Singapura adalah negeri pencakar langit, ini tidak diragukan lagi. Di sini perkantoran dan hunian berlomba menjadi yang tertinggi satu sama lain. Setiap hari warganya punya kesempatan untuk berada di dataran tinggi dengan view sekitarannya yang luas tanpa repot dengan aklimatisasi ketinggian <^_^>.

Jika pembaca berpikir warga di sini hanya dapat menghalau rutinitas melalui jogging atau berlari di taman sekitaran apartmentnya saat weekday, dan berjalan-jalan di mall-mall modern yang tinggi menjulang saat weekend. Itu tidak sepenuhnya salah, tapi tidak juga sepenuhnya benar. Negeri ini bisa dibilang punya kombinasi antara modernisasi dan ekosistem alami.

Singapura punya hutan hujan tropis alami terselip di antara lebatnya gedung-gedung pencakar langit yang tinggi. Ibarat mutiara yang baru terlihat saat cangkang kerasnya kita sibak.

Jika anda casual turis yang sedang mengeksplorasi singapura saat weekend. Tidak ada salahnya mencoba mencapai puncak tertinggi Singapura kala pagi hari atau sore hari. Anda akan terkejut dengan adanya hutan alami dan penghuninya yang hanya berjarak beberapa kilometer dari orchard road yang terkenal itu.

Beberapa area hutan singapura sudah pernah saya jelajahi sebelumnya dengan gowes. Beberapa yang sudah pernah saya tulis di blog ini adalah gowes ke pulau ubin dan gowes ke bukit timah nature reserve. Yang disebut terakhir hanya berjarak 12km dari pusat kota.

Kawasan cagar alam Bukit Timah minggu lalu kembali saya jelajahi. Tidak dengan sepeda, tapi dengan berjalan kaki. Kebetulan kerjaan mengharuskan saya untuk berada di satu site lab saat weekend, yang mana site ini berlokasi cukup dekat dengan Bukit timah. Minggu pagi setelah berjibaku menyelesaikan deadline sepanjang malam, waktunya meluncur ke bukit timah. Tujuan saya adalah mencapai titik tertinggi singapura saat elevator dan lift belum ditemukan di dunia ini. Karena jika menggunakan lift, masih ada bangunan buatan manusia yang lebih tinggi dari puncak bukit timah ini.

Arloji di tangan kiri menunjukkan pukul 6 pagi saat saya berangkat dari site menuju bukit timah dengan bis. Jalanan masih gelap tapi perlahan kemudian matahari pagi berangsur muncul dengan cerah.

Saat bis tiba dekat kaki bukit. Saya lirik jam ditangan sudah pukul tujuh. Di dekat halte terlihat satu restauran India yang sudah berjualan. Pas sekali dengan perut ini yang sudah menghiba minta di isi sebelum dibawa mendaki jalan terjal yang mungkin ada di depan nanti.

Al Azhar Resto. Depo pengisian perut sebelum mulai mendaki.

Sarapan sudah, teh hangat sudah. I am ready..tinggal mata aja nih yang masih bisa gak ya diajak kompromi paling gak hingga 2 jam ke depan.

Dari restaurant di seberang mall beauty world. Jangan minta saya bercerita apa itu isinya mall beauty world ya. Cukuplah sebagai penanda lokasi saja. Google map menuntun saya menuju Hindhede road sebelum masuk ke kawasan bukit timah nature reserve. Saat melewati dua jembatan penyeberangan saya melihat satu peleton sepeda balap berseragam sedang konvoi di jalan bawah jembatan tempat saya berdiri. Minggu pagi memang waktunya komunitas RTI (Round The Island) mania untuk cusss muterin pulau ini. Dulu saya dan teman-teman pernah juga gowes muterin singapura seperti pernah saya tulis di sini. Kami butuh dua belas jam saat itu! Dan para peleton sepeda balap saya dengar biasanya hanya butuh lima jam saja memutarinya! Luar binasa. ^_^.

Peleton road bike, rapi dan berseragam.

Setelah saya tiba di Hindhede road terlihat plang besi besar yang menunjukkan bahwa kita sedang memasuki kawasan bukit timah nature reserve.

Bersamaan dengan kedatangan saya, banyak terlihat pengunjung datang ke situ dengan memanggul ransel besar di punggung. Mereka pasti pencinta kegiatan panjat gunung yang menjadikan kawasan ini sebagai tempat latihannya. Agak tertawa dalam hati melihat ironi ini. Mereka naik gunung kecil ini dengan membawa ransel. Lha saya…cukuplah membawa beban kerja minggu ini untuk dilempar jauh-jauh saat di atas nanti ^_^.

Welcome to Bukit Timah Nature Reserve. Hindhede Road ada di balik plang ini.

Saat pertama memasuki kawasan nature reserve itu saya beruntung sekali dapat melihat monyet liar di atas pepohonan yang masih dekat sekali dengan jalan raya dan pemukiman warga. Jadi terasa benar-benar akan memasuki suatu kawasan hutan.

Good Morning monkey..

Sebelum memulai pendakian mini ini, saya melihat ada banyak pesepeda gunung sedang berkumpul di dekat jalur masuk cagar alam khusus untuk trek MTB. Sudah tidak adanya biaya masuk, ditambah lagi kebaikan pengelola untuk sengaja  memisahkan antara jalur MTB dan jalur hiking. Semua dapat menikmati jalurnya masing-masing. Dan jalur menuju puncak bukit timah hanya dibolehkan dengan hiking atau berjalan kaki saja. MTB dilarang masuk jalur pendakian.

Pesepeda gunung sedang bersiap memasuki trek MTB Bukit Timah.

Di awal memasuki kawasan cagar alam ini kita akan melewati area parkir. Lalu jalan yang sudah mulus teraspal akan mulai mendaki. Di atas area parkir berdiri visitor centre kawasan cagar alam ini.  Toilet juga tersedia di sini. Ada baiknya ‘kelebihan muatan’ kita di buang dulu di sini sebelum mulai mendaki. Kalau anda berani buang muatan di jalan monggo saja lanjut terus resiko dilaporkan ke jagawana ditanggung sendiri ^_^.

Dengan mengunjungi visitor centre. Gambaran sejarah pertempuran heroik bukit timah saat perang dunia 2 bisa kita dapatkan. ternyata bukit timah ini merupakan salah satu titik pertempuran hebat antara pasukan Jepang saat menginvasi asia melawan pasukan sekutu yang saat itu lebih dahulu menduduki Singapura. Dan bukit timah ini adalah titik awal pasukan Jepang untuk menguasai Singapura.

Visitor Centre di dekat gerbang masuk bukit timah.
Miniatur bukit timah. Luas aktual 163 hektar dgn titik tertinggi 163.6 m

Selepas visitor centre kemiringan jalan sudah lebih dari 45 derajat, ekstrem sekali untuk lutut-lutut dan dada yang tidak terbiasa naik gunung seperti saya ini. Sekitar 400 m kemiringan yang terjal ini harus di lewati dengan payung pepohonan besar yang rimbun disertai ramai suara burung, monyet dan tokek, membuat letih badan dan segarnya pikiran saling berlomba mempengaruhi diri ini.

Di ujung Stiff slope. Lutut dan jantung di forsir di tanjakan awal.

Bagian pertama pendakian dengan kemiringan yang ekstrem telah selesai didaki. Kemiringan mulai berangsur ramah untuk lutut. Jika lelah masih melanda tak perlu khawatir. Di tiap ujung sektor pendakian tersedia shelter untuk pendaki beristirahat sebelum lanjut ke sektor berikutnya.

Dari shelter ini pendakian ke puncak bukit dapat memilih jalur yang lebih ramah untuk lutut dengan kontur jalan beraspal atau jalur yang ekstrem terdiri dari tangga-tangga curam yang langsung menuju ke puncak bukit timah. Karena hari masih pagi dan masih ada sisa tenaga,  saya pun mencoba jalur pintas ini.

Pilihan jalur menuju puncak

Entah berapa puluh atau ratus anak tangga yang sudah saya pijak untuk sampai ke puncak.  Kalau dihitung dari jam berangkat saat di mulut jalan Hindhede road tadi ada kira-kira 40 menitan saya tempuh hingga ke atas.

Kaos basah kuyup oleh keringat, bahkan kacamata pun tak bisa digunakan saking banyaknya keringat mengucur dari dahi dan mengenai lensanya. Nafas sudah kembang kempis setelah dipakai untuk memompa kaki melewati tanjakan dan anak tangga yang terjal. Memang hutan dengan tingkat kelembapan yang tinggi membuat keringat lebih mudah mengucur dari kulit. Ini seperti masuk sauna di pagi hari. Tapi gratis ^_^.

Setiba di puncak bukit timah. Sudah banyak pengunjung yang lebih dahulu tiba.  Rupanya minggu pagi hari adalah waktu favorit untuk mendaki puncak bukit ini. Dari usia kakek nenek, om dan tante serta kakak adik terlihat sedang beristirahat di shelter yang dibangun di puncak bukit timah ini. Di sebelah shelter terdapat sebongkah batu besar berukuran 2 kali 2 meter yang bertuliskan “Bukit Timah Summit” dengan rinci menuliskan 163.63m sebagai ketinggian di titik ini dari permukaan laut, ada ditulis pula koordinat latitute dan longitudenya.

Dataran puncak bukit timah

Jangan bayangkan pemandangan dari puncak bukit ini akan seperti puncak-puncak gunung di Indonesia yang menghadirkan panorama dataran di bawahnya.  Sekeliling puncaknya tertutupi oleh kerimbunan pepohonan hutan yang rapat. Tapi jangan salah..udaranya segar sekali dan dengan suara-suara burung dan monyet hutannya membuat kita serasa berada di tengah hutan borneo. Padahal nyatanya ini hanya 12 km dari Orchard road.

Karena tulisan “Bukit Timah Summit” yang terdapat di batu. Sudah pastilah batu besar ini jadi daya tarik lokasi swafoto para pengunjung. Paling tidak bisa menjadi suatu bukti bahwa puncak tertinggi di Singapura pernah dijejak.

Setelah beristirahat beberapa menit di puncak bukit. Saya lalu kembali turun melalu jalan aspal biasa, tidak melalui anak tangga seperti saat mendaki.  Dari jalan aspal ini saya bisa lihat ada banyak percabangan untuk lebih masuk ke dalam cagar alam bukit timah ini. Jika anda termasuk orang yang suka dengan sensasi tersesat dalam petualangan. Cabang-cabang jalur ini sungguh suatu pilihan. Bagaimana dengan saya? Kantuk di mata sudah mengalahkan adrenalin di diri ini memaksa saya untuk cepat kembali ke apartment.

Pilihan jalur alternatif ke labirin cagar alam. Untuk yang gemar menyesatkan diri.

Total perjalanan naik dan turun ini dengan istirahatnya saya catat sekitar hampir dua jam. Benar-benar olahraga dan petualangan pagi yang mengesankan.

Petunjuk lokasi.

– Dengan transportasi massal Bis dan MRT. Turun lah di halte atau stasion kereta Beauty World di daerah Bukit timah.

– Dari Beauty World mall dapat berjalan kaki ke Hindhede Road untuk mencapai gerbang masuk Bukit Timah Nature Reserve.

– Rata-rata perjalanan normal hingga ke puncak adalah 45 menit dan lebih singkat lagi saat turun.

– Siapkan bekal minum yang cukup karena kelembapannya akan membuat keringat mengucur deras.