Sudah menjelang akhir tahun. Kepikiran terus untuk cari pengalaman gowes yang berkesan di 2016 ini. Akhirnya ketemu ide utk gowes ke pulau Bintan. Yak, pulau Bintan termasuk mudah dijangkau dari singapura tempat saya bekerja. Terletak 60km di tenggara singapura. Hanya butuh waktu satu jam menyebrang dengan kapal ferry. Akhirnya mnggu ke tiga desember lalu jadilah saya dan teman2 gowes ke Bintan.

Dalam sejarah gowes saya pertualangan di Bintan adalah yang terberat, terlama tapi paling berkesan. Terberat karena kontur jalannya yang 75 persen rolling naik dan turun. Strava kami mencatat capaian 1350 m elevasi gain. Kebanyakan jalannya naik turun bukit dengan rerata 50 m ketinggian tanjakan.  Terlama karena kami gowes dua hari berturut-turut dengan diselingi istirahat satu malam. Paling berkesan karena kami gowes di Bintan. Pulau destinasi wisata Indonesia tercintah :-D,  alam yang asri, jalanan yang masih sepi, tapi dengan teman-teman yang selalu bikin ramai.

Sebelum cek in di Tanah Merah Ferry terminal.

Mendarat di Pelabuhan Bintan Belani

Saat Bintan saya ajukan sebagai  tujuan gowes akhir tahun ke teman-teman gowes Indonesia saya. Gayung pun bersambut, serempak teman-teman menyambut dengan antusias.  Ada 8 orang goweser akhirnya yang akan berangkat.  Enam orang dari Indonesia : saya, Nurhadi, Sugi, Nandha, Havas, Yogi, dan 2 orang Filipino Darius dan Sonny. Peserta sebanyak ini dengan membawa sepeda untuk menyebrang ke Bintan membuat saya, yg dengan sukarela menjadikan diri ini sebagai EO harus sedikit melakukan survey kapal ferry mana yang memungkinkan. Saya putuskan untuk datang ke Tanah Merah ferry terminal, disana baru saya tahu jika untuk menuju Bintan dengan grup sepeda yang banyak sebaiknya ambil ferry tujuan pelabuhan Bandar Bintan Belani di Bintan resort. Dalam satu ferry bisa memuat hingga 50 sepeda. Dengan tambahan biaya 10 dollar persepeda. Satu lagi tujuan ferry ke Bintan bisa merapat di pelabuhan Tanjung Pinang. Tiketnya lebih murah, tapi jumlah sepeda yang boleh masuk ke atas ferry maksimal 3-5 sepeda, bahkan kadang ada jadwal ferry yg tidak membolehkan membawa sepeda.

Jadwal ferry dan pelabuhan tujuan sudah saya dapatkan. Lalu saya mulai cari-cari lokasi yang menarik di Bintan yang banyak didatangi wisatawan lokal. Muncul lah pantai Trikora untuk dijadikan tujuan gowes kami. Untuk penginapan cukup mudah didapat melalui aplikasi Agoda. Saya memilih Bintan Laguna Restaurant dan Resort sebagai tempat bermalam kami karena murahnya dan eksotisnya lokasi penginapan yang berada di atas pantai. Setelah pelabuhan tujuan dan tempat menginap sudah kami sepakati dan dibayar. Tinggalah kami menunggu hari  H nya gowes di Bintan ini. Jika dari aplikasi google map terlihat rute yg akan kami gowes sepanjang 66 km sejak dari pelabuhan hingga penginapan kami di pantai Trikora.

Hari H tiba, kami berdelapan  sepakat untuk berkumpul di tanah merah ferry terminal sebelum pukul 7 pagi, karena jadwal check in sepeda di counter paling lambat jam 7.10. Tepat selepas sholat shubuh saya pacu sepeda saya dari apartment menuju ferry terminal.  Cukup 30 menit saya gowes di jalan yang masih gelap dan sepi di awal weekend itu, dan ternyata saya tiba lebih awal di sana. Selang 15 menit kemudian semua peserta sudah tiba. Sebelum sepeda kami cek in ke kounter, semua bawaan sepeda yg berharga maupun yang mudah lepas kami tanggalkan dari sepeda. Tak lupa beberapa teman yg sangat sayang dengan sepedanya melilitkan plastik pelindung ke frame sepeda mereka untuk memastikan si tersayang nyaman dalam perjalanan di atas ferry nanti eaaa.

Singapura ke Bintan dengan ferry besar yang kami naiki ditempuh dalam satu jam saja. Jam 8.10 ferry mulai angkat jangkar untuk menyeberangi  selat singapura.  Setelah kapal ferry sandar jam 8.10 WIB kami dapat melewati imigrasi tanpa antrian yg panjang karena passport RI kami. Setelah itu kami lihat sepeda2 kami sudah ada di tempat pengambilan bagasi. Sedikit pengecekan dan pemasangan kembali aksesoris2 yg tadi kami lepas, kami kemudian keluar pelabuhan bintan untuk bertemu dengan teman dari rekan kami yang akan menjadi guide gowes Bintan ini. Kenalan baru kami ini om Chaerul memang sudah lama bekerja di bintan dan tahu mengenai jalanan setempat serta rekomendasi tempat beristirahat kami di perjalanan nanti.  Setelah cukup berkenalan mulailah kami berdelapan gowes Tour de Bintan ini dgn om chaerul mengawal dari atas kendaraan.

Jam 9.WIB saatnya gowes dimulai keluar dari pelabuhan, 2km awal jalanan masih berkontur datar dan mulus dengan gerbang masuk beberapa resort di kiri kami. Selepas pertigaan pertama kami lalu belok kanan mulai lah terlihat tantangan bintan yg sebenarnya. Jalannya memang aspal kelas satu, tapi insinyurnya kelihatan malas sekali memapras bukit nampaknya, karena jalannya didesain naik dan turun tidak mengitari bukit wkwkwk. Jantung mulai berdetak keras dan cepat dari lokasi ini , mulai sering bertanya ke guide kami om Chaerul berapa lagi nih kita melewati jalanan rolling seperti ini. Om Chaerulnya sih menjawab santai :Cuma 10 km aja kok rollingnya nanti setelah keluar dari Lagoi juga jalanan akan datar lagi. Sebuah kata2 yg indah didengar namun ternyata pahit dirasa sodara..sodara. wkwkwk. Karena nyatanya tidaklah seperti itu.

Pemandangan selepas pelabuhan bintan.

Sarapan pagi di perempatan lagoi.

Setelah 12 km gowes rolling naik dan turun dengan kanan kiri hutan pepohonon tinggi sampailah kami ke peradaban manusia dgn jalanan datar. Kekeke. Oh ya. Sepertinya kawasan lagoi yg baru saja kami lewati ini dijadikan konservasi orang hutan pulau Bintan oleh pemerintah. Ini terlihat dari papan petunjuk dan patung besar orang hutan ditepi jalan yg tadi kami lalui (patungnya malah mirip king kong saking besarnya :’d).

Keluar dari kawasan konservasi dan resort Lagoi ini ada perempatan besar. Kami melewati gerbang yang dijaga oleh beberapa petugas keamanan, kami sih tidak ditarik retribusi tiket masuk, entah kalau kendaraan pribadi dan umum. Gak sempat tanya2..karena kami fokus untuk mencari tempat istirahat sekaligus isi perut kami yg sudah lapar karena belum sarapan besar sejak dari singapura. Seratus meter dari perempatan ini kami berhenti untuk sarapan . Ada warung bakso , gado-gado dan lontong sayur di situ. Kok makanannya seperti  yang ada di pulau Jawa yak ? ternyata oh ternyata..para pedagang makanan dan warung makan di sini memang banyak warga yg berasal dari jawa. Hehehe..akhirnya banyak dari kami yg bisa nostalgia dan berbahasa jawa dengan ibu2 penjualnya. wkwk.  Saya pesan lontong sayur plus telur dengan minuman teh manis hangat cukup keluar dua puluh ribu saja, sungguh harga yg sangat bersahabat buat goweser.

Nikmatnya sarapan sederhana di Lagoi membuat kami bersemangat lagi utk melanjutkan petualangan ini.  Selepas perempatan Lagoi ini kami lurus saja terus mengarah ke pantai Trikora, kami melewati tipikal kota kecamatan di Indonesia. Sekolahan, kantor kepala desa, toko kelontong dan rumah-rumah penduduk yang yang sudah dibangun permanen. Sepanjang jalan anak2 kecil selalu bersorak dan melambaikan tangan dengan ramah kepada kami, dah macam selebrity aja nih. :-D.

Saat masih melewati pemukiman penduduk tadi tak terasa jalanan sudah rolling naik turun sebenarnya, namun karena perhatian saya terpecah utk menikmati suasanan kota kecil di Bintan ini membuat jalanan terasa nikmat saja utk dilibas. Tapi ketika pemukiman penduduk sudah mulai menghilang dari sisi jalan, baru terasa bahwa jalanan Bintan ini tak banyak kendaraan yg melalui dan tanjakannya aduhai sekali deh.

Ada batuan besar di tepi jalan. Langsung buat lokasi foto deh.
Sepuluh KM dari istirahat pertama, jalanan masih naik turun tiada bosan. Mana terik mentari siang keras sekali menampar wajah2 kami. Saking panasnya kami sempat beristirahat di bawah atap warung yg sedang tutup hari itu utk sekedar mendinginkan dengkul dan melepas dahaga. Sebentar saja kami lalu lanjut lagi menuju tempat makan siang kami.

Sekitar pukul 1 siang kami berhenti di sebuah rumah makan besar yg ternyata itu satu2nya yg bisa kami dapati sepanjang perjalanan hari itu. Rumah makannya bersih, tampaknya jadi pilihan istirahat bagi pengemudi lintas bintan juga. Terlihat dari mobil yang silih berganti mampir ke situ utk istirahat dan makan. Kami memesan soto ayam dan bakso utk makan siang kami hari itu. Baksonya enak, mungkin karena pemiliknya asli klaten jadi citarasanya cocok dengan lidah jawa kami. Setelah cukup Ishoma di warung tersebut kami lanjutkan perjalanan. Sempat ada masalah ban bocor di sepeda saya namun tak lebih dari setengah jam sepeda sudah beres kembali. Sepeda kami pun cuss meluncur kembali.

Ishoma di warung makan Kurnia Bintan. Soto dan baksonya belum terhidang.
Selepas warung tadi, jalanan cenderung bersahabat dengan dengkul kami. Lumayan meringankan beban kayuhan kami di bawah mentari yg terik siang itu. Tapi jalanan yg bersahabat mungkin sekitar 10 km saja. Karena setelah itu kami terus dihantam oleh tanjakan2 bintan yg gak henti2nya meledek kami yg sok2an ingin menaklukannya hehehe. Akhirnya sekitar setelah 6 jam kami gowes. Sepeda Havas mengalami trouble di gear belakangnya. Tidak bisa untuk  pindah gigi kecil yg ringan utk nanjak.  Setelah 30 menit coba kami perbaiki hasil masih belum memuaskan, shifting gigi kecil masih belum bisa dilakukan. Ini musibah buat dengkul havas. Karena artinya Havas harus gowes pakai gigi atas saat nanjak, pastinya itu dengkul akan jerit2 lah kalau dia bisa ngomong hehehe. Tapi kami tetap lanjut terus pantang mundur.

Ada beberapa jembatan besar yg kami lalui. Ini salah satunya.
Gowes rolling naik turun harus kami jalani sekitar 60 km sejak dari pelabuhan dan berakhir setelah jalanan bertemu dengan garis pantai Trikora. Yeayyy akhirnya kami sampai di Trikora. Tapi masih harus gowes lagi 12 km utk mencapai Bintan Laguna Restaurant dan resort tempat kami menginap. Sepanjang jalanan sisi kiri adalah pantai Trikora dengan resort2 kecil, losmen dan saung2 utk istirahat wisatawan. Di kanan jalan ramai pemukiman penduduk layaknya kota kecil pinggir pantai. Menjelang maghrib kami tiba di resort. Cek in, atur barang lalu kami semua mandi air segar di dalam kamar kami yg biasanya di sebut kelong oleh warga lokal. Dengan tarif 300rb double bed berkamar mandi dalam serta pemandangan laut dan pantai dari teras kelong kami. Sungguh harga yg layak utk ditebus.

Foto2 saat di Bintan Laguna Restaurant and Resort.
Selesai mandi, setelah kembali segar dan ganteng kami pun makan malam di resto resort dengan menu seafood yg maknyus. Makan enak, pengalaman seru dan teman2 yg asyik membuat malam itu kami semua seperti keluarga besar, akrab dan saling tukar cerita dan tawa. Benar2 malam yang menyenangkan, semua puas dengan perjuangan hari itu. Dan siap utk perjalanan balik esok harinya.

Pagi2 subuh saya terbangun oleh suara hujan di atas kelong kami. Mendung menyelimuti pantai membuat sunrise tidak bisa kami lihat. Beberapa dari kami tidak bisa tidur nyenyak karena suara debur ombak dibawah kelong. Tapi semua kembali segar setelah mandi dan kami pun bersegera utk sarapan di resto resort. Nasi goreng dan minuman panas yg dihidangkan pagi itu nikmat sekali rasanya. Ditambah teman baru kami seorang India yg dgn ramah saling bertukar cerita dengan membuat suasana menjadi bersemangat kembali di tengah hujan yg masih menetes rintik.

Foto keluarga di Bintan Laguna Resort.
Pukul 7.30 kami cek out dan memulai lagi petualangan kami. Masih melewati jalur yg sama dengan bukit2 yg sama. Tapi kali ini cuaca sangat teduh,  hujan sudah berhenti saat kami akan memulai gowesan awal. Kami jadi lebih bisa menikmati pemandangan sepanjang rute balik kali ini. Perkebunan sawit dan nanas di sepanjang perjalanan kami dan juga gunung Bintan di sisi kanan jalan kami membuat gowes hari kedua benar2 asyik. Ternyata jalanan dari pantai trikora ke lagoi cenderung lurus dan naik turun. Mirip dengan punggung naga yg di kartun2 itu.  Sehingga jika kita berada tepat di puncak tanjakan tertinggi, kita bisa melihat sejauh mata memandang jalan aspal mulus yg naik dan turun di bawah kita. Tak ada kendaraan lalu lalang hanya kebun2 sawit di kanan kirinya. Pemandangan yg travelogram sekali,  indah sekali melihatnya.

Foto2 sepanjang jalanan Bintan menuju ke pelabuhan Lagoi.

Foto keluarga di atas ferry menuju singapura.
Semangat sekali kita gowes hari kedua ini. Istirahat makan siang di warung makan yg sama dengan hari pertama. Kami bisa gowes lebih cepat hari itu karena matahari enggan bersinar terik. Benar2 semesta mendukung. Akhirnya kita tiba di pelabuhan lagoi Bintan pukul 2 siang setelah enam jam lebih menggowes, 2 jam lebih cepat dr hari pertama. Bahkan jadwal ferry pun masih bisa kami majukan lebih awal. Akhirnya setelah bebersih dan makan sore, jam 5.30 wib kami naik ke atas ferry untuk kembali ke singapura. Saya sendiri tiba di apartment kost kira2 jam 10 mlm waktu singapura. Sungguh bersyukur bisa menyelesaikan 2 hari petualangan ini tanpa masalah besar yang berarti, semua tiba dengan sehat, gembira dan menjadi lebih dekat satu sama lain. We’re becoming ‘band of brothers’. Semoga terus berlanjut utk gowes2 bareng selanjutnya.