Sepeda ada, jersey lengkap, segala jenis trek dan destinasi gowes tersedia. Tapi gowesnya jarang…   Ada yang kayak sayah? hehehe jangan sampai ya sobat pembaca. Yang di atas itu jangan ditiru.

Memang sudah cukup lama saya gak gowes ke lokasi-lokasi menarik. Sudah dibuat listnya sih. Tapi semua hanya menjadi daftar tunggu semata. Kesibukan kerja dan keluarga membuat saya harus mengesampingkan dahulu hobi saya bersepeda ke sana ke mari.

Tapi sabtu di bulan november ini. Dapat juga waktu yang luang, plus teman gowes bersenang-senang. Tujuan pun secara aklamasi ditetapkan ke satu-satunya kampung yang masih tersisa di Singapura. Kampong Lorong Buangkok.

Bersama om Arief dan om Havas, pagi itu kami memulai perjalanan kami dari titik kumpul di Bedok reservoir. Sebuah danau buatan di bagian timur singapura yang bersih, asri dan sejuk dikelilingi pepohonan rindang. Pagi itu di pinggirannya sudah banyak warga yang ber lari maupun sekedar berjalan kaki mengelilingi danau.  Dari sana sepeda pun kami kayuh menuju kampong lorong buangkok.

20171125_075012-01
Tergoda dengan keelokan danau buatan bedok. Cekrak cekrek dulu lah sebelum gowes.

Jalur yang kami lalui kombinasi dari jalur trotoar pinggir jalan raya, dan jalur taman-taman kota. Sabtu pagi itu kendaraan sudah banyak yang lalu lalang. Nampak berbeda kepadatan jalannya dengan kondisi minggu pagi yang lebih sepi.

Kami gowes santai saja kali itu. Karena om Havas yang masih dalam pemulihan dari cedera retak tulang telapak kakinya bulan lalu. Akhirnya menjelang pukul 10 pagi kami pun sampai juga di kampong lorong buangkok yang kami tuju.

20171125_095514
Papan penunjuk jalan masuk. Pepohonan rimbun sudah menyambut.

Jalan masuk ke kampong atau kampung ini tidak berada persis di tepi jalan raya utama, Sehingga keberadaan kampung tidak mudah teramati oleh pengendara yang berlalu lalang di jalanan Singapura. Dia berada di ujung jalan Lorong Buangkok. Jika sudah memasuki jalan Lorong Buangkok lokasi tepatnya kampung ini akan tertandai oleh sebuah papan nama Surau Al Firdaus dan Kampung Lorong Buangkok.

Dari jalan beraspal tempat sepeda berhenti. Kami tertegun melihat jalan masuk ke kampung ini masih berupa jalan tanah keras yang beberapa titiknya  becek bekas hujan semalam. Benar-benar seperti kampung yang ada di Indonesia. But halooww..kami kan baru saja melewati kota singapura yang jalanannya halus  mulus  macam pipi gadis  kota yang gemar bersolek. Tapi sekarang imaji itu seketika buyar. Kami benar-benar disodorkan suasana kampung bahkan sejak sebelum masuk ke dalamnya.

Jalan masuk kampung lorong buangkok yang masih tak beraspal

Dua puluh meter masuk ke dalam. Jalanan menjadi lebih sempit yang hanya cukup untuk satu mobil saja. Mulai terlihat rumah-rumah penduduk kampung ini yang berluas kira-kira 5×10 m dengan sedikit pekarangan sebagai halaman depannya. Bangunannya kebanyakan beratap seng dengan tinggi 2.5 meter yang ditopang oleh dinding kayu. Pekarangan rumah mereka diteduhi oleh rimbunnya pepohonan dan tanaman perdu sebagai pagarnya.

rumah-rumah di kampong buangkok masih mempertahankan struktur awalnya. Atap rendah dari seng dan pekarangan berpepohonan.

Dua jam lalu kami baru saja melalui jalan-jalan kota singapura yang sangat maju dengan apartemen-apartemen megah di kanan kirinya. Berada di sini kami seakan memasuki lorong waktu ke puluhan tahun lampau saat singapura masih berupa kampung. Saat penduduk masih beraktifitas sebagai pekebun, petani, dan pedagang. Dan kini walaupun sekelilingnya sudah berdiri apartemen-apartemen megah, tapi masih ada keluarga kampung ini yang turun menurun tetap memilih tinggal di bawah atap yang sama dari generasi pertama diwariskan ke generasi berikutnya sejak tahun 1950an.

Tampaknya penduduk sini tidak tabu akan kemajuan teknologi yang memang memudahkan manusia. Jika dahulu mobilitas mereka hanyalah dengan sepeda atau mungkin motor. Sekarang pun mobil bisa mereka beli dan terparkir di pekarangan kecil mereka.

warga singapura harus membayar berkali lipat lebih mahal dibanding konsumen mobil negara lain. Tapi nyatanya sedan mulus masih bisa terparkir dengan manis di pekarangan penduduk kampong ini.

Sebuah surau kecil beratap seng berdiri di tengah-tengah kampung ini. Kampung ini bukanlah kampung melayu. Selain melayu muslim ada pula keluarga keturunan tionghoa yang tinggal di sini menggenapi sekitar belasan keluarga lainnya. Semua hidup dalam harmoni dan ketenangan. Pagi itu pun saya bisa mendengar kokok ayam jantan dan suara decit burung di sekitar kampung. Sebuah harmoni alam yang tidak pernah saya dapati selama saya tinggal di apartemen singapura.

Jarum waktu terasa berputar pelan di sini. Tidak ada hiruk pikuk  kendaraan, tiada terdengar suara sound sistem musik dan televisi. Pagi yang tenang di tengah kota yang siap memulai hiruk pikuknya.

Surau kecil ini saat maghrib tiba kabarnya juga dibuka untuk umat muslim yang ingin menunaikan sholat.

Setengah jam menghabiskan waktu di kampong lorong buangkok membuat kami tersadar bahwa kami berada di suatu titik di singapore. Di mana masa lalu, dan masa datang di pertautkan hanya oleh seruas jalan. Jika perubahan itu adalah keniscayaan. Suatu keberuntunganlah bagi kami untuk dapat berada di titik itu. Saat kampung terakhir di Singapura masih diperbolehkan berdiri, sebelum tergilas  berganti bangunan-bangunan tinggi menjulang. Suatu kenangan yang akan selalu terkenang walaupun sepeda kami sudah terbuang. Dan kami pun melenggang pulang dengan riang.