Perjalanan terbaik kadang adalah yang tidak direncanakan sama sekali. Saya pikir begitu. Pun dengan gowes saya di Jogja jumat lalu. Saya berkesempatan gowes bersepeda menyusuri candi-candi jogja hingga ke tebing breksi.

Sebenarnya rencana utama saya ke jogja adalah untuk keperluan keluarga di desa almarhun ayah saya di pinggiran jogja. Mumpung ada hari libur lebih, saya sempatkan dan aturlah satu hari untuk bersepeda di jogja. Bagaimana dengan sepedanya? Dah terbayang ribetnya packing dan unpacking sepeda dari singapura hingga jogja. Akhirnya tanya mbah google deh rental MTB di jogja. Lalu ketemulah rental Soliter MTB Jogja dengan mas Wahyu Taman Bunga sebagai punggawanya.


Enak banget gowes pakai sepeda MTB rakitannya Soliter MTB joga ini. Settingannya pas membuat gear shifting empuk banget rasanya saat perpindahan gigi. Kayuhan pedalnya tetap enteng walau dengan size tapak ban serta kembangan yang besar. Jika minat mencoba sewa MTB di Jogja monggo deh kontak Soliter MTB di Hape 0878-3959-8865.

Sepeda sudah diatur, tiket singapura-jakarta-jogja sudah di tangan. Akhirnya kamis kemarin perjalanan saya di mulai dari singapura. Saya pilih naik flight malamnya Lion air supaya bisa berangkat setelah jam kerja. Sayangnya flight malam dari Singapura gak ada yang langsung ke jogja makanya saya harus ambil flight malam Singapura-Jakarta lalu lanjut flight pertama subuh-subuh dari jakarta ke jogja pakai Air Asia flight jam 5.50 pagi.

Landing di Jakarta pukul 9 malam. Saya langsung menuju ke hotel transit Ibis Budget Bandara menggunakan shuttle bis yang hotel sediakan. Hotel Ibis Bidget ini termasuk baru ternyata. Kali lain saya akan review deh tentang hotel ini.

Alhamdulillah bisa tidur dengan pulas walau hanya 3.5 jam. Setelah sarapan di hotel, langsung bergegas ke bandara untuk mengejar flight pertama Air Asia yang ke Jogja. Gak lupa, kudu harus musti mengawali hari dengan shalat Subuh di musholla Bandara. Pesawat take off sedikit molor jadi jam 6 pagi dan landing dengan mulus di bandara Adi Sucipto Jogja jam 7 pagi. Sugeng Enjing Jogja. Pagi yang benar-benar cerah jumat itu.

Setibanya di ruang kedatangan saya cek di pesan whatsapp hape ternyata mas wahyu taman bunga dari Soliter MTB sudah menyiapkan sepeda yang akan saya pakai di parkiran motor. Tinggal buka kode gemboknya bisa langsung cusss deh. Satu kendala saja: saya ada ekstra tas jinjing yang gak bisa dibawa gowes nih. Sebelumnya berdasarkan hasil googling seputar bandara adisucipto saya ketahui adanya konter penitipan tas di bandara ini. Eh kok ya kemarin pas saya cari ke lokasinya ternyata sudah ditutup oleh pihak bandara.

Aneh ya.. bandara internasional sekelas adi sucipto tidak ada fasilitas penitipan tas dan koper. Gak friendly banget buat pelancong transit. Mau gak mau masalah extra tas jinjing ini harus cepat ada solusinya nih. Masak iya saya gowes dengan ransel dibelakang serta tas jinjing gandol di handle bar. Hehehe. Tanya sana sini ke orang-orang yang ada, dan meminta ijin untuk menitipkan tas hingga sore hari tidak ada satu pun yang membolehkan. Wajar sih, mungkin mereka khawatir ada apa-apanya dalam tas saya.

Akhirnya, saya lihat ada konter warung telekomunikasi setelah terminal kedatangan yang dijaga oleh seorang ibu. Feeling saya berkata ibu ini mesti baik hatinya deh..lalu saya coba menceritakan apa adanya tentang masalah ” kabotan” tas ini..hehe. Ternyata si ibu yang baik hati mengerti kerepotan saya sehingga mengijinkan saya untuk menitipkan tasnya di dalam konter beliau..terima kasih ya ibu…you’re the best lah.

Urusan tas beres. Langsung saya ambil sepeda dan gowes keluar bandara. Tujuan awalnya dalam benak saya sebenarnya ingin nanjak aspalan ke kali urang. Jalan raya di depan bandara Adi Sucipto pagi itu ramai oleh bis-bis besar dan para pemotor yang pastinya akan berangkat kerja. Saat akan berbelok ke arah jalan kaliruang dan setelah melihat tapak ban serta kembangannya yang besar-besar. Sepertinya cocoknya untuk mblusukan masuk-masuk kampung nih. Ya sudah, akhirnya saya belokkan tujuan gowes saya ke arah prambanan. Saya ubah tujuan gowes hari itu menjadi ke tebing Breksi yang katanya seksih dan lagi hits banget di jogja.

Saya sebelumnya sudah tahu sih untuk ke tebing breksi kita harus gowes di jalan Solo hingga lampu merah prambanan lalu belok kanan. Nah saat sudah di jalan Solo sedang asyiknya gowes saya lihat ada papan Petunjuk arah Candi Sambisari. Langsung aja sepeda dibelokkan masuk jalan kampung menuju Candi Sambisari.

Asyik juga gowes masuk ke perkampungan penduduk. Sepi dari deru knalpot dan debu-debu jalanan. Pagi itu sekitar jam 8 jogja sudah mulai terlihat aktivitas warganya. Karena saya gowes masuk ke kampung ya akhirnya banyak melihat aktivitas keseharian warga.. Beberapa kali saya berpapasan dengan goweser jogja. Mestinya mereka baru kembali dari arah candi. Mau saya kasih salam kring-kring-an eh ternyata sepeda sewaannya tidak dilengkapi bel sepeda. Ya sudah saling lempar senyum saja lah. Pertanda senasib seperhobian hehehe.

Gak susah ternyata mencari Candi Sambisari. Setelah gowes kira-kira 5 km menyusuri jalan Sambisari akhirnya ketemulah lokasi candi. Luasnya seluas lapangan sepakbola. Kompleks candi berada 10 m lebih rendah dari permukaan tanah sekelilingnya. Saat datang ada anak-anak SD berseragam kaos sekolah sedang keluar dari kompleks candi. Enak ya..pelajaran olahraganya bisa jalan-jalan sambil berekreasi ke tempat wisata. Kemudian dengan pedenya saya tuntun sepeda masuk ke dalam kompleks candi. Eh tiba-tiba ada pak satpam yang datang menghampiri dan meminta saya memarkirkan sepeda di luar kompleks. Ya sudahlah gak jadi bawa sepeda hingga dekat-dekat candi. Cukup sepedaan mengelilingi kompleks candinya saja dan ambil swafoto buat bukti kalau sudah sampai sini. 😀

Petualangan susur candi dimulai dari candi Sambisari ini
Petualangan susur candi dimulai dari candi Sambisari ini

Puas melihat-lihat candi Sambisari, terpikir untuk cari jalan pintas menuju ke candi Prambanan. Karena Candi Sambisari dan candi Prambanan sama-sama berada di utara jalan solo. Saya pikir kalau mblusukan dari candi Sambisari melewati kampung-kampung penduduk nanti pasti akan sampai di candi Prambanan juga. Akhirnya saya bulatkanlah tekad mblusukan di sini. Mumpung sepedanya mendukung.

Dari candi Sambisari saya balik arah lagi ke selatan. Lalu di perempatan kampung pertama yang saya temui saya belok ke kiri. Dari sini prinsip gowes saya adalah harus terus lurus ke arah timur jangan ambil yang belokan ke kiri mestinya nanti akan ketemu Candi Prambanan. Gowesan pagi itu nikmat sekali. Jalanan kampung yang telah teraspal membuat gowesan jadi ringan. Kanan kiri masih persawahan dan diselang-selingi oleh rumah-rumah penduduk. Sampai suatu saat saya tiba dekat sebuah selokan air yang berada di sebuh percabangan dan ada bapak-bapak yang sedang asyik mancing. Saya konfirmasi kembali arah ke Candi Prambanan kepada si bapak yang dengan ramahnya lalu memberitahu untuk terus mengikuti selokan mataraman nanti akan bertemu jalan Solo. Ambil yang arah ke timur 3km kemudian bisa ketemu Candi Prambanan. Wah ternyata saya sudah berada di sisi selokan Mataram yang terkenal di jogja itu.

Asyik ternyata gowes di sepanjang selokan mataram. Nun di sisi selatan ada terlihat sebuah batu berpundak seperti candi. Saya bertanya dalam hati candi apa ya itu? Gak mungkin lah itu candi Prambanan yang seharusnya masih ada di sebelah timurnya lagi. Sebenarnya ingin ke sana tapi terikat rencana awal ke tebing Breksi melalui candi Prambanan akhirnya saya abaikan keinginan mendekati candi tersebut.

Terus saja gowes menyusuri selokan mataram. Kanan kirinya persawahan padi yang sudah tinggi menghijau. Setelah cukup lama menyusuri selokan Mataram akhirnya saya bertemu dengan jalan raya Solo. Gowes arah ke timur di sepanjang jalan Solo yang ramai pagi itu harus hati-hati. Gak banyak rombongan pesepeda yang saya temui. Akhirnya saya melihat papan petunjuk arah candi Prambanan dan panggung Ramayana di sebelah kiri. Saya belokkan sepeda saya ke sana. Tak lama di sebelah kanan saya sudah terlihat Candi Prambanan yang tinggi menjulang. Benar-benar monumen masa lalu yang Indah. Terletak di dataran yang luas kehijauan dengan sekitarnya yang masih banyak persawahan dan rumah penduduk tanpa bangunan-bangunan tinggi membuat Prambanan terlihat menjulang anggun menyeruak diantara pepohonan peneduh jalan. Makin saya percepat gowesan kali itu untuk menemukan gerbang pengunjung.

Akhirnya saya tiba di gerbang pengunjung. Sepertinya gerbang ini diperuntukkan untuk pengunjung sendratari Ramayana. Terlihat dari tata letak lampu sorot dan sebuah pelataran luas yang saya tebak itu pasti untuk pementasan Ramayana. Tapi dari posisi saya di situ, candi Prambanan sudah terlihat tinggi kok. Spot yang baik untuk swafoto nih. Buat bukti lagi kalau saya sudah gowes hingga Prambanan. 😀

Candi Prambanan di latar belakang
Candi Prambanan di latar belakang

Selesai menikmati keanggunan Candi Prambanan. Saya lanjutkan gowes hingga tujuan awal saya tebing Breksi. Saya balik arah lagi ke jalan Solo. Dekat situ ada lampu merah yang kalau dari google map seharusnya itu adalah persimpangan prambanan ke arah piyungan. Dari google map saya diminta belok kanan ke arah piyungan untuk mecapai tebing Breksi.

Setelah masuk jalan prambanan arah ke piyungan sudah pukul 9.30 pagi dan perut terasa kriuk-kriuk tanda minta di isi. Saya pun berhenti di warung soto daging sapi persis sebelum pintu perlintasan kereta. Kalau tidak salah namanya warung soto Trunojoyo deh. Sarapan dulu pemirsa… Saat akan pilih menu soto daging, saya teringat informasi yang ada di media tentang wabah antraks di kulonprogo yang disebabkan oleh konsumsi daging sapi yang terkena antraks. Wah..Mosok iya wabahnya meluas ke jogja. Mosok iya pemerintah gak ambil tindakan pencegahan penyebarannya. Yang lebih penting lagi..mosok iya saya gak jadi sarapan. Weleh-weleh sudah terlanjur janji sama perut tersayang..yo wes Bismillah saja nanti pesan dan makannya. Hehehe.

Lapeeer
Lapeeer

Sarapan soto daging seporsi plus es jeruk cukup membayar 17 ribu. Murah amat. Itu juga tadinya si ibu penjualnya sempat kelebihan pengembalian. Dikiranya uang saya 50 ribu, padahal sih 20 ribu. Coba mosok iya makan soto saya malah dibayar sama ibu warung. Kekeke😀
Kenyang oleh hangatnya soto daging itu. Saya lanjut gowes ke arah tebing Breksi melalui jalan Piyungan. Dengkul dan betis ini sudah siap melayani tuannya yang senang ngebolang ini. Terus menyusuri jalan piyungan. Kanan kiri jalan kalau ada toko-toko atau bangunan pemerintah pasti penamaannya ditambahi dengan kata Prambanan lah, candi Boko lah, Candi Ijo lah. Wajar lah, bukan numpang beken itu. Memang lokasinya di situ kok..😀.

Di kiri jalan saya bisa melihat adanya bukit kecil dan tebing sepanjang perjalanan saya. Saya pikir mestinya tebing Breksi sudah dekat ini, sok tahu ya..ternyata saya memang sok tahu 😀. Saya masih belum menemukan Tebing Breksi! Hingga akhirnya saya melihat plang petunjuk ke Tebing Breksi. Semangat kembali menggelora kala mengetahui tujuan sudah dekat. Tapi tuiiing..saya tertegun melihat jalan di depan berupa tanjakan curam. Saya lihat setelah tanjakan pertama kendaraan diatas terlihat berjalan mendatar lalu nanjak lagi hingga ujung tanjakan di atasnya. Saya lihat dari atas banyak anak-anak sekolah berjalan kaki turun ke bawah nampaknya baru selesai olahraga bersama atau hiking. Banyak juga anak-anak yang berjalan turun sambil bercengkrama dengan riangnya. Masa sekolah memang masa-masa yang indah.

Tekad sudah bulat pantang untuk mundur. Gowesannya sudah sampai disini masak lihat tanjakan terus puter balik. Akhirnya gowes lanjut pelan-pelan saja. Gear sepeda saya pindahkan yang paling kecil. Tapi tetap saja nafas saya gak bisa dibohongi. Kerap berhenti untuk mengatur nafas, mengistirahatkan dengkul ini yang kepanasan. Gowes lagi pelan-pelan istirahat lagi yang lama, gowes lagi pelan-pelan..hadeuh. Begini nih kalau gowes sendirian. Capek ditanggung sendirian. Gak ada yang menyemangati..apalagi mijetin paha yang keram. Widih ngeri banget kalau sendirian di tanjakan ini paha saya kram. Semangat terus pelan-pelan saya gowes putus nyambung- putus nyambung di tingkahi oleh sorakan anak-anak sekolah di pinggir jalan menyemangati saya membuat siksaan tanjakan ini agak terobati. Hingga akhirnya saya melihat belokan masuk ke tebing Breksi di sebelah kiri..horeee akhirnya 1.5 km tanjakan itu bisa saya lewati dengan waktu satu jam. Memalukan dunia perdengkulan ini 😀.

Tanjakannya uedann
Tanjakannya uedann

Istirahat sebentar sebelum masuk ke lokasi tebing Breksi. Lalu saya gowes ke dalam. Melewati loket karcis. Ternyata sepeda saya gak di stop dan dimintai retribusi alias gratis. Terima kasih ya pak. Segala siksa nestapa saat gowes nanjak di sini terbayar lunas saat tiba di sini. Gak kebayang deh kalau pesepeda masih dikenakan tarif masuk. Bisa pada banting sepeda tuh kita..😀.

Bike Gladiator😀
Bike Gladiator😀
Sepeda bisa leyeh-leyeh setelah disiksa ditanjakannya
Sepeda bisa leyeh-leyeh setelah disiksa ditanjakannya

Tebing Breksi memang terlihat menakjubkan. Bayangkan jika bukit dihadapan anda terpotong oleh cangkul raksasa yang sangat tajam. Irisannya akan membuka lapisan batuan yang berada di bawah permukaan tanah. Konon lapisan batuannya terbentuk sedari jutaan tahun yang lampau. Untuk menarik lebih banyak pengunjung. Tebing Breksinya sudah dipercantik dengan tiang-tiang berornamen di sisi atas tebing. Dan ada arena pertunjukan di sisi tebing dengan tempat duduk panjang melingkari arena yang berada lebih rendah dari posisi penonton. Jika di lihat dari atas, mirip sekali dengan arena teatrikal gladiator romawi kuno yang sering terlihat di film – film Hollywood. Di sebelah atas lagi berdekatan dengan area parkir roda empat disediakan tempat istirahat yang diberi atap untuk berteduh dari sengatan mentari yang bener-bener panas di lokasi ini. Plus dengan warung penjual makanan dan minumannya. Dan jangan khawatir buat pengunjung goweser di sana juga sudah di bangun tempat memarkirkan sepeda juga yang terpisah dari parkiran kendaraan bermotor. Keren yak lokasi wisata juga menyokong gerakan hidup sehat para goweser maniak nanjak di jogja.

Saat saya datang menjelang siang itu tebing Breksi sudah ramai. Ada pengunjung yang sepertinya berasal dari satu sekolah yang sama sedang berlatih meneriakkan yel-yel sekolahnya. Sebagian lagi lainnya sibuk berswafoto di bawah tebing. Kabarnya sih saat matahari terbenam pemandangan di tebing Breksi indah banget. Gak apa-apa kali ini menikmati apa yang ada dulu yang sudah demikian mengagumkan. Next time mungkin saya perlu berkunjung lagi khusus untuk menyaksikan matahari terbenam di sini.

Dari tebing Breksi sudah hampir pukul sebelas siang. Balik ke arah kota otomatis sepeda tidak perlu dikayuh. Tinggal ikut gravitasi saja. Ternyata gowes di turunan ekstrem bukan berarti segalanya jadi enak. Turunan curam beraspal bagus ternyata bisa membuat kecepatan bisa mencapai 80 km/jam. Luar biasa, terpaksa tetap harus waspada pada kendaraan yang melintas dari depan kita dengan jari yang tak pernah lepas dari tuas rem. Satu jam dipakai buat nanjak turunnya hanya butuh lima menit. Ckckck. Kok.ya ada yang suka menyia-nyiakan waktunya dengan gowes nanjak. 😀

Gowes arah balik ke kota jogja matahari sudah hampir di atas ubun-ubun. Tetap memilih jalan raya utama dari Prambanan ke Jogja, saya gowes sambil lihat-lihat di mana ada masjid yang saya bisa parkirkan sepeda dan tunaikan ibadah sholat jumat. Saat sedang mencari menara masjid, saya melihat lagi tuh bangunan batu berundak seperti yang saya lihat di perjalanan ke Prambanan paginya. Kali ini terlihat lebih dekat dan lebih tinggi. Wah..termyata candinya berada dekat dengan jalan raya Solo-Jogja. Sayapun langsung membelokkan sepeda saya masuk ke area candi.

Akhirnya bisa juga sepeda berdekat-dekat narsis di depan candi
Akhirnya bisa juga sepeda berdekat-dekat narsis di depan candi

Tenyata candi yang bikin saya penasaran itu adalah candi Kalasan. Letaknya di pinggir jalan utama. Tapi sepertinya tidak terlalu ketat pengawasan pengunjungnya. Saat saya datang tidak ada satpam yang berjaga. Pintu gerbang masuk candi tidak dikunci. Azeek akhirnya si sepeda bisa narsis narsis di dekat candi. Saya mah apa atuh. Cuma tukang foto doang 😀. Saat saya datang hanya ada pengunjung sekeluarga yang datang menggunakan mobil. Mungkin karena bukan hari libur dan menjelang waktu sholat jumat jadinya tidak ada penjaga dan gak banyak terlihat pengunjung yang datang.

Selesai melihat-lihat candi Kalasan. Saya langsung ngebut cari masjid terdekat. Alhamdulillah dekat situ saya temukan masjid kampung yang cukup besar. Saya merapat ke pagar masjid untuk memarkirkan sepeda lalu bebersih badan untuk persiapan sholat jumat.

Mendung menggelayuti kota jogja saat sholat jumat selesai. Gak pake lama saya kebut kembali sepeda di jalan Solo-Jogja supaya bisa sampai di tempat serah terima sepeda di bandara Adi Sucipto sebelum hujan deras mengguyur. Mendung tebal makin menggelayut di langit. tapi Alhamdulillah saya bisa tiba di Adi sucipto dan langit masih belum mengguyurkan hujan. Langsung sepeda saya parkirkan kembali di tempat semula mas wahyu Soliter MTB Jogja meletakkan sepeda.

Makan siang, istirahat dan ketemuan dengan mas Wahyu Soliter MTB sambil bicara ngalor ngidul tentang dunia gowes dengan trek-trek yang menarik, indah sekaligus menantang di Jogja. Bahasan yang bikin saya ngeces nih. Asli jadi pengen lagj gowes di jogja dengan rute-rute menarik lain seperti Borobudur, Merapi ataupun parangtritis. Semoga saja ada jadwal yang cocok dan teman gowes yang berminat…siapa tahu.

Obrolan kami terpaksa harus diakhiri karena mas Wahyu sudah ada keperluan lainnya. Kamipun saling berpamitan sembari berharap lain waktu bisa bersua kembali masih dengan acara bersepeda. Lalu akhirnya sayapun melanjutkan perjalanan saya menuju desa almarhum bapak di daerah Bantul. Benar-benar cara baru berwisata di Jogja. Karena Jogja pernah terkenal sebagai kota sepeda, ya harus berkeliling dengan sepeda dong. Jadi ayo rencanakan gowes wisata di jogja.