Desa adalah keindahan Indonesia sesungguhnya. Sawah, gunung, sungai dan curug adalah atribut keindahannya. Beruntung sekali sabtu akhir pekan lalu saya diajak rekan-rekan KGC Komunitas Gowes Cileungsi untuk gowes ke curug ciomas. Semua atribut keindahan desa terlihat dalam satu kayuhan pedal.

Curug Ciomas berlokasi di desa medal sari kecamatan Pangkalan kabupaten Karawang, berbatasan dengan kecamatan Cariu Bogor. Juga dikenal sebagai mini green canyon karena adanya tebing batu mengapit aliran sungainya. Versi mini dari  air terjun green canyon Cukang Taneuh di Pangandaran Ciamis.

Kami berangkat dari titik kumpul metland TransYogie saat jarum jam hampir mendekati pukul 8 pagi. Menyadari saat start yang bisa dibilang kesiangan itu. Kami pun memacu kayuhan pedal agar dapat tiba di curug ciomas sebelum matahari berada di titik tertingginya.

Istirahat sebentar di pertigaan jonggol. Road leader pun membawa kayuhan kami melewati jalan aspal rolling melewati alun-alun jonggol, tidak melewati pasar jonggol yang macet.

Sungai cipamingkis pun kami sebrangi melalui jembatan darurat dari bambu karena jembatan betonnya ambruk seminggu sebelumnya. Ambruknya jembatan cipamingkis ditangani dengan cepat oleh warga setempat dengan membangun jembatan darurat dari bambu bagi pejalan kaki dan kendaraan roda dua. Tiap motor harus membayar tarif penyeberangan sebesar lima ribu lalu harus perlahan mengendarainya di atas jembatan bambu yang bergoyang saat roda motor menggilasnya.

Tapi jangan salah, orang jahat pun mengintip peluang beraksi di sini. Saat ada pengendara yang kesulitan untuk melewati tanjakan curam setelah jembatan bambu, mereka akan berpura-pura membantu mengemudikan motor hingga atas tanjakan dan segera melarikan motor yang tanpa curiga diberikan oleh pemiliknya. Jadi..tak ada salahnya selalu waspada di setiap situasi.

Akhirnya setelah satu jam di atas sadel kami tiba di perempatan Cariu. Jika ke kanan adalah arah ke Cianjur, ke kiri arah ke karawang. Kami terus lurus hingga 300m dari perempatan dan kami pun berhenti di sebuah warung sebelum alun-alun Cariu untuk istirahat dan sarapan. Walaupun sekedar makan minum biasa. Namun dengan rombongan berdua belas ini. Semoga memberi sedikit keceriaan di pagi hari bagi si pemilik warung saat makanannya laris terjual.

20170429_075648
Stop point 1 setelah pertigaan jonggol lalu melalui kota dan alun-alunnya

 

20170429_081420
Menyebrangi sungai cipamingkis menggunakan jembatan bambu

 

IMG-20170430-WA0014
Turunan asyik sebelum jembatan darurat

 

IMG-20170430-WA0000
Saat debit air meninggi. Semoga tidak berubah menjadi gawat darurat.

Istirahat setengah jam di  warung nasi ini untuk mengisi perut dengan sarapan besar dan mengisi botol-botol air minum. Perjalanan lalu berlanjut menuju tujuan utama curug ciomas.

Foto keluarga di warung nasi sebelum alun-alun cariu

Jalanan sudah sepi dari kendaraan besar karena kami sudah keluar dari jalan utama jonggol cianjur namun konturnya terus terasa menanjak hingga mendekati kaki gunung sangga buana. Tapi tak ada tanjakan yang tak habis, tak ada perjalanan yang tak berfinish. Sepanjang jalan pemandangan sudah mulai hijau menghampar hingga kaki sanggabuana. Sawah-sawah berundak juga banyak terlihat di sepanjang perjalanan. Tidak perlu terbang ke pulau Bali, di Cariu pun ada sawah berundak.

20170429_094016
Jalur makadam selepas jalan asap utama dengan view menghijau

 

IMG-20170429-WA0021
Jalur desa antara cariu karawang

 

20170429_094417
Jembatan gantung seperti ini bagai magnet bagi goweser. Sepeda dan kamera menemukan jodohnya di jembatan ini.

 

20170429_100111
Mendekati desa medal sari karawang. Dengan pegunungan dan sawah sebagai latarnya.

 

Gowes tak gentar di tanjakan sepulang dari curug ciomas

Setelah 3 jam menggowes sampailah kami di desa Medal Sari. Di desa ini ternyata terdapat beberapa situs bersejarah peninggalan jaman pasundan kuno. Bisa terlihat dari papan petunjuk situs yang berdiri di tepi jalan.

Akhirnya kami sampai juga di curug ciomas atau karawangnya green canyon. Saya lirik jam di tangan kiri saya baru pukul 10.30, masih cukup pagi dan segar untuk berendam di curug.

Karena kami masuk melalui sisi kabupaten Bogor. Tarif masuk hanya dikenakan 5 ribu persepeda. Sedangkan jika masuk melalui sisi kabupaten Karawang yang hanya dipisahkan oleh jembatan. Tarif masuknya menjadi 10 ribu. Aneh ya..padahal gubernurnya masih sama. Hehehe.

Curug ciomas sepertinya sudah cukup memadai untuk menjadi tujuan wisata keluarga bagi warga sekitaran bogor dan kawarang. Di sekitar curug sudah tersedia lahan parkir bagi kendaraan roda dua dan empat. Jalanan menuju lokasi sudah berupa aspal mulus. Warung-warung kecil sudah ada di sekitar curug menjual berbagai minuman dan makanan. Bagi yang ingin berenang dan berendam tersedia ban dan jaket pelampung. Namun pengunjung tetap harus hati-hati dengan permukaan batu di dasar curug yang sangat licin. Belum lagi kedalaman curug yang lebih dari dua meter. Pelampung sebaiknya digunakan saat berenang mendekati air terjunnya.

Pupus sudah lelah kayuhan menanjak tadi. Kami semua menikmati kejernihan air curug saat berendam di sana. Tebing-tebing batu yang mengapit di sisi kiri dan kanan setinggi 10m dan memanjang 50m ke arah air terjun membuat curug terasa teduh. Warung makan dekat di tepi curug memudahkan kita memesan minuman panas untuk diseduh saat tubuh menggigil oleh dinginnya air curug.

Kegembiraan berendam di mini green canyon ini harus kami akhiri saat adzan zuhur berkumandang. Saatnya berkemas mengeringkan badan dan mengayuh kembali pulang ke rumah. Total 75 km pergi pulang terbayar dengan pemandangan indah dan air terjun yang jernih. Sesaat setelah Adzan ashar saya pun tiba di rumah. Luar biasa.. Beberapa hasil bidikan kamera di lokasi curug ijinkanlah saya berbagi di bawah ini.

Koordinat Curug Ciomas:

-6.542589, 107.177639

Foto keluarga sebelum mengayuh pulang