Di Indonesia dulu ada lagunya Ria Resti Fauzi yang judulnya “sepatu dari kulit rusa”. Nah di singapura ini ada martabak daging rusa yang terkenal juga loh (hehehe gak nyambung kan). Restoran india yang terkenal dengan menu martabak rusanya adalah Zam Zam restaurant. Letaknya persis di depan Masjid Sultan di dekatnya Bugis MRT.

Dari dulu sudah dengar kemasyuran martabak rusanya, dan pernah sekali mampir ke sini hanya berani pesan menu yang mainstream saja, martabak sapi..hehehe. Maklum lidahnya masih suka cari yang nyaman-nyaman saja. Eits tapi itu dulu. Sekarang lidah ini sudah berani mencoba meninggalkan zona nyamannya. Lalu berkelana rasalah saya sore ini.

Tiba di Zam Zam restaurant sudah petang, satu jam menjelang maghrib. Syukurlah meja di teras restauran masih ada yang kosong. Enak sekali bersantap sore ala alfresco sembari duduk santai dengan teman dan melihat-lihat turis yang lalu lalang mengunjungi mesjid sultan.

Bangunan Zam zam restaurant sendiri arsitektur tuanya sudah memberikan nuansa nostalgia singapura jaman dulu. Tapi walau dari luar berkesan bangunan tua. Ia masih kokoh dan terawat baik. Yang suka suasanan alfresco bisa memilih duduk di teras depan. Dan yang suka suasana VIP bisa memilih naik ke lantai dua yang nyaman ber AC.

Restoran zam zam. Bangunannya sendiri sudah terlihat antik
Restoran zam zam. Bangunannya sendiri sudah terlihat antik

Makan di pinggir jalan ini memang asyik lah.
Makan di pinggir jalan ini memang asyik lah.
Masjid sultan persis di seberang jalan.
Masjid sultan persis di seberang jalan.

Saya yang datang dengan teman saat itu langsung pesan menu favorit di sana. Saya pesan martabak rusanya sedangkan teman saya masih selera mainstream: briyani kambing. Tidak sampai sepuluh menit pesanan kami sudah tiba di meja. Untuk briyani kambingnya saya belum coba. Karena saya mau fokus ke si rosa eh rusa. Fokus bro..fokus. Hehehe.

Martabak rusa. Sorry deer, I have to eat you
Martabak rusa. Sorry deer, I have to eat you

Kulit martabaknya digoreng dengan pas. Gak terlalu kering dan gak terlalu lembek. Rasa kulit martabaknya mirip dengan rasa kulit martabak telor bangka yang dijual di jakarta. Isi sayuran di dalamnya hanya bawang bombay, beda dengan isi martabak telor bangka yang sayuran di dalamnya ada daun bawang, bawang putih dan bawang bombay yang kemudian dikocok bersama tambahan telor bebek sebelum digoreng di atas adonan kulit martabaknya. Sedangkan martabak rusa ini di goreng dengan telor ayam yang sudah dipecahkan lalu di siramkan ke atas adonan martabak yang sudah digoreng lebih dulu dengan campuran bawang bombay dan cincangan daging rusa. Bagaimana rasa daging rusanya? Hmm. rasa dagingnya lebih krispi dibanding daging sapi. Digigit langsung lumer di mulut. Apalagi makannya dicocol dengan kuah kari kambing yang disajikan dalam piring terpisah.

Pokoknya enak lah. Gak rugi mencobanya walau harga martabak rusa yang porsi kecil itu 10 dollar. Hampir 2 kali lipat dari martabak ayam yang hanya 6 dollar. Tapi okelah karena satu porsi kecil saya pikir cukup untuk makan bersama dua orang. Rasa dan suasana yang sepadan dengan harga yang dibayarkan. Karena bisa menikmati sore di depan masjid sultan yang indah ini.