Musim hujan sepedaan di pulau ubin. Gak becek dong? haha..anda salah. Tetap becek. Karena pulau ubin ini bukan berarti berlantai ubin. Di sebut demikian karena dahulu banyak terdapat pertambangan granit untuk membuat ubin di pulau ini.

Sabtu 21 januari kemarin kami berenam gowes ke pulau yang berada di timur laut singapura ini. Saya, om yogi, om sugie, om nurhadi bersama dua orang teman philipino bertekad menaklukkan jalur sepeda gunung Ketam Bike Trail yang berada di pulau ubin.

Memang di dalam pulau seluas 10km persegi ini. Selain berwana wisata menikmati keanekaragam hayati hutan yang selalu terjaga. Pengunjung juga dapat menyewa sepeda berbagai jenis untuk mengelilingi pulau ini. Malah ada satu kawasan yang sengaja dibuat mengikuti standar kejuaraan MTB Internasional untuk dijadikan lintasan sepeda off road. Lintasan bersepeda extrem sepanjang 10 km ini selalu menjadi tujuan penggemar sepeda off road di singapura. Selain di pulau ubin ini, ada pula lintasan off road buatan lainnya seperti Bukit Timah di tengah kota singapura.

Cukup deh perkenalan tentang pulau ubinnya. Kita kembali ke laptop. Kami berenam sudah mulai berkumpul sejak pukul 7 pagi di bedok reaervoir. Setelah semua berkumpul gak banyak acara lagi pukul 7.30 kami mulai gowes 10 km ke tempat penyeberangan kapal ke pulau ubin di Changi Village. Kami gowes santai melalui jalan raya singapura yang masih belum padat di sabtu pagi itu. Sepanjang perjalanan kami sering sekali disalip oleh rombongan pesepeda road bike. Saat weekend pagi memang selalu menjadi agenda rutin komunitas road bike untuk bersepeda. Kadang rute yang mereka ambil panjang-panjang, seperti keliling pulau singapura, hebat ya. Kita mah apa atuh, cukup keliling pulau ubin saja yang penting bahagia. 😀.


Tiga puluh menit kemudian kami pun sampai di changi villagi. Hari masih pagi pukul 8 tapi lokasi ini sudah ramai oleh pesepeda dan pengunjung lain. Changi village memang menjadi salah satu lokasi ‘bike rest’ favorit bagi penghobi sepeda di singapura. Letaknya yang di ujung timur pulau cocok jadi pilihan beristirahat, ditambah lagi di sini terdapat ‘food court’ yang menyediakan sarapan khas lokal bercita rasa melayu, india, dan cina, cucok lah jadinya.



Changi Village Food Court bike rest point.
Changi Village Food Court bike rest point.

dsc_0169

Kamipun sarapan dahulu di ‘food court’ changi village ini. Saya pilih nasi lemak ikan bilis ditemani teh manis dua gelas sebagai pengisi perut sebelum menyeberang ke pulau ubin. Setelah semua selesai sarapan, ngobrol ngalor ngidul sebentar sambil melihat-lihat sepeda-sepeda bagus yang hilir mudik didepan meja kami. Akhirnya ‘with the power of nasi lemak’ kami pun siap memulai petualangan hari ini.

Karena ada banyak frekuensi penyebrangan ke pulau ubin kami tidak perlu menunggu lama untuk menyeberang. Asalkan ada kira-kira lebih dari 6 orang penumpang. Kapal boat kayu yang melayani penyebrangan ke pulau ubin dapat segera berangkat. Ongkosnya 3 dollar perpenumpang sekali jalan. Jika membawa sepeda kena tambahan 2 dollar untuk sepedanya. Tidak sampai 15 menit kemudian kapal boat kami merapat di pulau ubin. Yess cuaca pagi ini sangat cerah, ini yang kami harapkan agar treknya tetap kering dan aman.

Penyebrangan kapal changi village. 6 sepeda pun bisa dibawa masuk kapal.
Penyebrangan kapal changi village. 6 sepeda pun bisa dibawa masuk kapal.
Serasa pulang kamling yak 😁
Serasa pulang kampong yak 😁
dsc_0243
Pantai pulau ubin. Coba temukan ubin di foto ini 😀.

dsc_0182
Jam 9 pagi-an suasana di pulau ini belum terlalu ramai. Sepeda-sepeda sewaan masih rapi berjejer didepan kios rental sepeda. Termasuk murah loh berkeliling pulau dengan menggunakan sepeda. Hanya dengan tarif sewa mulai dari 10 dollar kita dapat puas berkeliling pulau secapeknya. Bagaimana dengan jalanannya? Jalanannya aspal mulus dengan pohon-pohon rimbun dipinggirnya. Kita juga bisa bersepeda menyusuri pantai atau dapat pula hiking ke lokasi-lokasi menarik di dalam hutan dan bukit di pulau ini setelah memarkirkan sepeda kita di parkiran yang tersedia.

Segala merek dan tipe sepeda ada di sewakan disini.
Segala merek dan tipe sepeda ada di sewakan disini.
Jalanan yang sudah aspal keras
Jalanan yang sudah aspal keras.
Mendapat sambutan hangat dari 'penonton' sepanjang jalan ini 😀
Mendapat sambutan hangat dari ‘penonton’ sepanjang jalan ini 😀

Kami sendiri memilih untuk terus mengayuh sepeda kami hingga ke lokasi “Ketam Bike Park”. Sempat terkaget-kaget saat di perjalanan ada segerombolan monyet-monyet berada di tengah jalan yang kami lewati. Tidak mau menyia-nyiakan momen ini saya pun mengeluarkan kamera phone dari tas untuk mengambil gambar monyet-monyet menonton para pesepeda ini. Syukurlah monyet-monyet ini tidak mengganggu kami atau menarik-narik tas dan hape yang sedang saya pegang. Selain monyet, pulau ini juga ada banyak anjing-anjing liar. Nah sebenarnya sama seperti hewan yang lain, pada dasarnya mereka tidak akan mengganggu manusia terkecuali insting hewani mereka mencium gelagat tidak normal dari manusia didekatnya. Mungkin dulu karena paniknya saat melihat anjing-anjing liar ini, ada teman yang justu gowesnya kesetanan saat melihat penampakan si anjing tersebut. Akhirmya malah terjadi kejar-kejaran deh seperti di film CHIPS itu 😀. Untungnya si anjing juga cuma gertak sambel (eh anjing kok doyan sambel ya?). Jadinya aksi kejar-kejaran hanya berlangsung satu episode saja waktu itu. Hehehe.

Ketam MTB park. Lintasan awal dengan ilalang dan rimbun pohonnya.
Ketam MTB park. Lintasan awal dengan ilalang dan rimbun pohonnya.

dsc_0209
Kami pun sampai di titik awal ketam bike park. Pemandangannya cakep banget. Kami berada di atas bukit yang nun di bawah sana kami bisa melihat danau jernih yang luas. Tenang sekali suasana di sini. Kami pun memulai persiapan. Sadel diturunkan, tekanan ban dikurangkan. Tujuannya sih ikutan teori para pakar gowes agar manuver di turunan yang berpermukaan tanah sepeda tidak selip dan mudah dikendalikan. Tapi percaya deh, buat level kami itu mah sekadar teori. Aslinya ya nuntun-nuntun juga kalau ada trek yang ekstrem banget. Rumah sakit jauuh bro. Hehehe.

Colling down the engine. Danau yang tenang di bawah sana.
Colling down the engine. Dan danau yang tenang di bawah sana.
Memulai 'black diamond'. Setelah itu adalah rute didalam rimbunnya hutan
Memulai ‘black diamond’. Setelah itu adalah rute di dalam rimbunnya hutan

Petualangan 10 km pun di mulai. Treknya single trek naik dan turun dengan pinggiran jurang-jurang kecil bergantian di kanan dan kiri kami. Jika tidak melewati bibir jurang, akar-akar pohon dan batu-batu sudah menanti didepan kita untuk saya tuntun..wkwkwk. Pokoknya kalau gak yakin saya mah main aman aja dah. Yang paling ekstrem adalah 1km terakhir dari trek ini yang disebut dengan lintasan ‘double black diamond’ dengan beberapa drop tinggi dan turunan terjal berbatu-batu di titik finish ketam bike park ini. Istilahnya kalau gowesernya bisa melewati titik tersulit ini, bisa dibilang mereka sudah ‘khatam’ deh jalur off road di pulau ubin ini.

Kebanyakan trek harus melalui rintangan akar dan batu-batuan.
Kebanyakan trek harus melalui rintangan akar dan batu-batuan.

dsc_0223 dsc_0216 dsc_0215

Turunan 'double black diamond' penanda ujung dari Ketam Bike Park.
Turunan ‘double black diamond’ penanda ujung dari Ketam Bike Park.

Puas sekali dengan petualangan kali ini. Alhamdulillah cuacanya mendukung, foto-fotonya juga dapet, sepedaan nya tidak ada insiden. Kamipun menyebrang kembali ke singapura. Makan siang sebentar di changi village lalu cusss kami lanjut gowes pulang ke rumah masing-masing.