Haha..judulnya turing si pant*t besi. Lha bagaimana pant*t gak terasa besi, ada kali 12 jam kami di atas sadel gowes keliling singapore. Acara gowes bareng ini sebenarnya sudah lama terlaksana di 23 Januari tahun ini namun bukan berarti sudah menghilang dari ingatan seiring hilangnya pegal-pegal dan linu di badan. Pengalaman yang sangat seru, seru karena dilakukan bersama para sahabat dan rekan-rekan sehobi.

Berawal dari kegagalan saya untuk mengikuti Tour de Pangandaran 2016 di minggu-minggu sebelumnya karena kesibukan kerjaan. Kaki rasanya gatal sekali ingin merasakan sensasi gowes jarak jauh ditambah lagi hati makin terkompori oleh postingan fb teman-teman di jakarta yang sukses masuk finish TDP 7 tahun ini. Karena terlanjur  terkompori kepalang panas maka jadi kompornya sajalah sekalian. Dua minggu sebelum pelaksanaan saya kompori teman-teman yang sering gowes bareng akhir pekan untuk menjajal petualangan baru bersepeda keliling negara. Eh ternyata kompornya meledugh ;’p..Ada 8 orang yang siap utk gabung. Jadilah kita mulai membuat rencana rute yang akan kita lewati di gowes keliling singapore ini.

Sabtu jam 7.30 kami berdelapan sudah siap kumpul di titik start bedok reservoir di timur singapore. Om Didi dan om Ridwan dengan selinya, satu road bikenya om Nandha, dan sisanya yaitu saya, om Gun, om Yogi, om Havas, om Telly dengan MTB sudah bersiap untuk start. Boleh dibilang nekad juga karena mayoritas dari kami belum pernah gowes di atas 50km apalagi mengelilingi suatu negara, lucunya, ada juga yang cerita jadi susah tidur malam sebelumnya karena saking excitednya:’d

Setelah berdoa bersama turing pun di mulai pukul 7.45 dengan mengarah ke ujung timur singapura lebih dahulu, melalui jalan-jalan yang tidak terlalu ramai karena masih pagi di awal weekend. Menjelang changi village, dimana memang lokasi tsb menjadi tempat favorit kumpul dan istirahatnya pesepeda singapore. Kami saling bertegur sapa dengan pengendara road bike. Setelah mereka tahu bahwa tujuan gowes kami pagi itu adalah keliling singapore, ucapan salut dan kalimat penyemangat dilontarkan oleh mereka benar-benar bikin motivasi kita jadi lebih jreeng lagi untuk menyelesaikan misi ini.


Dari changi village tanpa berhenti kita memasuki changi beach park. Gowes santai menyusuri pantai east coast dengan udara yang bersih, pesepeda dan pejogging lalu lalang dalam jalanan taman yang lurus dan mulus.  Setelah 1.5 jam gowes di east beach park ternyata sudah menunggu om Eko dengan selinya. Katanya sih mau menemani gowes sampai pusat kota saja, eh kok ternyata si om eko ini malah menikmati gowesannya hingga garis finish. Dari titik ini peserta bertambah menjadi 9 orang, yuhuu..makin rame makin asyik dong.


Setelah melewati marina bay sand dan clark quay distrik om Nandha merasak cidera lama di dengkulnya makin terasa sakit memang saat di east coast park om Nandha sempat berhenti untuk minta diolesi balsem kram. Akhirnya terpaksa setelah 40 km gowes bersama si Om minta maaf untuk tidak bisa lanjutkan misi. Yo wes setelah kita bantu beri pertolongan pertama untuk rasa sakit di dengkulnya om Nandha lalu memesan uber XL untuk loading balik ke rumah. Sampai sini agak down juga nih satu peserta mundur dalam misi karena cidera. Kuat tidak ya kami-kami ini untuk bersama-sama menuntaskan misi ini.

Misi tidak boleh gagal, kami terus gowes di tengah keramaian jalan raya pusat kota yang sudah dipenuhi aktivitas kendaraan. Kami tidak memilih jalur pedestrian yang sebenarnya lebih safety karena ingin mengejar target sebelum malam sudah sampai titik finish. Pit stop pertama di swalayan pom bensin area alexandra kami gunakan untuk mengisi bidon minum. Gerimis mulai turun sejak dari lokasi namun kami terus gowes hingga menemukan counter rodalink di daerah commonwealth yang saya gunakan untuk memperbaiki sepeda saya yang bermasalah di perpindahan giginya. Saat akan membayar biaya service yang resminya 60 dollar ternyata rodalink menggratiskannya setelah tahu kita dalam misi bersepeda keliling singapore. Wuhuii satu sepeda banyak gratisan ini namanya, thanks ya rodalink.


Setelah perbaikan sepeda saya selesai kami lanjut gowes menuju sisi barat singapore. Di Jurong satu lagi peserta mengundurkan diri. Om Ridwan yang memang baru mulai ikutan hobi gowes bahkan baru saja membeli selinya sebelum turing ini menyatakan belum sanggup untuk mengikuti hingga titik finish. Akhirnya bertujuh kami melanjutkan misi gowes ini.

Dari jurong sudah hampir pukul 12 siang, kami mulai mencari lokasi ishoma yang enak. Namun di singapore tidaklah mudah menemukan masjid besar di pingir jalan utama. Kami terus gowes hingga azan zuhur sudah lewat. Alhamdulillah tak lama setelah waktu dzuhur kami melewati masjid di pinggir jalan yang terletak di wilayah pemakaman kaum muslim singapore di jalan Bahar. Kami istirahat, sholat dan makan roti saja karena di dekat mesjid tidak ada yang menjual nasi dan lauknya.


Setelah cukup istirahat kami lanjut gowes, tapi disinilah mulai muncul di saya gejala-gejala kram paha. Ya memang jika terlalu lama istirahat dan kurang minum akan berakibat kram di paha. Namun itu bukan penghalang misi, oleskan saja krim otot saat gejala kram datang sambil paha diurut-urut maka kramnya akan hilang. Lanjut terus gowes dengan tekad membaja. Jalan Lim Chu Kang yang dilewati termasuk jalan yang sepi karena melewati daerah pemakaman dan rolling naik turun. Makan siang masih juga belum kami dapatkan, kami dihajar dengan tanjakan-tanjakan setelah trek Lim Chu Kang road sepi dan panjang. Setelah Kranji Dam kami sempat menepi cukup lama karena hujan deras datang mengguyur. Pukul 3 hujan mereda, masih dengan kondisi perut belum terisi makan siang kami terus mengayuh pedal mencari foodcourt halal yang ternyata sangat susah didapatkan sepanjang jalan selepas Kranji, Alhamdulillah setelah menggowes hampir setengah jam kami menemukan foodcourt halal di dalam stasiun MRT woodland, lahap sekali makan siang kali itu kala badan telah lebih dari 8 jam di atas sadel sepeda.


Dengan kondisi perut telah terisi karbo dan teh hangat mengguyur tenggorokan. Semangat macam terpompa kembali untuk menyelesaikan sisa gowesan hingga titik finish yang masih tersisa 50an km lagi dari 60 km yang telah kami tempuh. Walaupun selepas woodlands pedal kiri seli om Didi sudah terlihat miring karena beban kayuhan hari itu. Om Didi dan kami tetap dengan semangat melibas Yishun road lalu tanjakan-tanjakan panjang namun mulus pinggiran seletar airport. Kami sempat menepi mengisi bidon air di swalayan pompa bensin Hougang road. Selepas Hougang road matahari sudah menghilang di ufuk barat digantikan nyala lampu jalan raya. Lampu sepeda kami nyalakan dan kami terus kayuh pedal kami dengan lebih semangat karena tidak mau kehabisan maghrib di titik finish kami di rumah om Eko di sekitar bedok reservoir. Dan Alhamdulillah pukul 7.30 ba’da manghrib kami tiba di rumah om Eko yang sengaja telah menyiapkan soup kambing sebagai makan malam para  pemburu kayuhan ini. Setelah berdoa bersama mengucapkan syukur atas lindungan Allah selama perjalanan ini kami pun mandi, berganti pakaian, sholat maghrib yang kemudian ditutup dengan makan malam bersama dengan lauk sop kambing yang terasa sangat lezat malam itu. Sungguh perjalanan yang mengesankan sekaligus mengakrabkan jiwa kami. Terima kasih untuk semua rekan yang telah berpartisipasi. Tahun depan jangan kapok saya kompori lagi yak.; ‘p.