Jonggol sebagai kecamatan besar di Bogor Timur sedang berbenah. Tidak cuma terkenal dengan selebrita Sony wakwaw yang konon bapaknya ada di jonggol. Tapi jonggol juga punya segudang tujuan wisata petualangan yang tak ada habisnya untuk di eksplorasi.

Bagi pecinta hiking dan mendaki gunung sekitar jabodetabek Gunung Batu Jonggol mungkin sudah seperti halaman belakang rumah sendiri. Yang tidak gampang dihampiri dan didaki saking dekatnya dari jakarta (50km) dari pintu tol jagorawi cibubur.

Dua pekan lalu saat saya bersepeda di seputaran sodong jonggol. Saya melihat spanduk besar tentang adanya goa terpanjang di Bogor siap dijadikan ikon wisata alam di jonggol. Wah..mesti cepat-cepat di sambangi nih. Sebelum jadi terlalu ramai oleh pengunjung.

Akhirnya minggu pagi kemarin saya berangkat juga mencari goa Ciwadon dengan bersepeda. Lokasinya kalau mengikuti isi spanduknya adalah di desa cibodas jonggol. Artinya saya harus sampai di desa cibodas dulu dong agar dapat mencapai lokasi goanya dengan tepat.

Jam 6 kurang dikit saya berangkat. Rencananya sebenarnya ingin jam 5.30 teng pedal dikayuh. Tak dinyana ternyata ban depan belakang agak kurang angin. Terpaksa pemanasan dulu mompa ban. Beres urusan isi angin ban. Tak diduga ternyata si mama baru saja membeli nasi uduk buat si bungsu yang mau futsal. Apa daya setelah kecapean mompa ban terpaksa nasi uduk si bungsu dibajak dulu buat sarapan bapaknya hehehe. Gak apa-apa lah. Lha wong dianya juga masih lama futsalnya. Biar ntar dibelikan lagi oleh mamanya. Dan akhirnya jam 6 baru bisa benar-benar keluar rumah.

Seperti biasa dari jalan raya cileungsi jonggol saya belok ke arah jalan rawa ilat yang lebih sepi. Jam segitu kendaraan masih sepi dan kabut masih menggantung diantara pepohonan. Cahaya matahari yang masih pendek di ufuk membuat pendar berkas cahaya putih. Kabut seperti terbungkus oleh pipa-pipa sinar mentari membentuk sudut jatuh ke bumi.

DSC_0178-01
Jalan rawa Ilat yang masih sepi berselimut kabut

Jalan rawa ilat ini melewati belakang taman buah mekar sari cileungsi. Dibatasi oleh pagar tembok yang memanjang hampir satu km. Tak heran udara terasa lebih segar saat melewatinya. Mestinya karena masih adanya taman dan pepohonan di sebalik pagarnya. Namun sejuknya udara segar hanya bisa dinikmati tak lama saja. Tak jauh setelah pagar taman buah mekarsari terlewati. Lubang jalanan dalam menggangga sudah menghadang. Lubangnya memenuhi seluruh badan jalan. Gak ada sepetak jalur pun bisa saya pilih untuk dilalui tanpa membuat ban menjadi tergenang. Ya sudahlah, sedalam-dalamnya kubangan air ini tidak akan membuat sepedanya mogok kan. Sepedanya memang tidak mogok sih, tapi sepatu terpaksa basah terendam dalam kubangan saat pedal dikayuh pada posisi terbawah, demi menghindari mogok.  Hehe.

Kubangan tak diinginkan sudah terlewati. Sepeda terus kukayuh hingga ujung jalan rawa ilat lalu belok ke jalan bojong. Melewati kebun-kebun penduduk dan beberapa perumahan dengan kontur jalan sedikit rolling saya lalu berbelok kanan ke jalan kelapa nunggal. Dua km dari situ lalu berbelok kiri ke jalan pasir jagung yang menuju mata air sodong.

Setelah belokan ini sepeda lalu meluncur di jalan mulus di tengah-tengah persawahan dengan latar belakang gunung leutiknya jonggol. Dinamakan leutik karena ketinggiannya yang masih ratusan meter saja, sesuai dengan arti leutik yang bermakna kecil. Walaupun gunungnya kecil namun tetaplah indah dijadikan latar foto si sapeda dong.

DSC_0183

DSC_0180
Gunung Leutik Jonggol di latar belakang

Di depan saya melihat seorang goweser sedang mengayuh perlahan menunggu truk pasir di depannya pergi berlalu. Setelah saya berhasil menyusulnya, basa basi sedikit menanyakan dari mana mau ke mana. Ternyata tujuan si om adalah mata air Sodong.

“Bapak mau gowes ke mana ?”  balik bertanya si om-nya.

“Oh..saya mau gowes ke goa Ciwadon”  saya mencoba memancing rasa penasarannya.

“wah ..di mana itu pak ? ” mata  si om nya terlihat membesar saat bertanya balik. Yes..ternyata benar, tak semua goweser tahu di mana letaknya goa ini. Berarti saya bukanlah goweser ‘kudet’ dong, alias kurang update.

“mmm…goanya sih setelah sodong..di desa cibodas”  Jawab saya sedikit sok tahu. Maksudnya kalau saya terlihat pede mungkin dia mau ikut juga tercebur dalam rasa penasaran yang sama ini. hehehe.

“Wah masih di atas lagi ya pak..saya sampai sodong aja ah. Masih ada perlu siang ini”  Jreng..jawabannya meruntuhkan asa gowes bersama saya. Ya sudah memang nasib saya harus berpetualang sendirian kali ini.

Si masnya lalu terus melaju mendahului saya saat saya sebentar berhenti untuk mengambil foto pemandangan yang ada di sini. Mata air sodong yang berada di balik tanjakan berketinggian 100 m , dengan semangat pagi dapat saya libas tanpa nafas pas-pasan. Maklum udaranya masih segar tenaga pun besar. Tapi saya masih penasaran sebenarnya ingin tahu lokasi tepatnya si goa ini dari penduduk setempat di sini, Eh kok ndilalah pas lagi ganteng-gantengnya nyepeda di turunan dekat mata air saya lihat tukang tambal ban sudah buka dan sedang menambal ban premotor yang bocor. Buru-buru saya rem sepeda untuk menanyakan arah goa Ciwadon ini.

” Kalau mau ke goa ciwadon, masih 10 km lagi dari mata air arah ke desa cibodas pak”..ramah si tukang tambal ban memberitahu.

” nanti ketemu satu-satunya pertigaan di tanjakan, bapaknya ambil yang kanan”. lebih jelas lagi si bapak empunya motor yang bocor menambahkan.

Wah sepertinya petunjuknya sudah jelas. Di satu-satunya pertigaan setelah sodong saya harus ambil arah kekanan menuju desa jonggol. Sepuluh km masih ok lah buat dengkul dengan udara pagi sebagai ‘engine coolernya’. Sip saya lanjut naik ke sadel dan lepas rem warung makan di Sodong untuk istirahat sembari minum susu jahenya yang terkenal.

Warung Sodong pagi itu  sekitar jam 7.30 baru ada tiga goweser termasuk saya berhenti di sana. Setelah menggantungkan sepeda di bilah bambu panjang sebagai tempat parkirnya, saya langsung pesan susu jahe dan membuka perbekalan nasi uduk dan bakwan goreng yang sempat saya bawa pagi itu. Tak berapa lama makin banyak goweser yang datang untuk mampir. Suasana makin hangat dan dari percakapan saya dengan goweser lain di sini hanya ada satu orang saja yang pernah ke goa ciwadon. Dan dia tidak bermaksud mengulanginya pagi ini..apalagi dengan gowser tampang nubi seperti saya ini wkwkwk. Its okay..tiap orang punya kesukaannya sendiri-sendiri dalam bersepeda, punya agendanya masing-masing. Yang penting saling berbagi informasi dan memberi semangat sesama goweser harus terus di jaga. Setengah jam di sana setelah ngobrol sana sini tentang sepeda, sayapun pamit dan lanjut bersepeda ke tujuan saya. Goa Ciwadon.

DSC_0186
Warung Sodong

Dari mata air sodong jalanan konturnya cenderung miring. Tapi masih sedikit saja sih kemiringannya sehingga masih bisa sepeda saya atasi. Di sepanjang perkampungan di lereng gunung kecil ini saya terkesima oleh hijaunya halaman rumah penduduk oleh rerumputan jepang macam di taman-taman perumahan elit di Jakarta. Hebat euy warga di sini punya selera taman yang baik. Sungguh pelintas dimanjakan oleh pemandangan hijau nan bersih dari perkarangan mereka. Eits tapi di depan salah satu rumah penduduk saya lihat ada banyak tumpukan rumput taman ini dibiarkan di pinggir jalan. Oalaah ternyata itu adalah hasil panenan rumput warga situ yang menunggu di ambil oleh mobil pickup dan dibawa ke kota. Jika anda lihat penjual rumput taman di pinggiran jalan Jakarta. Bisa jadi rumput tersebut berasal dari desa Sodong ini.

Selain pekarangan rumah yang menghijau bak taman di perumahan elit kota. Desa ini dikelilingi oleh sawah yang menghijau dan di beberapa lokasi yang berlereng akan membentuk persawahan berundak seperti di Bali. Sedap lah pemandangan yang didapat mata.

DSC_0189_20170314010329030

DSC_0188
Sawah datar dan sawah berundak, gak tau kenapa suka aja melihatnya

Sepeda terus dikayuh. Dari sedikit miring, lama-lama terasa jalanan aspal ini menjadi pendakian yang membuat nafas ini putus nyambung putus nyambung. Dari odometer sepeda sudah 5 km saya mendaki. Baru separuh perjalanan ke lokasi jantung dan paru-paru seakan tidak mau kompromi dengan semangat di hati. Jalanan menanjak dan berkelok. Setiap menemui kelokan di atas hati ini selalu bertanya akankah selepas itu terdapat jalan melandai untuk sedikit jantung ini berleha-leha ? Pertanyaan ini segera terjawab saat ada motor penduduk yang menyalip saya lalu  setelah motor menghilang di kelokan deru mesinnya malah terdengar semakin keras. Wah ini pertanda di balik kelokan ini saya masih harus menanjak lagi. Kadang terbersit keinginan untuk menyudahi saja. “Mungkin hari lain dengan teman yang lebih banyak saja saya gowes ke goa ciwadon ini”… Bisikan-bisikan sesat mulai terdengar di hati ini. Bismillah niat sudah di ucap pantang kalau balik lagi ke bawah tanpa membawa cerita, paling tidak bukti foto goanya lah. Pelan-pelan sepeda terus digowes dengan sabra. Saya tidak mau sering-sering lihat speedometer sepeda karena sekali saya pernah lihat indicator kecepatan saya hanya 5 km/jam saja. lha ini gowes atau jogging sih wkwkwk.

DSC_0191
Sumpah..ini aslinya tanjakan loh. (caption maksa)

Akhirnya setelah 8 km menggowes saya sampai dipertigaan yang di maksud. Saya langsung ambil cabang yang ke kanan. Wedeww..di depan masih menunggu tanjakan lagi tapi jalanannya terlihat lebih lurus tanpa kelokan. Semangat..tinggal sedikit lagi bisa sampai saya berusaha menyemangati diri. Di titik sini mata ini tidak tahu kenapa kok malah terasa ngantuk dada kembang kempis memompa jantung yang dipaksa mengaliri darah hingga ke ujung kaki ini. Dari atas sudah mulai berpapasan dengan goweser yang entah kenapa terlihat bahagia dan ganteng-ganteng dengan jersey nya. Apa ini efek turunan ganteng atau karena diri ini yang seakan menjadi korban yang teraniaya oleh tanjakan sadisnya Jonggol ? wkwkwk..Tidak apa-apa..nanti saat tiba di puncak itulah saatnya saya merasakan kebahagiaan pencapaian hari ini. Siapa tahu ada goweser lain yang akan naik ke atas dan melihat kegantengan saya saat meluncur turun dengan cepat. hehe.

Kalau informasi dari bapak di sodong itu akurat. Artinya dua km di depan saya sudah mendekati lokasi goa Ciwadon di desa cibodas. Dengan harapan seperti ini saya menggowes dengan lebih semangat karena tahu perkiraan jarak ke tujuan. Sepeda telah melewati SDN Cibodas di sebelah kanan. Dan benar saja tak jauh dari SD tersebut berdiri kantor kepala desa Cibodas.

DSC_0194
Kantor desa cibodas. Di sebelah kirinya ada pertigaan menuju goa ciwadon

Yess sepertinya saya telah tiba dekat lokasi. Di depan kantor desa ada dua truk ukuran tiga perempat terparkir dan suasana di depan kantor terlihat ramai. Tadinya saya pikir truk itu habis membawa rombongan pengunjung ke goa ciwadon tapi ternyata itu digunakan oleh warga yang akan mencoblos di pilkades cibodas yang berlangsung di hari minggu itu.

Sambil istirahat saya dekati pak hansip untuk menanyakan arah ke goa ciwadon. Dari balai desa cibodas pak hansip memberitahu saya untuk belok ke kanan di pertigaan tepat setelah balai desa jika ingin ke goa. Kalau ambil yang kiri itu arah turun ke alun-alun kecamatan jonggol. Goa ciwadon berada 1.5 km arah turun dari pertigaan ini.

Saya langsung semangat mendengar kata “turun”. Setidaknya saya dapat mengistirahatkan dengkul saat meluncur ke lokasi goa nanti. Tapi ternyata itu tinggal harapan.  Jalanannya memang turun. Tapi kondisinya berbatu-batu besar, sulit sepeda untuk meluncur dengan mudah tanpa dikayuh sama sekali.

Hati-hati sepeda saya kayuh agar tidak tergelincir diantara batu-batu jalanan. Sekitar 1 km saya melihat kompleks pusdiklat satpam. Ada patung satpam berdiri dengan tegap di depan gerbangnya. Lokasi kampusnya tepat di sisi kiri jalan diatas lembah. Benar-benar tempat latihan satpam yang ideal. Latihan di lembah dalam hutan. Tentara saja kalah tuh. Kira-kira 200 m kemudian di kanan jalan saya melihat papan petunjuk lokasi goa Ciwadon. Alhamdulillah akhirnya sampai juga.

_20170312_091824
Lokasi goa. Harus turun ke arah kanan utk mendekati goa.

Saya lihat lokasi ini sudah dipersiapkan sebagai tujuan goweser jonggol. Parkiran sepeda yang biasa terbuat dari bambu panjang berdiri 1 m di atas tanah sudah tersedia. Sudah ada warung kecil menjual pop mie dan minuman hangat. Toilet dan tempat sholat pun disediakan. Ternyata informasi dari bapak yang empunya warung. Pemerintah setempat memang menyiapkan lokasi ini sebagai daya tarik wisata alam jonggol. Lokasi ini akan dijadikan pemda jonggol sebagai Kampung Sunda Siliwangi dengan goa Ciwadon sebagai maskot utamanya. Karena dari cerita rakyat yang tersebar turun menurun di sini. Goa Ciwadon dahulu konon merupakan petilasan Prabu Siliwangi saat melakukan tapa semedi di wilayah kerajaannya. Wajar jika sekarang pemerintah lokal ingin menjadikannya sebagai Kampung sunda Siliwangi.

Sebelum menuju lokasi goa pengunjung dapat melihat bangunan rumah sunda kuno yang terbuat dari gedhek bambu. Pintu rumahnya dibuat macam gapura seakan menyambut kedatangan tamu pengunjung.

DSC_0163
Rumah adat sunda siliwangi. Ada guidenya jika ingin mendapat cerita tentang rumah ini.

Untuk menuju goa dari parkiran sepeda saya harus sedikit turun melewati jalan tanah lebar 1 meter yang sepertinya dibuat untuk jalur keluar masuk pengunjung ke lokasi goa. Di sisi kanan jalannya setiap 2 meter terdapat tiang tempat meletakkan lentera untuk penerang malam hari. Pintu goa dengan diameter 2 meter berlokasi dibawah akar pohon besar. Masuk ke dalam goa artinya kita harus turun melewati batu-batu di depan goanya. Goa Ciwadon bertipe goa karst, kata penduduk sini banyak mahasiswa dan peneliti goa datang mengeksplorasi goa Ciwadon ini hingga masuk jauh ke dalamnya. Pengunjung yang ingin mengetahui kondisi dalam goa pun dapat menyewa jasa penduduk sini yang biasa masuk ke dalam goa. Tentunya dengan memberikan sejumlah imbalan yang katanya om di warung sodong besarnya 50 ribu sekali jalan dengan menggunakan penerang senter saat mengeksplorasinya.

DSC_0162

DSC_0161

DSC_0156
Goa ciwadon. Berada dibawah sebuah akar pohon besar dengan jalam setapak pendukung akses menuju goa

Satu yang membuat  saya gak tahan berlama- lama di dekat goa. Nyamuknya nya banyak sekali. Setiap saat saya harus mengkibas-kibaskan tangan untuk mengusir nyamuk-nyamuk itu.

Selain goa ciwadon sebenarnya ada lagi obyek wisata alam di dekat sini yang masih sedikit terjamah pengunjung. Curug sedong namanya. Tapi untuk mencapai curug ini masih harus menanjak lagi jalan kaki 1.5 jam ke atas. Sepeda sama sekali tak bisa digunakan. Mungkin lain kali harus saya datangi curug tersebut. Sudah cukup rasanya melihat-lihat goa ciwadon yang bikin penasaran sini.

Pulang dari goa perjuangan justrus lebih berat dibanding saat datang. 80 persen jalan yang dilalui membuat saya harus menuntun sepeda saking besarnya batu-batu yang ada di jalanan. Setelah setengah jam genjot dorong genjot akhirnya sampai juga di pertigaan desa cibodas. Kemeriahan pilkades makin terasa. Sehingga jalanan turun menuju jonggol yang seharusnya tinggal meluncur saja diatas sadel tidak bisa terwujud. Saya harus sabar menunggu kendaraan besar di depan mendapatkan jalurnya dan pelan-pelan sepeda dikayuh agar tidak menyenggol motor dan warga yang lalu lalang. 200 meter sepeda harus melalui kemacetan di dalam desa..fuih. Akhirnya kosong juga jalan di depan saya dan bisa membuat sepeda meluncur dengan cepat.

Saat sedang meluncur ke bawah, setiba di suatu jalanan yang sisi kirinya lembah membuat saya ingat kalau jalur ini saya pernah lalui saat naik dari perumahan citra indah jonggol. Saya ingat di depan ada warung desi yang legendaris di kalangan goweser sini sebagai rest area.

20170312_093522_20170314010235545
Kalau spot lembah ini sudah terlihat saat turun dari cibodas. Warung Desi sudah ada di depan kanan jalan.

Dan benar warung desi terlihat ada di sebelah kanan jalan. Saya pun berhenti untuk istirahat. Pesan teh manis hangat dan menghabiskan pisang goreng empat sambil melihat si Desi yang baru kali ini saya bisa lihat dengan mata kepala sendiri. Wkwkwk..sebelumnya saat mampir sini yang melayani mpok-mpok yang sudah tua.

DSC_0197
Warung Desi. Lokasinya yang di puncak jalur pendakian sepeda menjadi tempat istirahat favorit. Sempat digosipkan akan tutup permanen saat Desinya dilamar orang. Ternyata itu hoax.

Setelah setengah jam kongkow diwarung DesiI. Istirahat selesai dan tenaga pulih kembali. Saya pun kembali meluncur ke bawah. Karena saya sudah ingat kembali dengan jalur ini sepedapun dibelokkan ke jalur yang memintas hingga perumahan Citra Indah jonggol. Selepas gerbang citra indah sepeda masuk ke jalan raya jonggol arah ke cileungsi. Konfirm ini jalur yang biasa saya tahu untuk menuju arah pulang. Tinggal ikuti saja kepadatan jalan siang itu akhirnya saya tiba di rumah tepat jam 12 siang. Not bad lah untuk rekor ekspedisi nanjak 350 m dpl sepanjang 50 km ini. Siap untuk ekspedisi berikutnya.

Catatan :

Koordinat GPS Goa Ciwadon Jonggol:

-6.511583,107.014264