Sering sepedaan di singapura ternyata membuat saya bisa melihat banyaknya bangunan-bangunan kuno di Singapura ini. Kalau masa lalu dengan mantan tak perlu dikenang-kenang lagi. Tapi masa lalu sejarah suatu bangsa perlu dong kita ketahui dengan mengunjungi peninggalannya. hahaha.

Lagipula dalam banyak kesempatan berkenalan dengan warga singapura beretnis melayu. Kerap saya dengar mereka menyebut nama lengkapnya dengan nama yang mirip dengan nama tetangga rumah saya di Bogor yang dari jawa. Selidik punya selidik lah ternyata memang sejak tahun 1800an lampau nenek kakeknya orang jawa banyak yang merantau ke singapura ini.

Sepedaan hari minggu lalu saya niatkan untuk melihat jejak-jejak orang jawa di singapura. Lebih khususnya lagi saya mau cari tahu tentang kampung bawean yang terkenal itu. Kenapa kampung Bawean terkenal sih ? emang benar terkenal kah ?

Bawean terkenal kok, setidaknya buat masyarakat melayu di singapura dan Malaysia ? gak percaya ? ya udah saya juga gak maksa hehehe. Di Indonesia Bawean adalah pulau kecil tuh. Udah pulaunya kecil, mayoritas warga di sana adalah para wanita dan anak-anak. Karena para lelaki nya banyak merantau ke negeri lain.

Minggu lalu saya dan om Havas ingin menyusuri jejak para pendatang dari Bawean ini di Singapura. Saya baca-baca katanya dulu para pendatang ini tinggal di suatu daerah di Singapura yang disebut sebagai kampung Kapor dan ada Masjid Baweannya pula.


Berangkat agak siangan hampir jam 8 pagi, gara-gara harus buang muatan sisa kemarin. Selesai buang muatan kok tergoda lihat nasi lemak yg dijajakan, ya udah isi muatan dulu deh sebelum perut di goncang-goncang di atas jalanan.

Setelah rapi jali persiapan sepedaan dan isi muatan, sepeda pun dikayuh untuk bertemu dengan om Havas di restoran Teh Tarik bedok. Setengan jam gowes saya tiba di tempat temu duga ini. Jabat tangan tak lupa lalu saling tanya apa saja yang dibawa eh baru ngeh ternyata si om Havas belum bawa helm. Ya udah kita balik dulu deh ke apartmentnya si om. Helm penting loh buat gowes. Seperti kata iklan : Buat kepala kok coba-coba.bhahaha

Helm sudah berada di singgasananya. Sepeda langsung meluncur cuss ke TKP. Kita kali ini memilih lewat jalan raya biasa saja. Soalnya hari minggu mestinya jalanan lebih lenggang dan bersahabat untuk sepedaan. Kami gowes dari arah timur pulau lalu mengarah ke barat. Melewati kawasan pemukiman yang asri dengan rumah-rumah besar di pinggir jalan.

Pagi memang best time for cycling. Goweser di depan masjid malabar
Pagi memang best time for cycling. Goweser di depan masjid malabar


Enak gowes di minggu pagi melewati kawasan pemukiman. Bisa lihat bagaimana warga sekitar menghabiskan waktu minggu paginya dengan duduk-duduk cantik di restoran, sarapan roti prata sambil nyeruput kopi atau teh Tarik panas.

Sampai suatu ketika kami melewati satu kawasan lampu merahnya Singapura : Geylang. Kalau lewat kawasan ini memang kita harus melewati banyak lampu merah sih. Tapi bukan itu yang dimaksud kawasan lampu merah loh ..kekeke. Namun karena saat malam hari di kawasan ini banyak kupu-kupu malam nangkring di sekitar kawasan ini. Tapi pagi itu..tidak terlihat kupu-kupu satu pun. Syukurlah.. kalau gak bakal grogi deh kayuhan kami takut nabrak kupu-kupu yang beterbangan.

Walaupun tidak ada kupu-kupu yang menghiasi kawasan ini saat pagi. Sebenarnya kawasan Geylang ini bangunan rukonya cantik-cantik berwarna warni dengan langgam arsitektur peranakan. Sehingga suasana pagi yang kami lewati di sini terasa cerah dan segar.

Kawasan lampu merah Geylang yang indah kala lengang
Kawasan lampu merah Geylang yang indah kala lengang


Habis melewati Geylang, kami melewati kawasan kampung Glam dekat Masjid Sultan. Di sini dulu terdapat kampung Jawa yang pertama di Singapura, tapi sekarang malah di beri nama Arab Street. Kenapa di beri nama Arab street ? Au ah gelap. Suka-suka pemerintah sini. Nanti saya gali lagi deh informasinya.

Selepas Masjid Sultan, kalau mengikuti petunjuk Google Map kami harus belok ke kanan menyeberang Jalan Besar. Sorry pembaca, bukannya lebay. Ini emang jalannya bernama jalan Besar. Seriusan besar, ada 10 m lah lebar ruasnya. Enak ya cara penamaan jalannya .

Nah setelah di seberang jalan ini kami lalu gowes masuk ke dalam jalan yang lebih kecil namanya jalan Verasamy. Gak berapa lama gowes, kami lalu melihat papan nama Kampung Kapor road. Yes..akhirnya kami sampai juga di lokasi.

Dari literatur yang saya baca. Di sepanjang jalan Kampung Kapor inilah dulu para pendatang Bawean tinggal. Mereka tinggal di Pondokan dua lantai yang dibangun berderet di sepanjang jalan ini. Lantai atas untuk pasangan yang sudah menikah, dan lantai bawah untuk para bujang dewasa dan anak-anak.

Pondokan orang bawean jaman dulu. Sekarang kosong melompong
Pondokan orang bawean jaman dulu. Sekarang kosong melompong


Mereka pertama kali tercatat dalam sensus Singapura di tahun 1849. Lalu berkembang dalam jumlah puluhan ribu di tahun 1930an. Kebanyakan mereka bekerja di perkebunan, pelatih kuda dan dalam proyek-proyek pembangunan jalan oleh pendudukan Inggris saat itu. Lalu kebanyakan lanjut menetap di Singapura hingga beranak cucu dan menjadi warga negara Singapura.

Kebanyakan Pondok  dibangun di awal 1900an. Om Havas di depan ex pondok bikinan  1924
Kebanyakan Pondok dibangun di awal 1900an. Om Havas di depan ex pondok bikinan 1924


Kabarnya saking banyaknya keturunan Bawean yang tinggal dan bekerja di Singapura. Mereka pun kerap mengirimkan uangnya ke kampung halamannya di Bawean. Tak heran kalau saya sekelebat mendapat info di pulau Bawean ada suatu jalan yang di beri nama jalan Goh Chok Tong, sang mantan Perdana Mentri sini. karena dibangun oleh swadaya masyarakat dari tabungan dollar yang dikais di Singapura. Bahkan kalau kita mau berbelanja di pulau Bawean dengan Dollar Singapura pun mereka bisa menerima sebagai alat bayar. Keren yak

dsc_0057_20170224060920250

Beberapa pondok dgn arsitektur cantik masih berfungsi sbg Ruko
Beberapa pondok dgn arsitektur cantik masih berfungsi sbg Ruko


Kembali lagi ke peninggalan orang Bawean di kampung Kapor. Saat kami di sana. Ternyata pondok-pondok yang dulu ditinggali oleh mereka masih ada tegak berdiri. Tapi sekarang kosong melompong terlihat tua dan kusam karena tidak ditinggali. Dari cetakan di temboknya tertulis tahun 1924. Hampir seratus tahun ya umurnya. Pikiran saya melayang membayangkan bagaimana suasana pondokan saat itu..Eh malah ingat sinetron Pondokan yang dulu di putar di TVRI dengan ibu Hebringnya ..wkwkwk.

Penampakan rumah pondok tua kusam tak berpenghuni.
Penampakan rumah pondok tua kusam tak berpenghuni.


Setelah itu saya penasaran untuk mencari sisa-sisa Masjid Bawean Kampung Kapor yang pernah saya lihat di suatu website. Kabarnya Masjid itu di ratakan dengan tanah pada tahun 1980. Sekarang jadi apa ya ? Saya coba cari dengan mencocokkan foto bangunan tinggi mencolok yang ada di belakang Masjid dengan kondisi yang ada sekarang.

Eureka..akhirnya ketemu juga. Bangunan tinggi itu adalah pusat pertokoan Sim Lim yang terkenal itu. Dan ternyata sekarang Masjid nya sudah rata dengan tanah dan berganti menjadi calon bangunan MRT (Mass Rapid Transportation ) Singapura.

Foto bawah Masjid Kampung Bawean sebelum 1980. Foto atas lokasi sekarang yang sudah jadi stasion subway MRT
Foto bawah Masjid Kampung Bawean sebelum 1980. Foto atas lokasi sekarang yang sudah jadi stasion subway MRT


Para kakek nenek yang berasal dari Bawean tentunya sekarang ada yang masih hidup yak, dan anak-anaknya mungkin masih ingat masa kecil mereka di Kampung Kapor ini. Tapi sekarang mereka sudah pindah tersebar dan tinggal di apartment-apartment yang didirikan oleh pemerintah. Rumah boleh berganti dan pindah..tapi kenangan pasti akan terbawa terus..hehehe bapeer.

Akhirnya kami anggap eksplorasi hari itu cukup sudah. Menyenangkan bisa mengenal dan mengunjungi jejak-jejak perantau dari jawa di Singapura. Sepeda kami kayuh balik kearah timur di mana kami tinggal. Alhamdulillah sebelum dzuhur sudah tiba kembali di apartment.