“Gowes gak bisa kencang ?” Gak masalah kok..yang penting sampai.

Okay ..mungkin sobat gowes akan berkata itu hanya berlaku untuk saya, tidak untuk sobat. Atau mungkin..saya menulis itu sekedar pembelaan atas kelemahan diri saya.. Atau bisa jadi, itu malah ada di benak sobat gowes semua ?😀

Bagi saya gak bisa kencang dalam hal kayuh mengayuh sepeda itu bukan berarti suatu kelemahan. Itu hanya artinya kita menjadi lebih lambat sampai ke tujuan. Dunia gak akan terbalik karenanya. Pulang ke rumah masih ditungguin keluarga. Kalau kita orangnya masih asyik, temen gowes  besok-besok juga akan mengajak gowes lagi (pasti dong..menjadi lebih cepat dari yg lain itu sesuatu kok..hehe).

Gak bisa kencang itu cuma sekedar pedal kita gak bisa berputar sama cepat dengan pedal goweser di depan kita kok. Pernah gowes bareng ? coba mana ada gowes bareng lalu sepedanya pada berjajar menuh-menuhin lebar jalan..harus konvoi dong, dan itu artinya bakal ada yang kebagian posisi belakang. Biasa aja lah jadinya kalau kita ada di ekornya konvoi gowes.

Apalagi kalau gowes nanjak..beuh. Pernahkan sobat merasa gowesannya kok lebih lambat dari alur sinetron TV Indonesia? 😀. Mau sampai ke puncak tanjakan saja seakan menunggu jarum jam kantor bergerak ke posisi jam pulang. Lamaa…Ini saya rasakan sekali saat menjalani gowes bareng di pulau Bintan. Waktu itu sengaja mengambil posisi sweeper buat modus saja karena gak bisa gowes kencang. Rute yang isinya tanjakan-tanjakan itu rasanya kok lama banget ya finishnya.

wp-image-492755658jpg.jpg
Gowes bareng di Bintan. Gowes enjoy, nikmati bentang alam yang ada.

Jadi sebenarnya masalahnya di mana gowes gak bisa kencang tuh ? Beberapa goweser di berikan anugerah volume paru-paru yang besar, otot-otot betis yang kencang. Beberapa goweser rutin melahap tanjakan dan berhasil meningkatkan performancenya. Lalu..mengapa kita, saya, masih selalu saja posisi di belakang sih ? Mengapa tidak bertekad keras merutinkan diri melahap tanjakan-tanjakan untuk melatih otot ?

Buat saya pribadi..saya gak ada masalah menjadi yang paling lambat, menjadi yang paling belakang. Saya gowes karena gowes itu menyenangkan, dan saya menikmatinya. Itu saja. Saat naik di atas sadel sepeda dengan dua kaki mengayuh pedal. Saya merasa tiba-tiba serasa 20 tahun lebih muda 😁. Semua memori petualangan saat kecil melintas dalam kepala saya bersama hembusan angin jalanan.

Setelah masuk dunia kerja saya sudah habiskan beberapa juta untuk mempercepat mobilitas saya dengan membeli motor. Beberapa dari kita bahkan menghabiskan puluhan hingga ratusan juta untuk mobil agar dapat mempercepat mobilitas saat bersama keluarga. Kita lalu menjadi terbiasa cepat  dalam perjalanan di setiap hari-hari kerja. Lalu jika saat weekend segala sesuatu berjalan lebih lambat dari biasanya bukankah itu sesuatu yang perlu dinikmati?

Saya menikmati gowes lebih dari sekedar keinginan untuk menjadi yang tercepat. Saya menikmati setiap momennya duduk di atas kuda besi hasil inovasi manusia modern ini, bersama teman-teman yang sehobi, dengan pemandangan indah di setiap perjalanan.

Bersepeda itu menantang, bukan pada saat balapan untuk menjadi yang tercepat. Tapi saat medan menjadi sulit dengan tanjakan yang menghadang. Saat mental dan fisik kita mendekati batas, tapi garis finish belum terlintas. Itu lah bagi saya yang membuat gowes selalu menarik.

Dan akhirnya..tahukah sobat..yang paling menantang itu adalah saat melihat tanjakan di depan mata lalu kita  berkata dalam hati :

“ayo! ..bawa sepeda ini ke atas. Dia gak mungkin dengan sendirinya naik ke atas”.

Lalu akhirnya berkata dengan pedenya pada goweser lain barengan kita :

“Bro..ente duluan… Saya susul ente di atas”

~ see you on top ~