Kampung Inggris Kediri

Jika ada satu kampung di indonesia yang isinya dipenuhi orang indonesia yang semangat berbicara inggris dgn sesama Indonesia, maka kampung Inggris Pare lah tentunya. Kunjungan ke kampung ini tidaklah direncanakan sebelumnya. Karena anak kami yg sulung yg sedang homestay kursus inggris disana dirawat di rumah sakit setempat, maka saya menyegerakan berangkat ke Pare dengan pesawat.

Pare adalah satu kecamatan yg terletak dalam kabupaten kediri, berada 3.5 jam perjalanan ke arah barat dari bandara Juanda Sidoarjo. Perjalanan ke Pare akan melewati kota Mojokerto, Jombang dengan  kondisi jalan yg sudah cukup  baik dan lebar. Sepanjang jalan sebelum mojokerto akan banyak melewati kawasan industri. Namun selepas Jombang kendaraan harus melewati jalur alternatif yg lebih kecil tapi sepi dari bis-bis dan truk-truk besar, pemandangan sawah dan desa-desa seperti kebanyakan desa di jawa yg adem tentrem akan bisa kita dapatkan. Pesawat landing pukul 3 sore dilanjut dengan menggunakan minibus travel, saya tiba di Pare sekitar jam 6.15 petang.


Tujuan utama memanglah menjenguk dan menjaga anak kesayangan yg terbaring sakit. Namun seiring dengan membaiknya kondisi anak saya. Saya punya sedikit kesempatan untuk memenuhi rasa ingin tahu saya ttg kampung inggris Pare yg terkenal ini.

Sejarah kampung Inggris Pare bermula saat ada santri pesantren gontor asal kutai Kartanegara bapak Kalend Ossen yg belajar bahasa asing pada KH Ahmad Yazid di Pare. Kyai Yazid ini adl penterjemah kepercayaan mantan presiden suharto. Setelah tamat belajar bahasa inggris pak Kalend Ossen kemudian mulai lah menularkan ilmu bahasanya kepada murid-murid terbatasnya. Dari mulai satu lembaga kursus bahasa inggris di Pare pada akhir 70an. Kini sudah menjamur menjadi ratusan lembaga kursus dengan homestaynya di kampung ini. Selain sejarah di atas, konon ada juga cerita mistisnya, jreeeng….bahwa ada satu kyai kampung yg mampu membuat pengikutnya dapat berbicara inggris cap cip cus lancar dengan sekejab melalui perantaraan ilmu gaib. Tapi ya namanya juga cerita yg konon katanya. Ini mungkin hanya sekedar bumbu untuk meramaikan cerita tentang kampung inggris ini. Hehehe.



Kembali lagi ke topik eksplorasi kampung ini. Saya pagi dan sore hari berkesempatan untuk berkeliling di jalan Brawijaya sbg jalan utama kampung inggris dan gang2 sekitarnya. Ternyata memang benar kampung ini melulu isinya adalah rumah2 homestay utk menyelenggarakan kursus bahasa inggris dgn lama belajar yg telah ditentukan spt satu bulan, dua bulan atau lebih.. Kebanyakan yg tinggal di homestay ini adalah para remaja usia SMA yg berasal dari jawa, tapi luar Jawa pun ada, bahkan ada siswa yg berasal dari thailand dan malaysia yg khusus datang belajar bahasa inggris di sini.

Gambaran kehidupan sehari-hari di sini adl belajar bahasa, baik didalam homestay atau di halaman rumah homestaynya. Sehingga lazim  kita dapati muda mudi yg sedang bercakap-cakap dlm bahasa inggris di kawasan tsb. Lalu selain belajar bahasa apalagi yg mereka lakukan? Ya seperti muda-mudi lainnya dong. Pergi makan bersama, jalan-jalan sore dengan bersepeda bersama-sama. Yak..bersepeda memang menjadi moda transportasi utama di sini. Banyak tersedia rental sepeda di kawasan kampung ini. Murah saja dgn tarif 80 rb sebulan sepeda sudah bisa mereka bawa ke homestay dan di kayuh kemana mereka kuat.

Ada Paris di dekat kampung Inggris

Bagi yg pernah pergi ke Paris, mungkin tahu yg namanya Arc de Triomphe atau gerbang kejayaan. Di dekat kampung inggris pun ada lho kembaran Arc de Triomphe. Saya berniat utk mencari lokasi gerbang tsb setelah anak saya memberikan info intelejen kaum ngebolang hehehe,  bahwa ada bangunan di Kediri yg mirip dengan gerbang Paris yg terkenal itu.  Setelah googling utk mencari informasi terkini yg lebih akurat beserta arah google mapnya. Pada esok pagi harinya saya menyewa sepeda motor untuk menuju bangunan yg bikin penasaran ini.

‘Gerbang Paris’ ini ternyata di bangun sbg landmarknya simpang lima kota kediri. Aneh juga ya mengapa pemda setempat memilih membangun landmark kota yg bisa dibilang meniru landmark kota paris itu. Ini bisa jadi karena warganya sangat2 romantis kah seperti warga paris hehehe. Saya sampai berfikir jgn2 salah satu frame dlm film eiffel I’m in love lokasi shootingnya adl di kediri sini ? Wkwkwk nonton filmnya saja belum pernah sudah sok teu tea gini.


Anyway busway..patut diberi jempol atas tata ruang dan kebersihan di area simpang lima Paris rasa Kediri ini. Jalannya lebar, bersih, dan dipayungi pohon2 yg menyejukkan di pinggir jalan menuju ke gerbang Paris ini. Sayang saya berkunjung tidak di pagi akhir pekan.  Saya membayangkan pastinya akhir pekan pagi hari lokasi ini akan menjadi pusat aktivitas olahraga maupun mejeng warga kediri kota. Memang sepertinya ini bukan waktu tepat utk berlibur. Tapi saya memang selalu mencoba luangkan waktu untuk mengeksplorasi Indonesia cinta kita negeri kita. Indonesia Bagus!