Sudah lama saya mendengar adanya warung sate klathak yang kondang di Jogja. Sebagai orang yang doyan makan apalagi keluarga besar juga berasal dari Jogja. Saya jadi cukup mengenal makanan-makanan khas Jogja lainnya seperti gudeg, bakpia, yangko, atau geplak. Makanan-makanan tersebut sudah tersebar dan mudah di dapatkan di kota Jogja. Bahkan restoran-restoran waralabanya juga sudah bercabang di kota-kota lain di Indonesia. Tapi untuk sate klathak hingga saat ini saya belum bisa menemukan warungnya di Jogja. Apalagi di luar kota Jogja. Hehehe ini kuper atau kudet yak.

Akhirnya keinginan untuk merasakan nikmatnya kuliner sate yang unik ini kesampaian juga saat saya berkunjung ke keluarga besar di Jogja minggu lalu. Saya niatkan untuk pergi mencari kebenaran sensasi memakan sate bertusuk ruji besi di sate klathak pak Pong yang terkenal itu. Cukup banyak informasi mengenai cara menuju ke warung sate klathak pak Pong ini bisa di dapat di internet. Saya catat saja salah satunya sebagai pedoman pencarian saya.

Sore itu memang pas perut lagi lapar-laparnya setelah seharian gowes menyusuri candi-candi di Jogja lalu nanjak ke tebing breksi. Perut yang lapar dan hati yang penasaran akan nama sate klathak pak Pong yang tersohor membuat diri ini serasa akan pergi kencan pertama dengan sang pacar :-D.

Dari kota Jogja saya berkendara motor melalui jalan Imogiri Timur lewat perempatan Giwangan. Mengikuti informasi yang saya telah dapat. Saya harus terus melaju hingga KM 10 perempatan lampu merah setelah SMP 1 Pleret lalu saya belok ke kanan. Sate Klathak pak Pong terletak 500 m sisi kanan jalan setelah perempatan ini.

Warung satenya pak Pong. Di seberangnya masih ada lagi warung pak Pong juga
Warung satenya pak Pong. Di seberangnya masih ada lagi warung pak Pong juga


Mudah sekali menemukan warung sate ini. Tulisan hitam “Sate Klatak Pak Pong” tercetak besar-besar di banner papan nama di atas warung sate ini. Saat saya tiba pengunjung tidak terlalu ramai di sate klathak pak Pong yang menggunakan dua kios untuk melayani pengunjungnya. Sepertinya masih ada satu kios lagi di seberang jalan yang digunakan untuk melayani pengunjung berkendaraan roda empat. Di situ tempat parkirnya lebih luas, tidak seperti yang di kanan jalan yang hanya cukup untuk parkiran roda dua. Tapi jangan khawatir. Di manapun anda memarkirkan kendaraan. Anda bebas memilih ingin makan di warung yang sisi mana. Karena ada pak sekuriti yang sigap membantu anda menyeberang jalan di depan warung sate ini.

Sore hari itu pengunjung sudah agak ramai. Beruntung masih tersisa satu meja kosong agak menjorok ke dalam. Bukan posisi yang nyaman sebenarnya karena jika masuk ke dalam pencahayaannya menjadi kurang terang. Tapi tak apalah, yang penting bagi saya adalah sate Klathak yang tersohor ini sebentar lagi akan ada di hadapan saya siap untuk disantap.

“Mau pesan apa pak?” tanya si mbak yang sigap menghampiri.

“Sepuluh tusuknya berapa mbak harganya?” ingin tahu saya apakah harganya ringan di dompet atau tidak 🙂

“oh..di sini jualnya per porsi pak, satu porsi dua tusuk dengan isi delapan daging pertusuknya plus nasi dua puluh ribu. Cukup kok pak buat satu orang”. Jelas si mbak.

Gak pake banyak mikir dan melihat-lihat daftar menu lainnya lagi. Saya langsung tepat sasaran saja memesan sate klathak satu porsi dengan minumannya es jeruk manis. Di luar dugaan saya, kurang dari lima belas menit pesanan telah datang ke meja saya. Padahal saya sudah bersiap untuk sabar menanti datangnya sate pesanan saya. Maklumlah, karena biasanya warung sate yang laris dan ramai pengunjung akan membuat proses pembakaran sate hingga penyajiannya butuh waktu yang lama. Mungkin pak Pong punya banyak alat pembakar sate, jadi pelayanan ke pengunjungnya bisa lebih cepat.

Nyam-nyam..potongan dagingnya murah hati sekali
Nyam-nyam..potongan dagingnya murah hati sekali

Porsi yang datang persis sesuai dengan penjelasan si mbak pelayan. Dua tusuk sate dengan satu tusuknya berisi delapan potongan daging kambing berukuran setengah jari jempol orang dewasa. Porsi yang memang cukup mengenyangkan perut, apalagi diitambah dengan sepiring nasi untuk menemani kunyahan satenya.

Benar seperti yang banyak diceritakan orang-orang. Satenya menggunakan tusuk sate dari ruji sepeda yang panjang dan bengkok di pangkalnya. Kalau saya perkirakan panjang tusuknya ada tiga puluh CM. Ini sepertinya agar daging sate bisa masak hingga ke lapisan bagian dalamnya tanpa membuat lapisan luarnya menjadi gosong kehitaman. Satenya di sajikan di atas piring cekung berisi kuah gulai kambing. Aroma kuah gulainya hangat menggoda.

Saat kunyahan pertama masuk ke mulut saya. Satenya terasa menggunakan bumbu yang sederhana namun pas untuk menu bakar. Saya merasa ada rasa garam dan merica dalam sate bakarannya, bumbu yang pas untuk sate kambing. Tidak ada bumbu kecap dalam sajiannya. Tapi bumbu-bumbunya meresap dalam dagingnya hingga ke dalam. Lalu nasinya bisa dimakan dengan tambahan siraman kuah gulainya membuat nasi menjadi lebih lembut sekaligus nikmat untuk dikunyah.

Sungguh sajian satu porsi sate klathak pak Pong ini cukup mengenyangkan perut dan memanjakan lidah. Satenya yang lembut membuat kunyahan demi kunyahan enak untuk diresapi . Dagingnya mulus meluncur dari tusukannya hingga masuk ke mulut kita. Karena penggunaan tusuk sate yang dari besi ruji membuat dagingnya tidak lengket pada tusukannya.

Satu porsi tandas dalam sekejap. Dengan es jeruk dingin sebagai penutupnya. Saya merasa episode makan saya kali ini seperti memuaskan hasrat petualangan rasa yang lama tertunda. Sangat berkesan. Apalagi hanya dengan merogoh dua puluh tujuh ribu rupiah untuk semuanya. Benar-benar sore yang memuaskan selera.