Di jabodetabek sependek pengetahuan saya, hanya ada 3 lokasi dimana kita bisa melihat rusa bertanduk dari dekat.  Satu ada di bonbin ragunan, yg kedua di istana negara bogor, satu lagi ada di penangkaran rusa Cariu. Nah yg di cariu saya belum pernah nih. Jadi kepo deh mau ke sana.

Hari kedua 2017,  mumpung masih libur, saya bulatkan niat pergi ke sana. Tapi dengan sepeda, karena hasil cek jarak di google hanya sekitar 42km ke penangkaran rusa cariu. Ok lah buat dengkul saya.

Keluar rumah telat sekali karena ini itu keperluan sepeda belum disiapkan, plus menghabiskan sarapan yg sudah di siapkan. Akhirnya 6.45 gowes baru bisa dimulai.

Pagi itu walaupun masih libur cuti bersama, jalanan arah ke cianjur sudah telihat padat. Gak seperti pagi hari libur lainnya. Ini pasti imbas dari ditutupnya tol cipularang utk kendaraan2 besar setelah bergesernya jembatan cisomang. Jadinya semua bis dan truk2 memilih jalur cianjur jonggol cibubur sbg alternatifnya.

Walau tidak nyaman dan harus bersaing jalur dengan kendaraan2 besar. Dibuat enjoy aja dan tetap waspada di atas sadel si patrol. Saat istirahat di indomaret daerah mengker. Sempat bertemu dengan 3 remaja yg akan gowes dari munjul jakarta timur ke cianjur. Awalnya saya sepakat utk gowes bareng mereka hingga tujuan saya di cariu. Tapi aduhai ini jantung jadi dredeg was was saat ada di belakang mereka,  terlihat cara gowesnya yg zig zag hingga ke tengah. Ngeri nih kalau ngikutin mereka terus. Akhirnya saya putuskan utk gowes solo dan meninggalkan mereka dengan kebahagiaan usia muda nya.

Dari cileungsi hingga lokasi penangkaran rusa cariu ada sekitar 40an km lah. Dgn jalanan yg naik perlahan hingga 200 m dpl. Pemandangan selepas pasar jonggol di dominasi oleh persawahan hijau dan pegunungan jonggol disisi kanan dan pengunungan sanggabuana di sisi kiri. Segar mata ini, lepas semua kepenatan hidup di kota besar saat melewati pemandangan seperti ini.

Setelah gowes 3 jam-an. Sampai lah saya di penangkaran rusa. Lokasinya di sebelah kiri jalan. Persis setelah belokan jalan yg menurun tajam. Tapi jgn khawatir terlewati, 2 km sebelum lokasi akan ada plang petunjuk arah dan jarak ke lokasi ini.
Dari jalan raya untuk menuju lokasi saya sempat gak yakin akan melanjutkan atau tidaknya hingga ke gerbang loket. Masalahnya jalan masuknya yg menurun tajam berbatu2 bikin saya khawatir ini baliknya bakalan menyiksa dengkul banget karena berbatuan terjalnya. Ditambah lagi saya lihat banyak juga pengunjung yg memilih berjalam kaki dan meninggalkan kendaraannya di tepi jalan raya. Kadung sampai sini, dan malu sama emak2 dan mbak2 yg dgn pedenya naik motor turun ke lokasi. Akhirnya saya pun ikut gowes off road turun ke bawah.

200m menurun dari tepi jalan raya. Saya sampai di lokasi parkir.  Gerbang loket berada tepat sebelum jembatan bambu yg melintasi sungai besar berbatu-batu. Alhamdulillah sepeda boleh saya bawa masuk hingga ke dalam dengan membayar tiket masuk 10rb. Tarif yg sama dgn pengunjung yg berjalan kaki.
Setelah melewati jembatan bambu ini. Barulah suasana wana wisatanya terasa. Lokasinya yg berada di sisi lembah yg tepat ditepi sungai dgn pepohonan besar dan rimbun membuat suasananya asri dan teduh. Di tepi sungai ada beberapa warung makan yg menyediakan menu makan ala sunda. Saya lihat beberapa keluarga dgn asyiknya bercengkrama di atas saung2 dan alas tikar yg disewakan sambil menunggu pesanan mereka siap di antar. Makan bersama dgn menu ikan bakar dibawah teduhnya pepohonan dan ditepi sungai yg bersih…jadi iri euy ke sini kok saya jomblo tanpa keluarga begini.

Dari jembatan dan warung2 ini lokasi penangkaran masih berjarak 300 m. Saya harus gowes melewati jalan setapak berbatu2 yg nanjak tipis. Beberapa berupa turunan berbatu2 yg di sisinya adalah jurang. Harus hati2 memang jika masuk ke sini dengan menaiki sepeda. Dan jangan lupa utk mengutamakan pengunjung lain yg berjalan kaki.

Setelah 300 m kemudian. Sampai lah saya di lokasi penangkaran rusa. Lokasinya berupa padang rumput luas ber bataskan pagar kawat. Di balik pagar kawat inilah rusa2 ditangkarkan. Penangkaran nya terlihat luas sekali dengan hutan rimbun di sebelah kanan dan belakangnya serta sungai besar di kirinya. Di luar kandang penangkaran ini juga ada warung2 makan dan tempat bermain anak2. Perhutani yg mengelola wana wisata ini tampaknya sudah serius ingin membuat kawasan ini sebagai tujuan wisata keluarga.

Saya parkirkan sepeda di dekat pintu masuk kandangnya. Untung saya bawa gembok sepeda, jadi bisa dengan tenang masuk ke dalam kandang penangkaran dengan sepeda terkunci dgn aman.
Untuk melihat rusa yg berada di dalam. Saya harus naik ke anjungan pandang selepas memasuki pintu penangkaran. Di ujung anjungan pandang sepanjang 25 m ini terdapat sebuah gardu pandang. Kita dapat melihat rusa2 yg hidup berkeliaran di area penangkaran. Kalau pengunjung berani untuk berdekatan menyentuh rusa2 tersebut. Bisa turun dari gardu pandang ini dan mendekati rusa di bawahnya.

Kebanyakan pengunjung yg berani utk turun adalah anak2 muda dgn membawa pakan singkong buat makanan rusa. Saya juga penasaran lah utk melihat dan menyentuh rusa2 di sini. Mumpung sudah di sini, ayo sikaat, eh ayo elus2 rusanya. Hehehe.

Siang itu saya lihat ada sekitar 5 ekor rusa di dekat kami. Kata jagawana di sana..sebenarnya ada banyak rusanya. Cara terbaik utk melihat rusa2 di sini keluar adalah saat pagi hari dan sore hari saatnya memberi pakan si rusa. Kata si bapak bahkan jam 6 pagi pun sudah ada pengunjung yg datang utk melihat. Wow..jam bukanya pagi sekali yak..dan ada saja yg bela2in datang sepagi itu.  jangan2 mereka pengunjung yg habis bermalam kemping di sana.
Puas melihat rusa2 yg ada. Saya pun beranjak pulang. Tetap harus hati2 karena jalan setapak yg berbatu2. Kebanyakan masih bisa di gowes pakai MTB sih. Tapi ada beberapa yg karena turunan berbatu curam. Gak pake malu saya tuntun aja si eneng eh si sepeda..

Tingkat keterjalan jalanan masuk ke parkiran terbukti agak susah buat kendaraan ber tipe sedan. Walaupun bukan tak mungkin dilewati asalkan pandai memilih bagian jalan yg lebih rata. Saya melihat ada satu sedan yg terperosok ke dalam selokan tepi jalan menanjak arah ke jalan raya. Kasihan sih pengemudinya. Sudah coba di injak gas dan dibantu dorongan masih belum bisa naik juga. Satu2nya cara ya di tarik ke atas oleh mobil lain. Dari pada nanti sepeda saya diminta buat narik mobil yg malang itu, hehe…ya sudah lah saya lanjutkan gowes ke atas. Tampaknya si bapak juga sudah mulai minta pertolongan ke pemgendara2 mobil lain yg ada di dekatnya.

Masuk kembali ke jalan raya. Saya gowes nanjak sedikit hingga puncak cariu arah ke jonggol. Selepas itu praktis jalanannya terus menurun hingga selepas pasar cariu. Gowes pulang jadi terasa lebih ringan karena sedikit tanjakan yg dihadapi. Sekali istirahat panjang utk Ishoma di mesjid hijau cariu dan kerap kali istirahat pendek utk mendinginkan dengkul dan kerongkongan yg dahaga. Akhirnya persis saat adzan ashar saya tiba di rumah dengan selamat. Alhamdulillah.