loh. Posisi jalan selebar 1 mobil ini berada di atas lembah. Di mana di sisi kanan jalan yang sudah di semen halus terbentang lembah dengan sawah berundak menghijau dengan pematang sawah meliuk-liuk bagai tarian alam. Di bawahnya mengalir sungai Cileungsi dengan bebatuan besar terserak di tengah sungai. Sajian alam yang sempurna.

Pemandangan di lembah selepas gerbang tiket.

Tapi jalan yang bagus ini harus berujung di kampung penduduk di seberang lembah. Saya harus memarkirkan sepeda saya di teras rumah penduduk bersama-sama dengan motor pengunjung lain yang telah datang. Terpaksa lanjut ke TKP dengan berjalan kaki. Bisa sih menuntun sepeda. Tapi warga yang saya temui di sana menyarankan untuk ditinggal saja sepedanya karena jalan dan bebatuan licin setelah hujan akan menyulitkan jika menuntun sepeda. Ternyata benar, dari parkiran saya masih harus hiking satu km lagi menuju lokasi curug dengan jalanan berkontur naik turun dan berbatu-batu. Sesekali melewati teras rumah penduduk, melompati parit, dan meniti batuan-batuan untuk menyeberang selokan kecil. Dan setelah 1 km kemudian saya bertemu dengan gerbang masuk kedua ke curug leuwi hejo. Di dekatnya ada beberapa bangunan berdinding tripleks yang berfungsi sebagai warung, ada yang sebagai musholla dan ada lagi yang menjadi toilet. Di loket ini petugas masih menarik retribusi lagi 5 ribu rupiah untuk masuk ke lokasi curug. Karena saya masih memegang karcis dari gerbang utama sebelumnya, jadinya tidak perlu membeli tiket masuk di sini, cukup menunjukkan karcis yg telah saya beli sebelumnya.

Di loket ini masih harus bayar 5 ribu rupiah. tak perlu bagi yang sudah bayar 25 ribu di gerbang utama.

Lokasi curug setelah pintu loket hanya berjarak 10 meter, hawa yang dingin dan suara gemuruh air terjun dari curug leuwi hejo seakan membersihkan kotoran-kotoran dan penat yang melekat di badan dan kepala saya. Duduk sejenak di geladak kayu di atas sungai  sambil menikmati curug yang tidak terlau ramai di hari kerja. Batu-batu besar yang memecah derasnya aliran air. Sepasang muda mudi berbasah basah terlihat di atas batu besar duduk bersebelah sebelahan sambil berbincang mesra dengan sesekali tawanya memecah suasana. Seakan curug mereka berdua deh. yang lainnya cuma dedemit. hehehe.

Tapi gak bohong..kalau penat hidup di Jakarta dengan kepadatan dan hiruk pikuk macetnya. Berpetualang di akhir pekan menuju tempat-tempat seperti curug leuwi hejo ini benar-benar terapi jiwa yang murah meriah. Tinggal injak gas kendaraan kalian atau kayuh pedal kalian. Jelajahi alam sekitar mu, temukan hijaunya alam dan kicau burung di hutan. Senin depannya kamu siap beraktivitas kembali sebagai manusia modern dengan segenap tanggung jawab dan rencana-rencana. Coba deh..