Di dunia kayuh mengayuh pedal sepeda, dikenal istilah “gowes tipis”. Suatu istilah yang bagi pemula bersepeda terdengar agak-agak menggelikan gimana gitu. Karena, bagaimana pula gowes sepeda bisa disebut gowes tipis kalau setelah menggowes pantat dan otot-otot betis menjadi tebal ๐Ÿ˜ƒ.

Tidak ingin ikut berpolemik mengenai makna tepat dari gowes tipis tersebut. Ijinkanlah saya untuk memberi arti istilah tersebut dari cara pandang goweser nubi seperti saya ini. Saya sendiri mengartikan gowes tipis adalah gowes datar-datar saja, alias gowes tanpa ada jalanan “miring” ke atas alias nanjak๐Ÿ˜ƒ.

Dan minggu kemarin karena waktu untuk “me” time yang terbatas. Saya pun melakoni gowes tipis ini. Cukup sudah penistaan dengkul dan betis saat gowes melalui tanjakan-tanjakan ke curug ciomas minggu sebelumnya. Kali ini tujuan saya adalah ke situ cibeureum Tambun Bekasi. Saya memilih gowes ke sini, karena saya dengar saat minggu pagi suasana di Situ Cibeureum ini “happening” sekali. Maksudnya kayak pasar malam bagi goweser tapi terjadi kala pagi hari gituloh.

Mencari rute menuju situ cibeureum dengan mudah di dapat dari google maps hanya dengan beberapa ketukan di layar handphone. Saat jam di handphone saya menunjukkan pukul 6 pagi, Google maps mengarahkan saya menuju jalan cileungsi jonggol lalu diminta berbelok masuk ke jalan kampung di depan taman buah mekar sari.

Dari pada mengikuti arahan google map. Saya memilih belok ke dalam perumahan Harvest City sebelum taman buah mekar sari karena jalanannya yang lebar dan halus tipikal jalanan perumahan besar. Dan pilihan saya tidak salah. Setelah masuk dalam Harvest City di sebelah kanan saya terlihat patung iconik dan unik dari komik super hero Avenger setinggi hampir 5 meter. Tak mau melewatkan pemandangan ini. saya pun berhenti untuk melakukan swafoto di bawah patung Capten America, sebagai bukti saya telah pernah sampai sini.

20170507_061201-01
The Guardian of Bike Galaxy ๐Ÿ˜

Selepas patung komik marvel ini saya pun melewati lokasi kampung cina Harvest City. Sebenarnya yang dinamakan kampung cina ini hanyalah sebuah kluster pertokoan yang menjual segala pernak-pernik cinderamata bernuansa cina. Bangunannya pun bergaya arsitektur dan berornamen cina. Saya bayangkan saat libur imlek nanti lokasi ini pasti akan didatangi banyak pengunjung.

Kemudian setelah kampung cina saya pun melewati restoran saung apung. Saya pernah makan malam bersama keluarga di restoran ini. Rekomended sekali sebagai tempat bersantap malam bersama keluarga maupun teman dekat karena suasana malamnya yang tenang dan saung-saung di tepi kolam ikan dengan temaram lampu-lampu di sekelilingnya.

Dari restoran saung apung kanan kiri jalan mulai terlihat sepi dari bangunan-bangunan kluster perumahan dan tergantikan oleh kebun-kebun ilalang dan beberapa sawah kecil. Tapi jalanan masih teduh oleh rindangnya pepohonan. Saya pun sampai di ujung perumahan harvest city lalu berbelok ke kanan melewati jalanan kampung yang telah mulus di beton hotmix.

Pemandangan berganti dengan rumah-rumah penduduk asli kampung setu dan persawahan yang terhampar di kanan dan kiri jalan. Jalanan pun masih bersahabat untuk dengkul dan ban si Patrol. Beberapa kali berpapasan dengan rombongan goweser MTB yang datang dari bekasi mengarah ke cileungsi. Minggu pagi memang saat yang pas buat gowes bareng dengan komunitas, kecuali saya yang mengambil jalur independen ini ๐Ÿ˜€.

Jalanan masih sepi dari kendaraan bermotor. Segar sekali udara pagi itu dengan kanan kiri persawahan dan minimnya asap kendaraan bermotor dengan raungan knalpotnya. Di suatu lokasi, saya terkesima dengan hamparan sawah yang luas di tepi kiri saya sehingga membuat saya berhenti untuk menikmati hijaunya batang-batang padi yang terhampar sejauh mata memandang. Jepreeet..foto pun saya dokumentasikan.

20170507_065153-01_20170507211816088
Sawah hijau terhampar spt ini mengingatkan pada persawahan di Jogja dan Jateng

Setelah satu jam menggowes Google map akhirnya menuntun saya masuk ke jalan raya Setu Bekasi, lalu mengarah kembali ke arah cileungsi hingga belok kanan di pertigaan arah bantar gebang di depan kantor Koramil Setu. Sepeda lalu saya kayuh melalui jalur bantar gebang hingga di suatu pertigaan google meminta saya belok ke kanan memasuki jalan-jalan kampung yang lebih kecil.

Setelah melewati jalan kampung terhotmix sepanjang 2 km. Jalanan pun berubah menjadi makadam dengan batu-batu besar dan kubangan-kubangan becek sisa hujan semalam. Di sini saya bertemu dengan bapak tua yang akan berangkat berjualan ke Perumahan Grand Wisata, beliau ย juga akan melewati Situ Cibeureum yang lokasinya memang dekat sekali dengan Grand Wisata.

20170507_072115
Si bapak masih menuntun dengan sabar sepedanya setelah makadam terlewati. Di depannya masih menghadang kubangan besar. Sehat selalu ya pak.

20170507_072335

Sepeda ontel yang dinaikinya tak kuasa untuk melewati makadam batu besar di hadapan kami. Sehingga terpaksa si sepeda ontel di tuntun hingga melewati segmen makadam ini. Setelah itu jalanan menjadi gowesable lagi dengan beberapa kubangan-kubangan air di tengahnya. Tapi tak seberapa jauh kemudian kami pun sampai di tepian Situ Cibeureum yang jernih dan tenang. Dari sini kami pun berpisah karena saya masih ingin menikmati keheningan suasana danau kala pagi hari. Jam tangan ย masih menunjukkan pukul 7.30 saat saya tiba di Situ Cibeureum ini.

20170507_073301-01
Jika dilhat dari posisi matahari saat pagi itu. Sepertinya menikmati Sunset di sini akan sangat indah pemandangannya.

Sepeda kemudian saya gowes menyusuri tepi Situ Cibeureum menuju lokasi saung-saung yang terlihat dari sisi danau tempat saya datang. hingga akhirnya saya menemukan jalan bercor selebar dua meter menuju saung-saung tersebut.

Saat memasuki jalanan tersebut walau belum semua warung makan yang buka. Lokasi ini sudah banyak didatangi puluhan goweser dengan sepeda gunungnya. Kebanyakan datang bersama komunitasnya yang terlihat dari kaos sepedanya yang seragam.

FB_IMG_1494338576747
Saung-saung asyik tempat kongkow dan sarapan goweser

20170507_073849

20170507_074442(0)

Memang lokasinya cocok sekali buat beristirahat setelah letih menggowes. Banyak pohon rindang membuat jalanannya teduh. Belum lagi warung-warung yang menawarkan sarapan. Warung dan menu paling favorit jika ditilik dari banyaknya pengunjung yang datang adalah warung toge goreng. Banyak sekali goweser yang duduk di saung-saung depan warung toge goreng ini. Saking ramainya akhirnya saya mengalah mencari lokasi sarapan yang lain di sekitar situ.

20170507_074604
Si Toge Goreng Favorit di sini.

Selesai sarapan, saya berkeliling melihat sekitaran Situ ini. Ada dua lapak perlengkapan gowes menggelar dagangannya di situ. Yang dijual sangatlah lengkap saya pikir. ย Satu lapak malah ada menjual fork MTB , dan crank MTB. Saya jadi berfikir apa ada yang gowes tipis pagi-pagi seperti ini membawa uang ratusan ribu hingga jutaan rupiah demi ingin membeli fork mahal yang dipajang di situ. lha wong mesin ATM tidak terlihat di sekitar area itu ๐Ÿ˜. Tak apalah namanya dagang. Kalau memang rezeki, tak akan lari ke mana ya kan.

20170507_074121
lapak ini pun menyediakan fork MTB dan juga crank. Dipilih..dipilih ๐Ÿ˜€
FB_IMG_1494338588347
Menjaring harapan pak tua? Semoga dapat ikan yang banyak ya pak.

Akhirnya saya pun menyudahi penyusuran saya di tepi Situ Cibeureum. Saya lalu mengarah pulang melalui jalan raya Setu Cileungsi yang saat itu sudah ramai oleh kendaraan. Di suatu lokasi tepi jalan, saya dikagumkan lagi oleh penampakan Superhero Avenger lainnya, “The Hulk”. Entah apa gerangan yang membuat seniman ini meletakkan patung setinggi 3 m ini di tepi jalan kampung seperti ini. Tapi benar-benar ‘ eye catching’ sih.

20170507_085105-01
Hulk ..yang terpisah dari avenger lainnya.

Tak lupa menyempatkan diri berfoto di bawah si Hulk. Selepas itu, gowes santai saja. Saya pun tiba di rumah tepat pukul 10 pagi.