Gowes Selusur Jalur Persawahan Linggar Mukti Bogor

Indonesia negara agraris, demikian dahulu pak guru dan bu guru selalu mengingatkan saya dan teman-teman saat di depan kelas. Indonesia pernah jaya mengekspor beras karena rimbunnya batang padi diantara pematang. Namun kini sawah-sawah kian menghilang. Terganti oleh rumah dan pabrik menjulang.

Sebelum semuanya hilang, dan jangan sampai dimulai dari daerah kami punya pematang. Saya ingin bersering-sering menikmati hijaunya pepadian. Gowes pagi ke sawah sepertinya satu rute yang sangat layak untuk dikayuh.

Sabtu pagi itu sebelum jam dinding bergerak ke angka enam saya sudah siap dengan si Patrol di depan rumah. Kalau ingin gowes melewati persawahan sepertinya saya harus mengarahkan handlebar sepeda menuju ke arah Sodong. Ada banyak area persawahan menghijau di kaki bukit Sodong. Cocok dengan kerinduan saya kali ini akan hijaunya padi di sawah.

Saya gowes melalui jalan desa menyisiri pagar Taman Buah Mekar Sari. Kali ini jalan desa kampung Rawa Ilat yang saya lewati sudah tercor beton mulus. Sepeda saya kayuh dengan ritme 5 menit agak cepat lalu 1 menit agak santai. Sengaja untuk latihan otot-otot kaki dan jantung saya di gowesan ini.

Beda sekarang dan dulu, beberapa bulan lalu jalanan ini berlubang di sana sini dan genangan air hujan banyak menghadang di depan jalan. Sebenarnya asyik juga gowes pake MTB di jalanan berlubang penuh sensasi off road. Tapi dasar orang timur, tetap saja jadi sungkan untuk ngebut melibas genangan lubang di depan kala berpapasan dengan pengendara lain. Lha mereka saja pelan-pelan melewati kubangan itu agar kendaraan dan pakaiannya tidak kecipratan air, kok saya dengan teganya menghancurkan mood pagi hari mereka. Prinsipnya, berkendara di jalan umum itu mesti tepo seliro. Beda kalau kita gowes di hutan atau gunung.

Jalanan cor mulus sudah terlewati. Saya lanjut asyik gowes hingga ke pertigaan Bojong, kalau ambil ke kiri arah ke Citra Indah, kalau belok ke kanan arah ke Sodong dan kelapa nunggal. Tepat di depan pertigaan terlihat tiga goweser bapak-bapak sedang berhenti. Pastinya mereka sedang menunggu komplotan “Balelo” nya (Bapak-bapak Lali Omah, karena kalau sudah gowes jadi lupa pulang) wkwk. Saya kasih kring saja ke bapak-bapak itu lalu lanjut masuk ke jalan kecil di depan pertigaan Bojong.

Saya ingat jalanan ini atau lebih tepatnya gang, adalah jalanan yang pernah saya lewati saat gowes bareng rombongan Citra Indah dulu. Mereka membawa saya menyusuri gang kampunng ini lalu tembus ke persawahan luas. Saat itu saya harus tertatih tatih gowes campur tuntun sepeda di atas pematang-pematang sawah. Saking kecilnya pematang..satu kali badan jatuh ke kiri, kedua kali badan terperosok ke kanan. Kali ketiga sepedanya saja saya biarkan jatuh masuk ke sawah. Hehehe. Gowes berlumpur-lumpur lah saat itu. Tapi pemandangannya saat itu Masya Allah indahnya. Gak nyesel saya , malah ingin mengulang lagi session tersebut. Dan sepertinya pekan ini saat yang baik untuk mengulangnya.

Lumayan kira-kira 2 km sepeda mblusukan di gang kampung hingga akhirnya saya sampai di ujungnya. Di depan sana terhampar persawahan luas menghijau. Segaar.. Tarik nafas dalam-dalam dulu biar fresh. Di tengah persawahan ini ternyata sudah dibuat jalan selebar 3 meter menghubungkan kampung ini dengan persawahan. Kanan-kirinya jalan ada selokan kecil untuk jalur air. Jalanannya dari tanah keras dan beberapa terlapis bebatuan kapur.

mentari yang belum meninggi adalah waktu yang bersahabat untuk gowes

Enak banget gowes melalui tengah-tengah persawahan. Jalanan nya sangat sepi dari kendaraan bermotor. Orang-orangan sawah pengusir burung terlihat dekat dan jelas dengan tali warna warni yang melintang panjang di atas persawahan dan kaleng-kaleng kecil tergantung di talinya. Saat talinya di tarik, orang-orangannya akan bergerak-gerak dan kaleng-kalengnya berbunyi yang akan membuat burung menjauh dari sawah.

Sejenak duduk beristirahat di tepi jalan menghadap ke sawah. Tenang dan damai sekali. Apa kalau sudah pensiun saya jadi petani saja ya? ah..impian yang terlalu jauh. Saat ini lahan sawah saja semakin mengecil. Beberapa tahun nanti bisa jadi malah menjadi kawasan konservasi alam.

Saat santai duduk dan mengambil beberapa shoot foto persawahan, terlihat beberapa anak kecil berjalan sambil bersenda gurau dengan riang. Begini memang seharusnya anak jaman sekarang menghabiskan waktu pagi. Bermain di pematang sawah, bukan berakrab-akrab dengan gadget tak kenal waktu.

Jangan lupa bahagia ya nak. Beruntunglah kalian masih mudah bertemu hijaunya alam

Waktu terasa berdetik pelahan di sini. Semuanya menyegarkan fikiran dan hati. Jalan selebar 2 meter itu terus kutelusuri hampir sampai bertemu dengan perkampungan di pinggir jalan beraspal. Sempat berpapasan dengan sekawanan sapi yang jalan-jalan pagi. Hingga membuat sepeda terpaksa menepi dan berdekat-dekat dengan moncongnya. Ternyata di dekat situ ada satu peternakan kecil. Terlihat dua orang pekerja sedang membereskan beberapa bagian kandang.

Takut nyenggol dan disenggol. berhenti adalah pilihan terbaik.

Mendekati jalan aspalan. Terlihat papan besar bertuliskan peta wilayah desa wana wisata linggarmukti, dengan tambahan arah panah bertuliskan jalur sepeda. Ternyata tempat saya berhenti merupakan titik awal jalur sepeda off road di persawahan desa Linggarmukti.

Peta wana wisata desa linggar mukti dengan petunjuk arah nya.

Gapura desa yang sederhana nan ramah

Gak salah pemerintah setempat membangun konsep wana wisata di daerah ini dengan kontur persawahan dan bukit hijau menjulang di belakangnya. Saya sudah dua kali menikmatinya dan sudah menempatkan jalur ini satu jalur favorit saya. Tinggal pilih dan atur waktu di pagi hari yang tepat saja. Niscaya sensasi kabut pagi saat mengantar mentari muncul dari ufuk timur memberikan pengalaman gowes pagi yang saat mengesankan.

 

Iklan

6 Comments Add yours

  1. Lintang_fajar berkata:

    Total berapa km tuh gowesnya ? Kayaknya keren banget dah

    Suka

    1. kayuhanpedal berkata:

      30 km saja kok. masih di pinggiran jakarta saja.

      Suka

      1. Lintang_fajar berkata:

        Lumayan itu mas

        Suka

  2. Nasirullah Sitam berkata:

    Rutenya asyik mas. Oya sekitaran ibukota ada namanya bloger sepedahan loh, siapa tahu bisa blusukan bareng 🙂

    Suka

    1. kayuhanpedal berkata:

      wah..seandainya bisa terwujud. Bakal jadi pengalaman luar biasa tuh buat saya. Semoga ..

      Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s