Miriplah dengan sebuah pepatah melayu yang terkenal : ‘Sekali mengayuh pedal tujuh pulau terlampaui’.  Karena sepertinya pepatah ini berlaku untuk sepedaan saya minggu lalu. 😁

Setelah satu bulan lebih off  dari kegiatan mengayuh dua pedal. Dua minggu lalu beberapa pesan whatsapp dari om Nandha dan om Yedi masuk ke handphone saya. Isinya: sebuah ajakan untuk gowes ke pulau Barelang Batam bersama komunitas Gowes SG-ID.

‘Jreeeng….’ hati saya bersorak. “Inilah saatnya untuk merasakan petualangan bersepeda yang baru…this is the time for the new adventure. Hehehe. Temen yang gak suka gowes sering aja usil komentar saat saya bercerita dengan semangatnya tiap ada rencana perjalanan sepeda yang akan datang. Kata dia: “waktu muda kemana aja loe?”. Saya jawab: “Muda memang sudah lewat om, tapi tua belum waktunya datang dong”. Hehehe. Sebuah ajakan yang sulit untuk ditolak. Apalagi diimingi dengan dipinjamkan sepeda hard tail bertapak ramping milik on Yogi dari Gowes SG-ID.

Sekilas tentang komunitas gowes SG-ID, ini sebuah komunitas bersepeda warga Indonesia yang bermukim di Singapura. Mereka lah yang rutin menghangatkan jalanan Singapura dari dinginnya malam dan pagi hari dengan gilasan roda-rodanya memutari 100KM aspal negeri singapura. Biasa di istilahkan dengan RTI ‘Round The Island” .

Tambah jalur tambah sedulur. Perjalanan baru teman-teman yang baru. Inilah saatnya sebuah petualangan. Dari sedikit survey melalui Google. Barelang itu kependekan dari Batam Rempang dan Galang. Sebuah gugusan kepulauan Riau di selatan Singapura yang sebenarnya tidak hanya terdiri dari 3 pulau yang tersebut di atas. Dari peta tergambar deretan 7 pulau berjajar dari utara ke selatan yaitu pulau Batam, Tonton, Nipah, Setoko, Rempang, Galang dan Galang Baru yang terhubung melalui 6 jembatan panjang. Total jarak dari pelabuhan Sekupang di utara hingga ujung aspalnya pulau Galang Baru di selatan adalah 75km dengan kontur jalan yang didominasi tanjakan dan turunan.

Screenshot_20170723-174531
Rute gowes Kepulauan Barelang dengan aspal mulus sepanjang 75 km.
Screenshot_20170724-205203
Seperti pepatah terkenal. Setelah tanjakan masih ada tanjakan lagi.😁

Itenary perjalanan :

– gowes rumah – harbourfront ferry terminal

– menyebrangi ke batam dengan 1st ferry 7.20 am SG time.

– sampai sekupang batam 7.20 wib . Persiapan dan sarapan.

– 8.00 wib start gowes ke ujung pulau Galang Baru.

– Grup B target finish di pulau Galang baru pukul 13.00 wib lanjut loading ke jembatan 1 untuk lunch.

– Grup A lanjut gowes balik ke jembatan 1.

– lunch 15.00 wib di jembatan 1 lanjut free time.

– pulang ke singapura dengan ferry terakhir via pelabuhan Batam  centre.

Sepakat dengan itenary yang dibuat oleh om Zulfakar seorang goweser SG-ID yang selalu bolak balik Batam Singapura. Sabtu dini hari saat weker di kamar menunjukkan pukul 3.45 saya sudah keluar dari kost lalu gowes menuju harbourfront ferry terminal yang berjarak 20Km. Hari masih sunyi dan dingin saat harus menunggu om Yogi  dan om Nandha di pom bensin Bedok membuat perut ini terasa lapar. Setangkup chicken sandwich pun ludes masuk ke perut sembari menunggu om-om tersebut datang. Pukul 4.30 mereka datang lalu kita pun gowes ke tikum selanjutnya di mesjid Tumenggung di dekat ferry terminal. Sebelum Adzan subuh para goweser SG-ID sudah merapat di mesjid. Selepas Sholat subuh kami pun lalu lanjut menuju harbourfront terminal untuk check in paling lambat satu jam sebelum jadwal keberangkatan.

20170722_050317
Jalanan kota singapura sebelum subuh. Alhamdulillah gak ketemu begal.

Pagi itu Harbourfront ferry terminal masih belum ramai.  Tapi yang mengesankan sebelum kami tiba ternyata sudah banyak sepeda-sepeda yang siap check in menyeberang dari Singapura. Weekend memang waktu yang pas untuk melarikan diri sejenak dari rutinitas kota besar. Ada dua pilihan moda melarikan diri. Bisa dengan mengendarai mobil keluar kota, atau dengan bersepeda seperti kita-kita. ‘Four wheels will only move your body.  Two wheels move your soul’. Percaya deh 😁.

20170722_062953
Weekend. Sepeda pun ikut menyeberang.
20170722_064538
Sepeda check in di lantai 1 seperti ini. Penumpang check in di lantai 2.

Kami berlima belas yang terdiri dari: om Nandha, Jacob, Amar, Yogi, Jimmy, Godwin, Yedi dan om Rubi siap dengan road bikenya. Lalu om Iman, Indra, Girang, Didi, Erwin, Manon dengan selinya, sedangkan saya pakai MTB hard tail saja. 15 peserta semua sudah komplit check in pun kami lakukan 1 jam sebelum jadwal berangkat dengan membayar biaya tambahan check in sepeda 10 SGD. Di luar harga tiket PP singapura batam yang sebesar 32 SGD.

Tepat pukul 7:20. Kapal majestic ferry pun berangkat menuju sekupang dengan waktu tempuh 1 jam. Akhirnya pukul 7:20 wib kami pun merapat di pelabuhan Sekupang. Proses imigrasinya cepat saja, dan pengambilan sepeda di sekupang dikenakan biaya 10 ribu rupiah persepeda. Sepeda-sepeda dan ridernya pun siap untuk mengayuh pedal di pulau seberang. Sebelum gowes dimulai suguhan lontong sayur batam menjadi carbo loading pertama kami.

IMG-20170722-WA0012
Ferry pertama sabtu pagi. Sepertinya hanya di isi Goweser SG-ID. 😁
20170722_075629
Dengan penempatan spt ini. Korosi air laut mengancam sepeda. But it worth for the view and wind.
20170722_071435
Foto-foto keluarga setelah merapat sekupang.
FB_IMG_1500817255454
Formasi lengkap di titik start.

Saya lihat jam tangan menunjukkan 8:08 WIB saat kayuhan pertama dari pelabuhan sekupang di mulai. Belum 200 m menjauh dari pelabuhan salah satu ban sepeda Grup A ternyata bocor. Untuk menjaga timing disepakati Grup B yang menggunakan seli dan MTB berangkat lebih dahulu dan nanti akan disusul oleh Grup A yang beranggotakan para road biker, setelah selesai mengganti ban dalam yang bocor. Sebuah keputusan yang membuat Grup A terpaksa memacu 40km/jam di awal perjalanan untuk menyusul Grup B yang sudah di depan.

20170722_080701
Selepas keluar dari pelabuhan Sekupang.
20170722_081125
Jalanan kota Batam yang masih teduh dan hijau. Enak buat gowes.

Bersepeda dengan grup Gowes SG-ID ini cukup membuat kaget. Diri ini yang biasa mengayuh di kecepatan rata-rata 15-17 km/jam, saat itu harus dapat mengikuti ritme para selier yang biasa memacu sepedanya di 25 km/jam bahkan di kontur jalan rolling naik turun seperti kota batam. But show must go on. Komitmen timing harus di capai agar semua rencana tidak terbengkalai.

Jalanan Batam di waktu sabtu pagi di dominasi oleh kendaraan roda dua. Pagi itu saya tidak melihat kendaraan angkutan umum dan Bis seperti yang ada di kota besar Jawa. Entahlah, bisa jadi belum ada yang lewat di jalanan kami. Beberapa tahun lampau saat berkunjung ke batam angkutan umumnya menggunakan sedan berplat hitam yang bisa di stop dan dinaiki bersama penumpang lain seperti angkot di Jakarta.

Dari sekupang kami melewati beberapa lampu merah dan kantor-kantor pemerintahan serta komplek perumahan warga hingga akhirnya tiba di pertigaan lampu merah batu aji lalu berbelok kanan ke arah jalan raya Trans barelang. Di pertigaan ini banyak berjejer warung-warung penjual makanan kecil khas Batam. Mengingatkan saya pada persimpangan Cileunyi Bandung dengan warung-warung tahu sumedangnya yang berjejer di kiri jalan.

Setelah memasuki Jalan raya Trans Barelang pemandangan mulai berubah menjadi tebing-tebing bukit kering di kanan dan kiri jalan. Lampu merah sudah tidak ada lagi kami temui. Apalagi Indomaret atau Alfamart seperti saat di kotanya. Hanya tanjakan dan turunan saja bergiliran menanti kami hajar satu persatu. Satu setengah jam kemudian kira-kira hampir pukul 10 WIB kami pun tiba di Jembatan Barelang 1. Kiri kanan jalan kembali diramaikan oleh warung-warung makan dan restoran bagi pengunjung yang datang ke jembatan yang ikonik ini. Terlihat satu keluarga sedang keluar dari mobilnya untuk berswafoto di Jembatan ini. Mau dapat foto yang bagus, tinggal membayar jasa fotografer SLR jalanan yang juga ada di sekitar jembatan 1 ini.

Tapi cerita runyam bermula di sini ketika saat akan turun dari sepeda betis kiri saya menjadi kram yang sangat menyakitkan. Bisa jadi ini karena otot-otot yang belum terbiasa dengan kecepatan 25 km/jam yang pagi itu harus kami geber.

20170722_094031

FB_IMG_1500935941251
Foto keluarga Gowes SG-ID saat rest point pertama di jembatan satu.

Sudah lama sebenarnya saya tidak mengalami kram yang sangat parah seperti ini. Karena selalu di antisipasi dengan menjaga ritme rpm kayuhan dan rest stop yang cukup. Muscle cream pun akhirnya harus keluar dari tas dan diolesi pada betis yang kaku ini. Setelah kram menghilang kami Grup B pun melanjutkan perjalanan menyeberang ke pulau Tonton, pulau Nipah, pulau Setoko lalu pulau Rempang yang dihubungkan dengan jembatan satu hingga empang.

Dari pulau Nipah hingga pulau Rempang jalanan yang nampak lurus itu didominasi oleh tanjakan dan turunan. Liukan naik dan turunnya jalan benar-benar seperti sebuah punggung naga. Kanan kiri kalau tidak ladang perkebunan yang luas dengan hanya sedikit pohon besar peneduh, pastilah tebing-tebing kapur menjulang yang seperti memantulkan panas matahari siang itu. Jadi double kuadrat panasnya.

20170722_120258
Bersepeda di atas punggung Naga. Karena kontur jalan naik turun tiada habis.

Pulau Rempang adalah pulau kedua terbesar setelah Batam dengan bentuknya yang memanjang dari utara ke selatan dengan kontur perbukitan membuat segmen di pulau ini adalah yang paling menguras tenaga.

Kondisi jalanan selalu mulus tapi kendaraan cukup banyak lalu lalang di pulau Rempang ini. Bisa jadi karena hari yang telah siang penduduk sudah banyak beraktifitas di sini. Banyaknya ladang perkebunan dan tempat wisata pantai membuat pulau ini tampak ramai oleh lalu lalang kendaraan.

20170722_120604
Om Indra sedang  melewati pulau Rempang.

Dan di Rempang kram saya kumat lagi. Kali ini ditambahi dengan otot paha atas yang menjadi kram.  Saya tidak mau egois dengan membuat semua rencana dan itenary menjadi bubar dikarenakan ritme kayuhan saya yang melambat. Akhirnya saya pun memilih naik ke atas kendaraan evakuasi dan menyaksikan perjuangan kawan-kawan Gowes SG-ID menyelesaikan etape 1 hingga ke ujungnya pulau Galang Baru.

Di ujung pulau Rempang berdiri kokoh jembatan Barelang 5 yang menghubungkan pulau Rempang dan Galang. Pemandangan di atas jembatan ini Subhanallahu indahnya. Sebelah kiri dan kanan tampak pulau-pulau kecil menghijau dikelilingi perairan tenang yang membiru. Pupus semua lelah perjalanan dari sekupang yang dipenuhi tanjakan-tanjakan tiada  henti.

20170722_120650
Om Zulfakar dan om Rubi di jembatan 5
20170722_120815_20170725180416568
Pemandangan yang worth to climb

Selepas jembatan 5 kami memasuki pulau Galang. Saya ingat ketika paginya masuk imigrasi batam petugas imigrasi mempromosikan indahnya pulau Galang dengan wisata sejarah kamp pengungsi Vietnamnya yang ia sarankan untuk kami kunjungi. Tapi apa daya, waktu yang tak mencukupi membuat kami hanya sekedar melewatinya saja. Saat tiba di pulau Galang sayup terdengar adzan zuhur di kejauhan. Titik  finish masih jauh, masih harus melewati pulau Galang Baru hingga ke ujungnya. Kayuhan pun terus dilanjutkan.

Pulau Galang Baru pun kami seberangi. Di pulau terujung ini sinyal selular pun pupus hingga hubungan dengan dunia luar pun putus. Apalagi untuk update status. Yang ada hanya tanjakan demi tanjakan jahanam. Warung makan benar-benar nihil terlihat di sepanjang jalan. Tapi view di bawahnya sungguh memikat. Lautan dengan pulau-pulau kecil menghampar sungguh menyegarkan mata.

20170722_131739
Pemandangan sepanjang pulau Galang Baru. Jalan mulus dan lautan lepas menanti.

Akhirnya sekitar pukul 1.30 siang kami pun sampai di ujung pulau Galang Baru. Ini benar-benar ujung aspalnya kepulauan Barelang. Ditandai oleh sebuah putaran jalan dengan sepetak tanah selebar lapangan volley di tengahnya. Pengendara harus memutar di sini untuk kembali ke kota Batam.

20170722_134115
Ujung kepulauan Barelang.  Sekedar sebuah putaran jalan dan warung ditepi.
20170722_133810
Foto keluarga bersama Gowes SG-ID Di ujung Barelang

Di ujung pulau ini ternyata ada satu warung yang buka. Walau hanya menjual sekedar makanan ringan dan minuman untuk pengunjung yang berani melintasi ujung pulau ini. Tapi jangan khawatir bensin pun juga ada dijual di sini karena sepanjang jalan hingga pulau Batam sangat sulit ditemui SPBU.

Di titik ini grup B yang memakai sepeda lipat mengakhiri 75km perjalanan dari sekupang. Foto keluarga di ujung perjalanan pun tak lupa diabadikan sebelum sepeda-sepeda dinaikkan ke atas truk yang sudah disiapkan. Sedangkan grup A yang menggunakan road bike melanjutkan kayuhan balik hingga rest point restoran seafood dekat jembatan Barelang 1. Di rest point inilah semua peserta akan berkumpul dan makan siang bersama.

IMG-20170726-WA0004
Depan: Om Yogi. Belakang: om Yedi di trans barelang.  Selfi mengusir lelah. 
IMG-20170726-WA0006
Sepanjang jalan kenangan. Trans Barelang yang panas.

Perjalanan balik menuju jembatan 1 tak kalah serunya. Kami di dalam kendaraan mengawal grup A yang masih mengayuh 50 km lagi jalanan dengan tanjakan-tanjakannya, turut menyaksikan kegigihan para roadbiker menaklukkan jalanan panas menyengat itu. Teriakan penyemangat, tawaran minuman pelepas dahaga hingga operan pisang manis untuk penambah energi pun kami berikan dari dalam kendaraan.

Akhirnya rider terakhir pun sampai di jembatan 1 saat jam di tangan menunjukkan hampir pukul 3 sore. Itu artinya sudah total 130 km jarak tempuh hari itu. Sepedaan kami pun ditutup di restoran seafood hotel Harris untuk santap siang bersama sekaligus ishoma. Makan siang bersama dan saling bercerita pengalaman saat perjalanan hari itu seakan membuat kami semua menjadi satu keluarga besar yang tak sabar lagi menunggu datangnya liburan bersama di jadwal selanjutnya.

IMG-20170722-WA0036
On Iman ‘Mukyo mucol’ di sebelah kiri. Finisher gowes trans barelang hari itu.
20170722_162306
Makan ‘siang’ bersama di Harris hotel seafood resto . Pukul 3 sore makan apa saja pasti terasa lezat.
20170722_171330
Pemandangan di jembatan satu barelang dari Harris hotel restoran. Sempat terlihat kapal wisata besar melintas di perairan ini.

Saat sore tiba  kami semua beranjak dari restoran menuju Batam Centre ferry terminal untuk mengejar jadwal ferry 7.25 wib malam dengan menaikkan semua sepeda ke atas truk . Payah dan peluh hari itu tunai terbayar dengan pengalaman dan kebersamaan yang mungkin akan jadi memory kami bersama. Dan semoga bisa gowes bersama lagi ke tempat-tempat indah di Indonesia.

Sebagai catatan biaya perjalanan meyeberang dengan sepeda:

– Tiket Majestic ferry PP : 32 SGD

– Singapore bike check in charge : 10 SGD.

– Biaya menurunkan sepeda pelabuhan sekupang : Rp. 10rb.

– Biaya check in sepeda di pelabuhan Batam centre : Rp . 30rb.