Satu pekan sibuk berkutat dengan kerjaan. Beberapa hari belakangan malah hujan dengan selimut dinginnya masih ingin mendekap bumi. Akhirnya penghujung minggu tiba dengan mentari bermurah hati bersinar hingga ia berada diatas kepala kita.

Dan minggu adalah pilihan yang tepat untuk mereset semua deadline dan beban kepala. “Recharge” diri dengan energi positif yg terbarukan setiap minggu.

Minggu pagi teng jam 6. Saya sudah keluarkan sepeda dan meluncur di jalan. Tujuan saya kali ini adalah mata air sodong jonggol. Sudah hampir setahun saya tidak pernah gowes ke sana. Tahun lalu lokasinya terlihat berantakan karena sedang ada pembangunan di sana sini dekat mata airnya. Harusnya setahun ya sudah beres dong proyeknya.

Dari jalan raya Cileungsi saya masuk ke jalan desa rawa ilat. Pagi-pagi gowes lewat kampung dengan kebun di kanan kiri jalan pasti memberi jatah udara segar lebih banyak dibanding lewat jalan besar.

Pagi itu mentari belum terang sekali. Di beberapa lokasi yang saya lewati masih ada sedikit kabut yang tersisa. Motor-motor yang datang dari depan masih menyalakan lampunya. Saya pede sajalah gowes tanpa lampu. Yang penting ambil jalur yang terpinggir dan selalu waspada dengan kendaraan yang datang dari depan.

Beberapa pesepeda membunyikan belnya saat berpapasan dengan saya. Sepertinya hanya saya yang pagi itu gowes ke arah sodong nih. Karena gak pernah menyalip dan disalip oleh goweser lain. Malah seringnya papasan dengan yang datang dari depan.

Asyik juga gowes dengan kanan kiri kebun-kebun rimbun milik penduduk. Walau begitu di setiap beberapa km selalu saja bisa ditemukan komplek perumahan bersaudara. Saya sebut bersaudara karena penamaannya selalu menggunakan angka sih. Habis lewat Puri Harmoni 3 nanti beberapa km kemudian ada perumahan Puri Harmoni 4. Perumahan ada juga senioritas yak. Hahaha.

Dari jalan rawa ilat lalu saya berbelok ke jalan bojong. Konturnya sudah mulai rolling naik turun. Tapi kondisi jalan masih beraspal cukup baik lah. Gak bikin pinggang ajrut-ajrutan. Masih dengan kebun-kebun dan perumahan penduduk di kanan kirinya. Dan minggu pagi sepertinya para ibu masih malas masak nih. Terlihat dari ramainya mereka antri di setiap penjual nasi uduk atau nasi kuning yang berjualan di depan perumahan atau gang kecil. Mungkin tukang sayurnya libur dulu. Saat minggu tukang sayur juga perlu “me” time keleus. Hehehe.

Setelah mengayuh diantara belantara kebon dan jalan perkampungan, Caela..akhirnya saya pun berbelok kiri ke jalan berpenunjuk arah lokasi desa wana wisata linggar mukti. Hanya mengayuh sekitar 100 m sekejab kemudian pemandangan di hadapan saya berubah menjadi terang, udara terasa lebih segar oleh hijau persawahan.

Pemandangan sawah dan gunung di depan selalu membuat ingin gowes ke sini

Kepala ini langsung fresh..mak kemapyar setelah melihat suguhan pemandangan hijau seperti ini. Di kanan kiri pemandangan kebun-kebun berganti menjadi sawah menghijau. Di beberapa tempat terlihat ibu petani yang sedang menanam padi. Memasukkan satu demi satu bibit padi dalam tiap jengkal sawahnya. Bibit padinya dimasukkan rapi dalam 4 – 5 barisan kemudian di selingi oleh alur yang kosong. Pola yang indah dilihat.

Kalau sudah sampai persawahan menghampar seperti ini. Pemandian sodong sebenarnya tinggal gowes menanjak 5 km lagi. Tapi nun jauh di sebelah kanan di bawah kaki gunung terlihat kompleks bangunan megah. Berdiri mencolok di tengah persawahan hijau dan berbeda dengan rumah-rumah petani yang ada di sekitarnya.

Tergoda untuk melihat langsung bangunan tersebut, apalagi di pinggir jalan tanah selebar satu kendaraan itu terpampang tulisan kolam renang joglo. Jadi makin penasaran deh. Apakah ini waterpark di tengah sawah?  Ya sudah daripada kebanyakan bermain tebakan dan menggantung rasa penasaran yang lalu terbawa hingga pulang ke rumah. Saya ubah tujuan gowes saya jadi ke lokasi ini.

Dengan mantab mengayuh pedal ini melewati pematang selebar 3 meter. Tiba-tiba baru saja 200 m gowes sudah dihadang oleh genangan banjir di jalur depan saya. Karena banjirnya hanya menggenang sepanjang 100 m saja dan saya lihat ada lanjutan jalan yang sama di depannya. Yo wes gowes tak gentar saja. Konsekuensi sepatu dan kaos kaki basah saya ambil, demi bangunan pujaan hati depan.  Hahaha.

Gowes tak gentar melewati banjir. Sepatu, kaos kaki jadi tumbalnya

Banjir terlewati, saya masih harus mengayuh di tengah-tengah pematang yang mengarah ke kompleks bangunan megah itu. Akhirnya satu km kemudian tibalah saya di dekat kompleks bangunan itu.

Komples bangunan seperti istana berbenteng. Pagi itu sepi sekali tanpa aktivitas.

Saya lihat ada mas-mas dengan sepedanya sedang asyik ngobrol dengan temannya yang duduk di atas motor. Sepertinya mas pesepeda ini warga sekitar dari pakaian yang dia gunakan bukanlah macam pesepeda-pesepeda dari jauh yang “full gear and attire” hehehe. Saya coba tanya saja tentang bangunan ini.

“pagi mas..abis sepedaan ya?..mas nya tahu ini bangunan apa ya?”  tanya saya ke mereka.

“oh pagi pak.. Katanya sih ini studionya Indosiar. Biasanya buat syuting sinetron-sinetron kolosal gitu deh”  Balas si mas pesepeda.

“oh..ini toh yang dipakai untuk syuting Saur Sepuh itu..?” Jawab saya sok tahu. Asli..sinetron kolosal yang paling saya ingat ya Saur Sepuh saja. #penggemar sinetron dan drama radio  80 an#. Wkwkwk.

“lah..bukan saur sepuh pak..itu mah dah lama. Ini untuk sinetron-sinetron yang baru-baru ini..” tegas si mas pesepeda.

Yo wes lah. Saya gak mau diskusi lebih dalam lagi tentang dunia persinetronan Indonesia dengan masnya. Saya langsung pamit ke mereka untuk lanjut gowes melihat-lihat bangunan yang ada.

Bangunannya didirikan sengaja menyerupai bangunan-bangunan kerajaan jawa kuno dengan  gerbang yang mirip dengan gerbang candi atau pura di pulau Bali sana.

Gapura masuk berciri hindu macam gapura yang ada di Pulau Bali ya.

Di bagian depan komplek bangunan. Ada bangunan induk besar berbentuk macam istana kerajaan dengan beberapa bangunan joglo di tengahnya. Bangunan-bangunan ini di kelilingi oleh tembok tinggi. Persis sekali dengan benteng kerajaaan jawa kuno.

Di sisi samping ada satu bangunan yang atapnya mirip dengan bangunan khas negeri gajah putih thailand. Mungkin kalau di sinetronnya, ini akan jadi markas kerajaan musuh seberang lautan kali ya..#sotoy lagi.

Salah satu bangunan yang mirip dengan bangunan negeri Gajah Putih

Bangunan beraksitektur kerajaan kuno yang berdiri di tengan hamparan persawahan hijau dan berlatar belakang pegunungan ini benar-benar memberikan gambaran suasana  kerajaan jaman lampau jika dihadirkan di layar TV kita. Bagi saya yang menyaksikannya langsung dengan menggunakan sepeda. Ini seperti saya sedang bersepeda di tengah persawahan-persawahan yang menghampar di Bali. Dengan pura, sawah menghijau, sungai kecil yang jernih dan gunung yang berdiri kokoh di latar belakang.

Di sekelilingnya hanyalah hamparan sawah menghijau dan beberapa kebun kayu milik rakyat. Kombinasi rendahnya pepadian dan tingginya pohon-pohon di perkebunan ditengah sawah, memberikan komposisi alam yang menarik untuk diabadikan eui..

Bali..in your backyard.. Alhamdulillah satu setengah jam saja gowes dari rumah

Lama juga saya mengayuh sepeda pelan-pelan menikmati segarnya pagi di kompleks studio alam ini. Rencana awal saya yang ingin finish di mata air sodong terpaksa saya batalkan. Karena sebelum dzuhur saya ada janji dengan tamu yang akan menemui saya di rumah. Akhirnya dengan rasa puas oleh tuntasnya penasaran dalam hati. Saya pun mengayuh sepeda pulang. Sampai di rumah masih ada waktu untuk bersih-bersih sepeda, istirahat dan bercengkrama dengan keluarga sebelum acara saya bersama tamu siang itu. Pagi-pagi rasa tamasya Bali pun tuntas dengan sempurna.