Hari masih belum siang saat hujan berhenti di puncak Mount Faber. Kulihat jam tangan baru menunjukkan pukul 11 waktu Singapura. Saya dan teman gowes kali ini yaitu om Havas bergegas keluar dari gazebo taman, lalu menyiapkan sepeda untuk dituntun menaiki tangga mount faber park. Turis-turis berkulit terang dan berbahasa mandarin juga terlihat keluar dari charter bisnya dan naik menuju tempat yang sama. Dua orang wanita paruh baya kembali menggelar alas plastiknya melanjutkan meditasi yang terhenti oleh hujan. Pagi menjelang siang itu kami sudah tiba di puncak Mount Faber yang teduh dan tenang.

Gowes pagi itu dimulai dari sisi timur pulau Singapura, menuju mount Faber yang berada di sisi Selatan negeri ini. Kami mulai kayuhan sedikit ngaret dari kesepakatan awal pukul 7.30 pagi. Berdua kami memulai gowes melalui sisi timur pantai Singapura lalu menuju pusat kota. Ini adalah rute favorit kami karena deburan ombak pantai yang bersebelahan sisi dengan jalur jogging dan cycling serasa membuat jantung berdetak dengan ritme yang relaxing dalam setiap kayuhan pedal kami.

Saat melewati jalur biasa kami di East Coast Park. Saya terkesima oleh adanya spot taman terbuka baru yang menjorok ke laut. Ternyata Siglap Canal sudah selesai pembangunannya dan sudah di buka untuk khalayak ramai. Pagi itu belum ramai pengunjung di taman baru ini. Hanya satu dua warga lokal yang terlihat duduk menikmati mentari  dan angin pantai pagi hari dengan pemandangan bibir pantai yang diteduhi pohon kelapa. Buat mereka yang sepanjang minggu dibisingkan dan dikotori oleh deru dan peluh kota. Agaknya spot ini cocok menjadi suatu terapi jiwa.

IMG_20170513_085829_097-01
Rayuan pulau kelapa di Siglap Canal East Coast
20170513_082221-01_20170514180748063
Di depan lepas memandang bangunan tinggi dan di belakang saya …laut lepas

Baru mengawali gowes saja sudah mendapatkan spot yang refreshing seperti ini makin membuat raga ini terpompa semangat dari isi kepala kami yang ter-freshing. Lanjut lagi ke arah barat, di tepi pantai sudah terlihat tenda-tenda yang didirikan oleh pengunjung yang akan menikmati akhir pekannya di sini.

20170513_182515-01
Bahagia itu sederhana. Bawa tendamu dan dirikanlah di tepi pantai.

Kayuhan terus kami arahkan menuju Marina Bay Sand. Sepanjang perjalanan dimanjakan oleh segar hijaunya taman di pagi hari. Melewati jembatan marina barrage terlihat kapal boat kecil sandar menarik perhatian kami. Di sini pula kami bertemu dengan rekan-rekan roadbiker warga Indonesia. Pagi itu mereka baru saja menyelesaikan RTI nya (Round The Island). Alamak..stroong bangetlah dengkul dan sepeda mereka pagi-pagi sudah kelar mengelilingi pulau dalam 100 an km.

Sejenak berhenti untuk silaturahmi sesama goweser kami pun lanjutkan perjalanan. Mendekati Marina Bay Sand terlihat kerumunan pejalan kaki dan pesepeda yang berhenti di bawah pepohonan. Capek kah mereka? ternyata tidak..mereka sengaja berhenti karena ingin menonton aksi berang-berang sungai yang lari dari udara panas pagi itu dengan bermain berguling-guling di permukaan pasir tepi sungai singapura. Singapura benar-benar berusaha menjaga habitat hewan aslinya ya. Hebat sekali usaha konservasi biotanya.

20170513_174436-01
Kapal bersandar di marina barrage jembatan pembatas sungai dan laut lepas di seberangnya.
20170513_090436
Reunian sekaligus kenalan dengan road biker indonesia yang strong-strong di Singapura.
20170513_091733-01
otter..atau berang-berang yang sedang berlindung dari panas. Jarang2 bisa ketemu hewan ini di Garden By the Bay ini.

Semakin lama kerumunan penonton mahluk kecil ini makin bertambah. Kami pun beranjak melanjutkan gowesan kami ke arah MBS. Pemandangan pun berganti dari hijaunya pepohonan menjadi cerah mengkilat hutan kaca dan beton kota besar. Di depan MBS kami berhenti sebentar untuk mengagumi kemegahan karya bangsa Singapura ini. Benar-benar gowes east meet west, dari hutan turun ke kota #lebay.

20170513_173929-01_20170514125121971
Gowes dari hutan turun ke kota. ~Hutan beton~
IMG_20170513_101631_118-01
Kursi jemur..panasnya dobel: sinar surya plus pantulan kaca gedung tinggi.

Setelah MBS praktis perjalanan gowes kami selalu melalui jalan-jalan besar dan ramai Singapura. Demi keamanan diri kami pun memilih trotoar sebagai jalur kami menuju Mount Faber. Akhirnya setelah melewati Plaza Vivo City kami pun tiba di mulut Morse Street yang menjadi jalan masuk menuju puncak Mount Faber.

20170513_102350-01
Memasuki Morse street. Awal tanjakan menuju puncak Mount Faber.
20170513_103052-01
Awal dari Mount Faber Loop. Di sebelah kiri terdapat parkiran mobil untuk yang ingin berjalan menuju puncak atau ke jembatan Henderson Waves.

Sebenarnya tinggi Mount Faber ini hanya 105 m. Titik tertinggi kedua di Singapura setelah Bukit Timah. Sebagai ikon wisata Singapura moda transportasi bagi turis menuju ke sini hanya bisa dengan menggunakan cable car dari Pulau Sentosa. Itupun tiketnya tidak bisa beli yang sekali jalan. Pilihan lain untuk sampai ke puncak ya dengan menggunakan taksi. Bersyukur sekali kami diberi kebugaran untuk mencapainya dengan bersepeda.

Jam di tangan sudah pukul 10.30 saat kami tiba di atas kemudian hujan mengguyur dengan cukup deras. Selepas berhentinya hujan kami pun bisa menikmati pemandangan sisi selatan negeri Singapura dari taman kecil di puncak mount faber. Ada 3 telescope pandang di sini. Pengunjung dapat menikmati pemandangan Singapura di bawah sana dengan mengintip lewat lensa pandang ini. Aktivitas awak kapal yang bersandar di perairan dekat Sentosa Island bisa kita “intip” dari sini. Cukup mengasyikkan juga untuk menghabiskan waktu di sini.

20170513_120102-01
Siang saja amazing. Gimana malam ya.
20170513_115313-01
Mount Faber park yang semilir.
20170513_114132-01
mengintip gedung2 di bawah.
20170513_121113-01
mulusnya jalan menurun. harus ekstra hati2 setelah bujan.

Puas menikmati kota Singapura dari puncaknya. Kami pun meluncur turun ke kota. Tujuan kami tentunya tempat makan siang. Berhenti di pujasera Seah In di seberang Vivo City untuk mengisi perut yang telah lapar siang itu. Tandas juga sepiring nasi goreng di hadapan saya. Sebentar menunggu makanan tercerna di lambung. Kami lalu bergegas menuju masjid Temenggung yang terletak tak jauh dari Pujasera Seah In itu. Tepat sebelum adzan dzuhur kami sudah parkirkan sepeda kami dan bersiap menunaikan sholat dzuhur.

Masjid Temenggung ini kabarnya didirikan tahun 1890 oleh Almarhum Sultan Johore yang pernah memerintah pulau Singapura puluhan dekade lampau. Hingga kini Masjid masih diurus aktivitasnya oleh kesultanan johor yang berada di sebelah selat. Makam Sultan Johornya pun masih ada dan terawat di bangunan sebelah kanan masjid. Sedang di atas bukit belakang mesjid terdapat makam-makam muslim dari keluarga sultan pada jaman itu.

20170513_170127-01
makam sultan johore. terletak disebelah kanan masjid.
20170513_170025
masjid temenggung di depan sentosa gateway. Bukit di belakang masjid terdapat makam keluarga sultan johor

Lokasi Singapura yang lebih dekat ke garis katulistiwa dibanding jakarta membuat panas terik saat matahari di atas ubun-ubun sangat lebih menyengat dibanding panasnya Jakarta. Kami pun memutuskan untuk beristirahat lebih panjang hingga sinar terik siang itu berangsur menyusut..yang dibarengi oleh menyusutnya kelopak mata kami karena kantuk..dan..kami pun tertidur di teras masjid tak tanggung-tanggung hingga dua jam kemudian 😀.

Hampir  2 jam kami beristirahat leyeh-leyeh di emperan masjid. Kami lihat matahari sudah mulai meneduh, waktunya gowes kembali. Dan kami pun memilih Sentosa Island sebagai lanjutan gowes wisata kami hari itu karena gerbangnya yang berada di seberang Masjid Temenggung. Sesampai di gerbang tiket pengunjung sepeda kami naikkan ke atas trotoar pulau Sentosa. Melewati loket kecil di kiri jalan pesepeda yang bermaksud berkunjung masuk dikenai tiket 2 dollar saja, lumayan murah. Berbekal peta Sentosa Island yang diberikan di pintu masuk kami pun menjelajah pantai-pantai yang ada di sana. Siloso beach, Palawan beach, Tanjung beach kami sambangi dan nikmati hingga ke ujungnya perumahan mewah Sentosa Cove. Hari hampir sore sehingga udaranya enak sekali untuk bersepeda, berendam di laut atau berjemur di pantai. Sayang karena tidak membawa baju ganti niat untuk bermain air laut kami urungkan hingga kunjungan berikutnya deh. Pastinya akan membawa pasukan lebih banyak agar dapat bersenang-senang dengan lebih meriah.

Tepat adzan ashar kami sudah keluar dari Sentosa Island dan tiba kembali di masjid Temenggung. Setelah menunaikan sholat ashar kami langsung beranjak pulang ke tempat kami di sisi timur singapura. Alhamdulillah gowes wisata hari itu sangat memuaskan raga dan jiwa. Tiba di rumah sebelum maghrib tanpa kurang suatu apapun. Next time semoga bisa menikmati air laut sentosa. Dan berikut beberapa jepretan saat kami di pulau sentosa.

20170513_151323-01
Gerbang loket Sentosa Island untuk pengunjung tanpa kendaraan
20170513_152406-01
Patung Singa yg lebih besar..lebih sangar dr yg di merlion
20170513_152838-01
Palawan Beach
20170513_160114-01
Tanjung Beach

20170513_160149-01

 

20170513_160640-01

 

20170513_160929-01
Bis wisata Sentosa
20170513_162819-01
Gerbang Sentosa Island.
20170513_175610-01
mendung menggantung saat perjalanan pulang.