Pagi itu, masih menyisakan dinginnya hujan semalam dan mentari masih malu-malu menampakkan dirinya. Sekitar pukul 5.30 saya ditemani si anak nomor dua sudah mengayuh sepeda kami keluar dari kompleks.

Tumben memang anak nomor dua saya ini mau ikutan gowes pagi sekali. Sekali dulu ayahnya pernah ajak dia  gowes offroad di trek dekat rumah. Seringnya sih bermain futsal dengan temannya di kala weekend. Tapi sepertinya sabtu ini tidak ada futsal bersama, makanya dia mau ikut gowes dengan saya. Pokoknya apapun alasannya. You’re always welcome son. Senang banget bisa duet gowes dengan cah lanang dewe.

Gowes saya kali ini gak jauh-jauh amat. Bukan karena Amat aja gak jauh-jauh gowesnya. Tapi lebih karena mengajak goweser junior minim pengalaman serta goweser senior yang minim koleksi rute hahaha.. Jadi kami gowes ke mata air sodong jonggol saja.

Jarak ke mata air sodong dari rumah kami kira-kira 20 km dengan kontur jalan rolling dan saat mendekati lokasi tujuan jalan akan didominasi oleh tanjakan. Cocok buat gowes duet macam kami ini lah.

Keluar dari kompleks dari jalan raya cibubur cileungsi kami ambil jalan kampung rawa ilat yang lebih sepi. Ternyata bukan saja sepi ini jalan. Tapi pagi itu juga terasa dingin dan kabut masih terlihat menggantung di antara remang pepohonan di depan kami. Walau terasa sedikit mistis, tapi sejuknya pagi berhasil mengalirkan hormon relaxing si endorfin dalam tubuh ini. Saya merasa fresh, rileks dan tenang. Itulah ya kenapa waktu pagi adalah pilihan yang pas untuk berolahraga.

Setelah gowes melewati perkampungan dan kebon-kebon penduduk kami pun sampai di jalan bojong. Saatnya untuk berbelok dan gowes ke arah barat untuk menuju mata air sodong.

Persis di pertigaan bojong kami berpapasan dengan empat om-om yang datang bersepeda dari arah timur. Sedangkan kami datang dari arah utara.

Kami belum pernah bertemu sebelumnya. Namun sepeda membuat kami seakan berasal dari satu keluarga besar yang sama, keluarga goweser.

Si om, yang juga akan ke sodong. Mengajak kami untuk gabung mengikuti rutenya. Dan saya pun tak mampu menolak ajakan ramahnya. Kalau mereka mengundang goweser lain seperti kami. Tentu ada sesuatu yang baru yang mereka ingin sajikan. Pun keinginan saya menambah koleksi rute-rute mblusukan yang masih minim ini membuat kami pun mengekor dengan patuh di belakang mereka.

Jalanan yang mereka pilih tidak melalui jalan aspal yang biasa saya dan komunitas saya lalui jika gowes ke sodong. Sejak dari pertigaan tempat kami bertemu mereka sudah mengambil jalan masuk gang kecil arah ke selatan melewati kampung-kampung penduduk.

Jalan yang kami lalui hanya cukup untuk papasan motor saja. Kami pun hanya bisa gowes dalam satu baris. Kadang saat jalan cukup lebar untuk dilalui berdampingan kami pun bercakap untuk mengakrabkan diri. Mereka tinggal di satu kampung dekat Jonggol dan kebanyakan bekerja di perusahaan yang sama di daerah cileungsi.  Sabtu ini mereka libur kerja dan tidak ingin menyia-nyiakan waktu senggang di akhir pekan mereka. Gowes dengan sohib kantor menjadi salah satu pilihan mereka.

Gowes melalui gang-gang kecil membuat kita bisa melihat lebih dekat keseharian warga saat pagi. Kita seakan menjadi bagian dari pagi mereka. Mengucapkan salam pagi, mengucapkan kata permisi dengan penuh ketulusan selalu mendapat respons balik yang ramah dan akrab. Bagi saya itu ramah tamah di atas sepeda yang menyenangkan.

Kami hormati pekarangan mereka, ruas jalan mereka dan mereka pun akan menyambut kami dengan hangat walaupun hanya dengan sekedar tanya: “gowes dari mana nih?”…atau “kok cuma segini yang gowes?”.

Buat kami yang terbiasa dengan kesibukan kerja dan individualitas itu seakan menjadi sebuah sambutan yang sangat hangat. Namun bagi warga desa itu sih sangat biasa, mengalir dan menjadi tradisi sopan-santun dan keramahan terhadap sesama.

Setengah jam gowes mblusukan masuk keluar kampung akhirnya kami tiba di tepian persawahan yang sangat luas. Luas sekali, sejauh mata memandang hanya persawahan, tanpa perkampungan sama sekali.

Foto keluarga baru. Satu sepeda sejuta sahabat.
Foto keluarga baru. Satu sepeda sejuta sahabat.

Nun jauh di belakang tampak pegunungan jonggol tegak berdiri seakan menyangga bentang alam yang indah ini. Dan yang membuat nafas kami seakan tercekat sesaat karena lukisan alam yang indah ini adalah selimut kabut yang menggantung rendah mendekati persawahan di bawahnya. Seakan sang kabut dan mentari pagi berlomba memberikan keindahannya sebelum pergi meninggalkan posisi mereka sekarang ini.

Bentang alam yang indah. Berdindingkan gunung dan beratapkan kabut pagi.
Bentang alam yang indah. Berdindingkan gunung dan beratapkan kabut pagi.

Magnificent sekali trek yang dipilih si om ini. Jempol banget pemandangannya. Memang tidak ada jalan aspal untuk kendaraan bermotor, hanya ada pematang diatas sawah cukup untuk satu sepeda lewat di atasnya. Karena itulah kabut seakan masih setia menaungi, tak terusir oleh panas mesin dan deru kendaraan.

Kami gowes santai saja melewati persawahan di kanan dan kiri kami. Sesekali kami harus berhenti. Antri satu demi satu melewati pematang sempit dan licin. Gear sepeda saya ubah ke setelan bawah agar kontrol traksi roda menjadi lebih terasa pada pedal.

Sesekali kami melewati pematang yang banjir karena luapan saluran air akibat debit air yang bertambah setelah hujan semalam.  Kebanyakan trek hanyalah tanah pematang becek dan berlumpur. Nah kondisi inilah yang menjadi gowes kali ini menjadi penuh tantangan. Tubuh harus lihai menjaga keseimbangan di atas sadel sepeda. Kalau gak yakin, saya akan jejakkan saja kaki di permukaan pematang. Menggeser maju sepeda dengan menolakkan kaki pada pematang, tak usah dikayuh atau resikonya hilang keseimbangan lalu byuur tercebur di sawah.

Benar-benar mblusuk sawah ini.
Benar-benar mblusuk sawah ini.

Kami terus mengayuh sepeda kami. Tujuan kami adalah kampung di bawah pegunungan di depan kami. Jika lewat jalan biasa, jarak yang 7 km ini hanya perlu di tempuh setengah jam kira-kira. Tapi karena kami lewat pematang tengah sawah. Setengah jam gowes sepertinya kami baru melewati setengah perjalanan ke kaki pengunungan di depan.

Gowes dengan hati yang terpesona dengan keindahan alam pagi ciptaan Yang Maha Kuasa sungguh memberi sensasi relaxing dan menyegarkan mata. Kemana mata memandang hanyalah hijau sawah dan biru pegunungan.

Mengayuh di atas permukaan pematang yang lembek membuat kayuhan kami menjadi lebih berat tentunya. Namun udara yang segar membuat tenaga yang terbuang seakan cepat terganti seiring udara segar yang terhirup masuk paru-paru kami.

Akhirnya setelah lebih dari satu jam gowes di antara persawahan tibalah kami di kaki pegunungan jonggol. Kami harus menanjak untuk dapat masuk ke dalam perkampungan yang ada di kaki lerengnya. Gowesan final dengan ban yang penuh dengan lumpur sawah kami lakukan dengan harapan segera menemukan jalan beraspal di perkampungan tersebut.

Alhamdulillah setelah termehek mehek gowes nanjak dengan jantung terpompa deras dan mata mendelak delik, pipi yang kempas kempos dalam tiap kayuhan. Kami pun tiba di peradaban desa itu.

Setelah sedikit orientasi arah. Ternyata kami berada di lokasi di sisi yang lebih tinggi dari mata air sodong yang biasa menjadi tujuan goweser sini. Artinya kami hanya perlu duduk diatas sadel dan ikuti gaya tarik bumi saja untuk tiba di mata air sodong.

Mata air sodong. Saya tak pernah lihat ia menyurut.
Mata air sodong. Saya tak pernah lihat ia menyurut.
Mata air sodong kali ini sudah dilengkapi dengan kolam renang sungguhan. Untuk anak-anak tentunya.
Mata air sodong kali ini sudah dilengkapi dengan kolam renang sungguhan. Untuk anak-anak tentunya.

Si om yang telah berbaik hati mengajak saya menikmati jalur yang terindah yang pernah saya lalui, memberi tahu mereka akan terus nanjak ke atas menuju jonggol melewati punggung gunung. Luar biasa sekali semangatnya. Sedangkan kami duet goweser ini akhirnya memilih segera kembali ke rumah. Saya putuskan tidak usah mampir ke warung tempat goweser biasa beristirahat di mata air sodong ini karena air minum kami juga masih cukup tersisa.

Tapi akhirnya di pertigaan antara jalan bojong dan rawa ilat kami menyerah kepada bisikan kriuk kriuk yang berasal dari perut kami. Sepeda kami tepikan sejenak di samping gerobak abang penju ketoprak pinggir jalan. Satu piring ketoprak dengan cabe satu biji cukup memanaskan karbohidrat yang masuk dalam perut. Lalu kami pun gowes kembali dengan semangat menuju rumah. Simple happines in the morning.